Menyempurnakan Agama ?

Maret 11, 2008 at 9:12 am Tinggalkan komentar

Oleh : Agus Hilman **

Sekalipun gagasan yang ditawarkan tiada hal yang baru, tulisan Hatim Gazali bertajuk “Agama Edisi Revisi” (MI, 11/04) sangat menguggah penulis untuk ikut memperbicangkannya. Bagi Hatim, agama saat ini sudah selayaknya direvisi, karena ia telah kehilangan fungsionalnya. Seraya mengutip pendapat pemikir Henderik Khraemer dan Malachi Martin, Hatim berkesimpulan bahwa zaman keberhasilan agama telah berakhir. Ini bisa dilihat dari agama sebagai tunggangan politik para penguasa dan fungsionarisnya serta kesenjangan antara das sein dan das sollen. Menurut Hatim, lahirnya fenomena tersebut karena agama ditempatkan sebagai sesuatu yang profan oleh masyarakat modern. Walaupun begitu, pada dasarnya saya sepakat dengan tawaran saudara Hatim Gazali, kendati ada beberapa hal yang masih problematis dan akan penulis diskusikan pada kesempatan ini. 

Harus diakui, bahwa agama memiliki andil besar dalam memajukan peradaban dunia. Agama menjadi semacam inspirator untuk mengkonstruk tatatan primordial peradaban; kedamaian, keadilan, kebebasan, dan kesejahteraan. Bahkan berawal dari agamalah ide-ide revluisoner, liberatif, dan humanis lahir. Jauh kebelakang, sejak kemunculannya, agama mendekonstruksi budaya feodalisme, tribalisme, chauvinisme, dan vandalisme yang merupakan bentuk keterbelakangan manusia .

Sayangnya, saudara Hatim Gazali terlalu keburu mengambil kesimpulan bahwa zaman keberhasilan agama telah berakhir. Sembari mengambil petuah Hendrik Khraemer dan Malachi Martin bahwa agama telah memasuki periode krisis, baik pada wilayah personal concern maupun communal community. Padahal, era ini merupakan titik balik dari argumen diatas. Agama mulai bangkit dan akan merefleksikan dirinya ke dalam jiwa zaman kemanusiaan. Sejarah membuktikan cita-cita materialisme manusia tak kuasa menggeser agama ke pinggiran. Usaha Jean Paul Sartre, Nietzsche, Karl Mark, dan para converso yang lain (istilah yang digunakan Karen Amstrong) tak terbukti. Manusia tidak mungkin mengalienasikan diri dari agama (spiritualitas). Ia adalah homo yang tegak di atas dua apitan alam, mitos dan logos (irrasional dan rasional). Bahkan, Harvey Cox menggambarkan zaman saat ini dengan kebangkitan agama dan kebangkitan dunia sakral (Syamsul Arifin, 2001).

Memang harus diakui bahwa agama acap menorehkan luka merah sejarah kemanuisaan. Terpaan arus logosentrisme dunia modern telah menggeser fungsi dan nilai agama. Agama berkelindan diatas altar sejarah manusia yang profan dan raionalistik. Sehingga agama berubah menjadi legitimasi kekuasaan dan kepentingan para fungsionarisnya. Agama digiriing dan diramu laiknya benda-benda profan yang lain. Akhirnya, pernyataan Hatim Gazali bahwa pemandangan jauhnya antara das sein dan das sollen agama tak dapat dielakkan. Cita suci ideal agama tampak seperti cita utopia yang kontras dengan realita faktualnya.

***

Melihat hal itu, ada dua hal yang tak terjamah dari pemikiran Hatim Gazali dalam memandang disfungsi agama saat ini. Pertama, dari segi doktrin. Kemandulan agama karena lembaran doktrin itu sendiri. Kekrisisan agama tidak an sich faktor polarisasi dan politisasi agama. Tidak mungkin agama menjadi legitimasi kebijakan tanpa ada dorongan tekstual doktriner agama.

Persetubuhan agama dengan kekuasaan memang senantiasa mengudang polemik yang tak jarang meminta tumbal. Kenyataan sejarah ini mendesak kita untuk melakukan upaya redoktrinasi atau bahkan dedoktrinasi kesatuan agama dengan kekuasaan. Pakar agama, John L. Esposito mengungkapkan, doktrin Kristen berbeda dengan Islam. Islam meyakini kesatuan antara agama dengan kekuasaan, sementara Kristen terpisah. Agama terlalu suci, jujur, dan polos untuk disandingkan dengan kekuasaan yang penuh muslihat, picik, dan arogan. Ini tidak berarti menempatkan agama dengan politik secara diametral, tapi agama harus mengambil jarak dengan kekuasaan. Sebab itu, harus ada upaya redoktrinasi ajaran agama. Pun ini harus dilakukan pada ajaran-ajaran agama yang berpotensi menyulut keberingasan dan kekerasan, terutama doktrin jihad dan crussade yang acap diartikan konfrontasi secara fisikal.

Kedua, kurangnya penghayaatan terhadap nilai-nilai agama. Suasana disekuilebrium antara das sein (idealitas teks) dan das sollen (realitas teks) dalam agama adalah fenomena konstan yang sudah ada semenjak agama itu lahir. Dan, ini terjadi karena nilai-nilai agama yang diinternalisasikan kedalam jiwa tidak disertai penghayatan dan pemaknaan mendalam. Rekayasa normatif yang diidealkan teks menjadi terhambat karena kenihilan penghayatan itu. Tak heran yang kemudian acap tampak adalah distorsi dan reduksi ajaran-ajran normatif agama yang mengandung kedamaian, keadilan, kebebasan, dan persaudaraan universal (universal brotherhood) yang lintas identitas (cross identity of humanity). Tanpa penghayatan terhadap nilai cita ideal agama, utopis penyelarasan das sein dan dasa sollen tergapai. Karenanya kesenjangan kedua wilayah tersebut bukanlah sebab kekrisisan agama, ia merupakan akibat dari sebuah sebab, yakni luluhnya penghayatan itu tadi.Mengafirmasi pemikiran di atas, upaya Hatim Gazali merevisi terhadap agama yang semula dianggap profan oleh masyarakat modern menjadi agama yang berdiri diatas dua pijakan, antara sakral (irrasional) dan profan (rasional), akan mengalami hambatan. Ini terjadi jika cara beragama belum dibarengi dengan penghayatan terhadap nilai dan doktrin agama. Kendati berupaya menempatkan agama pada middle place agama akan tetap membius umatnya dalam kepongahan dan arogansi destruktif.

Tuduhan Marx bahwa agama adalah candu, Nietzsche bahwa Tuhan telah mati, Hendrik Khraemer dan Martin Marachi bahwa agama telah memasuki masa krisis, lahir karena penghayatan terhadap agama sudah tidak menaungi kehidupan manusia. Agama masih ditempatkan pada wilayah eksoteris, sehingga ia menjadi kering. Apapun bungkus sebuah agama tanpa penghayatan berpotensi membawa manusia menuju keterasingan. Tanpa penghayatan inilah yang menyebabkan agama “sakral” mengalienasikan dan membius masyarakat menuju pengalaman misteryum Fascinans et Tremendum (istilah Rudolf Otto). Sebaliknya, agama “profan” menempatkan agama sebagai barang rongsokan yang menjadikan manusia teralienasi dari dunia spiritualitasnya. Pun, agama middle palce (antara sakral dan profan), tidak jauh dari kedua fenomena tersebut jika tidak dibarengi dengan penghayatan dan pemaknaan nilai-nilai ilahiyah agama secara mendalam. Wallahu A’lam.

** Pemerhati Sosial-Keagamaan

Entry filed under: Kliping, Teologi. Tags: .

Agama Edisi Revisi Menyempurnakan Agama Lagi ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: