Adakah Moralitas Dalam Politik?

Maret 4, 2008 at 9:10 am 1 komentar

Oleh :Abd.Malik

Politik seringkali dianggap sebagai hal yang negatif. Adanya pandangan minor terhadap politik ini karena politik seringkali ditafsiri dan digunakan semata-mata dalam konteks sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan dan kepentingan yang mengarah pada hal yang negatif, seperti penindasan, pembohongan, manipulasi dan monopoli. Padahal hakikat politik tidak seperti apa yang telah dipraktekkan saat ini. Politik hakikatnya, adalah sebagai sarana untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang adil makmur dan sejahtera.

Pemilu 2004 yang sebentar lagi digelar merupakan arena kompetisi politik paling bergengsi. Persaingan politik antara berbagai partai akan terjadi. pada kesempatan itu, Kalau masih saja politik ditafsiri dan digunakan sebagai alat untuk saling menguasai maka pemilu 2004 akan merupakan bencana bagi bangsa ini. Bukan sebagai penentuan arah baru bangsa Indonesia.

Selama ini cara dan pola yang digunakan oleh politikus kita masih sangat tidak dewasa. Rakyat tetap menjadi tumbal dari proses politik yang menguntungkan bagi politisi sendiri. Di Indonesia, pasca reformasi, paradigma perpolitikan yang digunakan hampir tidak ada perubahan dengan pola dan gaya politik Orba. Politik Machievellian yang seringkali memisahkan antara politik dengan moral tetap diberlakukan di negeri ini.

Dalam politik tidak ada kata moral dan etika. Rumus politik ini mengajukan premis bagaimana mengalahkan lawan dan mencari sekutu temporal untuk menjalankan sebuah kepentingan. Politik berarti menghalalkan segala cara untuk memenuhi kesuksesan politik. bahkan rakyat pun dikorbankan.

Teori politik Machievelli seperti tercermin dalam perkataannya ” rakyat harus memiliki kesan bahwa ia (sang politisi atau penguasa) saat orang melihat dan mendengarnya, memiliki sikap yang lembut (pieta) beriman (fede) dapat dipercaya (integrita), manusiawi (umanita) dan agamis (religione)”. Dalam politik Machievelian rakyat adalah orang sederhana yang hanya menilai dari penampilan dan gampang ditipu dan dibohongi.

Dalam optik rumus politik versi macheivelian ini, bahwa rakyat diposisikan sebagai obyek dari kebohongan politisi dan penguasa, adalah sangat ampuh untuk dipraktekkan pada Pemilu nanti. Politisi dan penguasa dihadapan rakyatnya harus mempunyai dua wajah. Di hadapan rakyat seorang Politisi (baca Jurkam) harus bisa meyakinkan bahwa dia berpihak pada yang lemah. Pengentasan kemiskinan, pembelaan terhadap yang lemah dan lain sebagainya adalah mantra politik paling canggih untuk memukau masyarakat awam.

Kalau prinsip ini masih tetap menjadi rumus politik dan masih mengakar kuat dalam benak politisi kita maka Pemilu tahun depan hanya akan menjadi media obral janji dari politik kebohongan. Seperti rumusan Machievelian, Rakyat hanya diposisikan sebagai orang sederhana yang posisinya selalu termakan bualan para politisi. Kalau dicermati, salah satu kunci dari teori politik Machievelli ini adalah pemisahan politik dengan moral. Atau justru Macheivelli yang berpihak pada kebenaran, memang betul bahwa politik harus tanpa moral ?

Adalah keyakinan macheivelli bahwa politisi yang ingin berhasil terkadang harus bertindak secara immoral dan sebaliknya politisi yang selalu bertindak dengan moral pasti akan gagal. Politik dalam konteks ini, bukan mempersoalkan baik dan buruk, namun politik hanya mempunyai orientasi kesuksesan.

Seperti telah dikatakan di awal bahwa politik akan berhadapan secara Vis a vis moral. Dalam konteks Pemilu yang akan datang kemenangan akan diraih oleh politisi yang mampu meyakinkan rakyat tentang kebesarannya. Kebohongan adalah keniscayaan dalam Pemilu.

Politik Moral Atau Moralisasi Politik

 

Memang posisi moral dalam politik sulit untuk dirumuskan. Kebohongan yang dalam rumusan moral secara normatif adalah buruk kadang merupakan satu tindakan yang harus dan mesti dilakukan. Demi kemaslahatan umum tindakan licik dan bohong adalah sah untuk dilaksanakan. Lantas apakah batasan moral dan etika dalam politik. atau haruskah politik tanpa moral?.Politik dan moral sudah seringkali dianggap sebagai dua entitas yang akan selalu kontradiktif. Maka salah satu kunci keberhasilan dalam politik adalah mengabaikan moral. Namun pernyataan inipun tidak seluruhnya dapat dibenarkan. Perlu diperhatikan bahwa krisis moneter yang berkepanjangan salah satu faktor paling dominan adalah karena para pemimpin dan politisi kita mengalami krisis moral. Moralitas politik, moralitas kebangsaan dari pemimpin kita sudah rapuh.

Kekuasaan dan keuntungan berada di atas segalanya. Alih-aih memikirkan rakya, untuk mengalahkan rival politiknya tidak jarang pula rakyat harus diadu, diprovokasi dan dikambinghitamkan. Melihat dan belajar dari pengalaman tersebut bagaimanapun moralitas dalam politik adalah perlu untuk diperhatikan. Kita tidak akan mengharapkan politisi kita bertindak amoral hanya demi kepentingan kekuasaan semata.

Moralitas dalam politik bukan moralisasi politik. kecenderungan semacam ini hanya akan memaksakan batasan moral yang noramtif dan kaku terhadap praktek politik yang dinamis dan ekskalatif.. Moralisasi politik cenderung menikam tindakan hanya dengan dua kata yang dikhotomik. Kalau tidak benar maka salah. Padahal burukpun kalau situasi menghendaki pastilah menjadi baik.

Moralitas dalam politik bisa dikatakan sebagai politik moral. Kecenderungan semacam ini berusaha untuk memaknai politik bukan pada kekuasaannya. Namun pada ruang kuasa makna dari politik itu sendiri. Kekuasaan bukan untuk menguasai namun untuk kepentingan rakyat dan kesejahteraan sosial. Namun mampukah rumusan ini bisa menjadi komitmen para politisi ?.

Dalam hal ini Hans Kung pernah merumuskan batasan moral dan etika dalam politik. Pertama, etika politik tidak menyiratkan sebuah pendirian doktriner yang tidak fleksibel, yang tidak membolehkan kompromi. Etika politik adalah norma kondisional yang memperhatikan situasi politik. Norma yang cenderung kaku adalah kontra produktif.

Kedua, Etika politik menyiratkan sebuah kewajiban dari hati nurani yang tidak difokuskan pada hal yang baik atau benar secara abstrak. Norma politik tentang baik dan benar hanya berlaku dalam situasi yang konkret. Di sinilah nilai universal dari etika dikompromikan dengan situsi politik yang sedang aktual. Bohong secara etika adalah salah. Namun demi terciptanya kesejahteraan suatu tatanan sosial maka bohong adalah hal absah untuk dilakukan. Moral dan etika politik bukan norma yang kaku.Sebagai satu panduan kerja praktis dalam norma politik Weber menambahkan etika di atas dengan apa yang disebut dengan etika tanggung jawab (ethic of responsibility). Weber menekankan hubungan antara etika tangung jawab (ethic of resposibility) dalam politik dengan etika kesuksesan (ethic of succes). Seorang politisi tidak hanya harus bersifat jujur ramah namun harus penuh tanggung jawab. Seorang politisi tidak hanya pintar bersilat lidah namun mampu mempertangung jawabkan tindakan dan omongannya.Politik moral adalah sebuah kewajiban dalam penyelenggaraan politik yang sehat. Politik moral bagaikan sebuah panduan dan manual tindakan bagi poltiisi. Penuh tanggung jawab, populis, adil dan jujur adalah etika dalam politik yang tetap harus dijungjung tinggi. Dalam konteks Pemilu 2004 semoga event tersebut tidak hanya dijadikan obralan janji-janji politik namun menjadi harapan-harapan dari politisi yang bisa dipertanggung jawabkan.

Entry filed under: Abd. Malik, Kliping, Politik. Tags: .

Menyikapi Hal Yang dianggap Benar Jihad Melawan Kuffar?

1 Komentar Add your own

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: