Menyempurnakan Agama Lagi ?

Maret 12, 2008 at 9:13 am 1 komentar

Oleh : Hamam Faizin **

Ada sebuah kenyakinan yang kuat bahwa agama dijadikan sebagai sacred canopy yang sanggup melindungi manusia dari chaos, yakni keadaan hidup tanpa makna (meaningless life). Begitulah sekurang-kurangnya kenyakinan Sosiolog, Peter L Berger dalam Pengantar buku A Rumor of Angles: Modern and Society and Rediscovery of Supranatural. Dengan begitu, agama menjadi semesta simbolik yang penting dan mampu memberikan makna dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, agama tetap masih dibutuhkan sampai kapan pun.

Dari sudut pandang itulah, gagasan Hatim Gazali dalam tulisan bertajuk “Agama Edisi Revisi” (Media Indonesia, 11/03), yang berupaya untuk merevisi agama yang selama ini dirasa kehilangan nilai dan fungsinya, dapat diamini dan disambut dengan hangat. Upaya ini tidak bisa diremehkan begitu saja, karena pemikiran tersebut menyangkut masa depan agama. Menurut Hatim, hilangnya nilai dan fungsi agama, setidak-tidaknya disebabkan oleh religion abuse (penyalahgunaan agama) yang dilakukan elite penguasa dan elite organisasi keagamaan demi meligitimasi interest “konyol” mereka. Juga adanya aggapan bahwa agama adalah sekumpulan doktrin yang sudah sempurna dan final yang buntutnya bisa memunculkan pen-taqdis-an (penyakralan) doktrin agama itu sendiri. Padahal, doktrin agama, meskipun itu berasal dari Tuhan yang kebenarannnya dijamin, menurut Abdul Karim Soroush—pemikir asal Iran—pemahaman atas doktrin agama masih bersifat relatif dan terbuka bagi interpretasi yang baru (Qira’an al-Muntijah). Di sinilah keniscayaan untuk merevisi agama menemukan momentumnya.

Alasan-alasan hilangnya nilai dan fungsi agama yang diusung oleh Hatim, belumlah dirasa cukup. Agus Hilman dalam tulisannya bertajuk “Menyempurnakan Agama” (Media Indonesia, /2/04 ) mencoba men-cover dua hal yang tidak terjamah oleh pemikiran Hatim, yang menurutnya cukup signifikan. Pertama, dengan melihat adanya penyalahgunaan agama oleh elite politik untuk kepentingan tertentu, maka Agus Hilman menyarankan supaya ada pemisahan antara agama dan politik atau lebih tepatnya kekuasaan. Mengingat “persetubuhan” antara agama dan kekuasaan acap kali meminta tumbal, tidak hanya materi tetapi juga nyawa. Kedua, kurangnya pemahaman dan penghayatan yang dalam terhadap nilai-nilai agama. Keadaan ini, menurut Hilman, seringkali mengakibatkan pendistorsian dan pereduksian ajaran-ajaran normatif agama yang mengandung ajaran universal; keadilan (Justice), kebebasan (Freedom), kedamaian (Peace) dan persamaan (Equality).

Jadi, dari kedua tulisan tadi, dapat disimpulkan bahwa untuk merevisi agama serta menyempurnakannya, maka jalan yang harus ditempuh, pertama, tidak lain dan tidak bukan adalah mensterilkan interest elite yang selama ini dipakai untuk memerkosa dan mendominasi agama. Kedua, harus ada proses desakralisasi doktrin agama, yakni menegaskan pemahaman bahwa doktrin agama masih terbuka untuk dipahami dan diinterpretasi lagi. Ketiga, pemisahan antara agama dan kekuasaan, supaya agama tidak terkotori, dan keempat, menghayati kembali nilai-nilai agama yang telah diinternalisasikan di dalam jiwa pemeluknya.

***

Menyikapi kedua tulisan itu, penulis juga terpancing untuk urun rembug, menanggapi kedua tulisan tadi. Pertama, harus diakui bahwa percampuradukan dan berjalinkelindannya masalah keagamaan dan kepentingan-kepentingan sosial-kemasyarakatan, termasuk politik, merupakan salah satu persoalan kontemporer yang rumit untuk dipecahkan. Meskipun begitu, tidak berarti kita harus memisahkan di antara keduanya. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak bisa dipisahkan.

Agama adalah ketundukan terhadap Tuhan dalam lambang-lambang kesalehan yang kemudian terwujud dalam komitmennya untuk saling mengasihi sesama di dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan, termasuk politik. Pemecahannya bukanlah dengan jalan memisahkan keduanya, tetapi memisahkan mana yang merupakan kepentingan agama dan mana yang merupakan kepentingan politik. Hal ini bisa terlaksana apabila ada upaya untuk menghayati kembali nilai-nilai agama, sebagaimana ide kedua yang diusung oleh Agus Hilman.

Kedua, ketika Hatim dan Agus sebelumnya membeberkan beberapa alasan hilangnya nilai dan fungsi agama, maka disini penulis juga akan menyumbangkan beberapa hal yang tidak disinggung oleh mereka berdua, yakni truth claim dan pluralitas keagamaan. Meskipun kedua hal ini dirasa tidak baru lagi, toh tidak ada salahnya kalau penulis nyalakan apinya, setelah akhir-akhir ini redup oleh terpaan angin Irak dan Inul.Perlu diingat dan harus diakui, bahwa suburnya sejumlah konflik di berbagai belahan bumi sebagian besar didasarkan pada dan berhubungan dengan sentimen keagamaan. Sentimen keagamaan ini lahir karena adanya klaim keberanan (truth claim); yakni bahwa ‘hanya agamakulah yang benar.’ Agama di luar selain agama yang dipeluk seseorang adalah sesat dan menyesatkan. Sikap ini cenderung menolak kebenaran dari pihak lain dengan menyakini ajaran dan keyakinan kelompoknyalah yang paling benar. Dan, bahkan yang mengerikan adalah tampilnya wajah-wajah garang dan menakutkan.Konsekuensi logis dari sikap ini adalah munculnya lahan subur yang sangat potensial untuk menanamkan benih-benih destruktif, terutama bagi kemunculan fanatisme dan fundamentalisme. Singkatnya truth claim menjadi daerah rawan yang harus diwaspadai karena diam-diam ia juga ikut berperan dalam melenyapkan nilai-nilai dan fungsi agama. Tidak hanya melenyapkan nilai dan fungsi agama, tetapi bahkan menciptakan agama ‘baru’ lagi yaitu agama “fundamentalis” yang kaku dan mengerikan.

Menyadari perlunya “merevisi” agama dan menyempurnakan agama, tinjauan ulang atas truth claim menjadi agenda besar kita ke depan. Agenda yang tidak hanya menghangat di ranah wacana keseharian, tetapi juga menghangat dalam aksi sosial keseharian. Di sinilah kiranya penting sekali untuk segera mulai dibangun pemahaman baru yang lebih inklusif (hanif), konstruktif, dinamis, humanis dan komprehensif terhadap agama-agama lain. Inilah yang penulis maksudkan dengan pluralisme, sebuah usaha pencerdasan keagamaaan (religion literacy).

Senada dengan itu, penulis sepakat dengan perkataan Amin Abdullah dalam sebuah acara bahwa “to be religious man, you have to be inter-religion.” Untuk menjadi manusia yang religius, tak pelak lagi anda harus juga mempelajari agama lain. Mempelajari agama lain, bukan berarti harus masuk ke dalam agama itu, tetapi mencoba memahami dan mengerti setiap lorong-lorong agama, supaya tidak lagi muncul salah paham yang tidak perlu dan memalukan.

Kiranya dengan menambahkan dua hal; peninjauan kembali terhadap truth claim dan penanaman kesadaran pluralitas agama, di samping keempat hal diatas, peluang untuk merevisi dan menyempurnakan nilai dan fungsi agama, yang selama ini hilang, semakin besar.

**Pemrhati Sosial-Keagamaan

Entry filed under: Kliping, Teologi. Tags: .

Menyempurnakan Agama ? Mencari Titik Tuhan

1 Komentar Add your own

  • 1. Antony Hikaru  |  April 30, 2008 pukul 8:02 pm

    Assalamu’alaikum wr.wb. Ketika kalian mengungkapkan pendapat diatas, apakah kalian sedang dalam berhadapan langsung dengan orang-orang yang kalian anggap ‘fundamentalis’? Sehingga kalian merasa terancam? Trus maaf kalau boleh tahu agama ‘baru’ yang kalian maksudkan disini agama apa? Islamkah? Kristenkah? Yahudikah? Katolikkah? Budhakah? Hindukah? Atau agama kalian sendiri, yaitu agama Liberal. Naudzubillahi mindzalik. Kalian tidak pernah mensyukuri nikmat dari ALLAH SWT.Kalian diberikan akal, tapi malah kalian gunakan untuk menghujat Islam. Inna lillahi wa inna lillahi raji’un. Ya Allah, Ya Rabbi, Ya Tuhan kami. Sadarkanlah orang-orang yang tergabung dalam kelompok yang telah menganggap dirinya “pintar”. Yang dengan “kepintarannya” itu, mereka dengan seenaknya sendiri melecehkan agamaMu yang sangat mulia nan agung, Islam. Ya ALLAH, maafkanlah kelompok JIL ini jikalau mereka memang pantas untuk dimaafkan. Akan tetapi mereka terus-terusan bermaksiat kepadaMu. BalasanMu adalah yang terbaik bagi umatMu Ya ALLAH. YA ALLAH YANG MAHA AGUNG, Sungguh ampunanMu lebih luas dari lautan dosa.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: