Mencari Titik Tuhan

Maret 13, 2008 at 9:13 am Tinggalkan komentar

Oleh: Marluwi **

Berawal dari membaca. Membaca sebuah buku, yang dari semula sempat mengusik ketenangan pikiran penulis. Buku tersebut adalah SQ; Memanfaatkan Kecerdasan Spritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan. Pada mulanya, buku ini memiliki judul SQ: Spritual Intelligence – The Ultimate Intelligence. Ditulis oleh seorang Danah Zohar dan Ian Marshall, yang keduanya adalah akademisi sekaligus juga sebagai pasangan suami-istri yang tinggal di Inggris.

Kembali mengenai buku ini, secara garis besar buku ini memperbincangkan aspek psikologis dengan sentuhan “nurani” keagamaan. Fokus kolaborasinya, manusia itu sendiri, sebagai obyek dan kajian utama.

Penulis sengaja “meminjam” judul di atas tersebut. Terinspirasikan saat mana penulis membaca pada bagian/bab V dengan temanya: “Titik Tuhan” (God Spot) Di Dalam Otak. Penulis tidak bermaksud ingin mengkaji-ulang atas apa yang terdapat dan telah di kaji dalam buku ini. Tapi, setidaknya kita bisa untuk menangkap sebagian pesan-pesan yang ada, sekaligus mengelaborasikan kembali dalam tata-ruang kehidupan kita.

Baiklah, dan mari kita diskusikan dan kritisi lebih lanjut di sini. Dan, kita akan mencoba untuk memulainya dari rangkaian eksperimen yang dilakukan Prof. V. S. Ramachandran, Direktur Center for Brain and Cognition, dari Universitas California. Sebagaimana yang dituturkan Prof V S Ramachandran, atas penelitian terhadap pasien-pasiennya yang kena serangan penyakit epilepsi. Sebagian pasien yang telah sembuh, menuturkan pengalaman pribadinya: “Ada kebenaran tertinggi yang berada di luar jangkauan pikiran biasa, yang tersembunyi di tengah riuh-rendah kehidupan untuk menangkap keindahan dan keanggunannya”, atau “Dokter, tiba-tiba semuanya terang-benderang seperti kristal. Tak ada lagi keraguan.”

Pengalaman semacam tersebut di atas, menurut Ramachandran, merupakan lokus temporal yang berkaitan dengan pengalaman religius atau spritual itu sebagai “Titik Tuhan” (God spot) atau modul Tuhan (God module). Atau dalam pemahaman sederhana penulis, ada sesuatu yang luar biasa yang senantiasa “menyentuh”, mengiringi dan mendesain kita, dalam hal ini adalah Tuhan itu sendiri, yang wujud-Nya senantiasa ada dan akan ada di dalam dan di dekat kita, dalam setiap gerak eksistensi dan aktifitas manusia. Sekilas dari sini, kita dapat melihat, bahwasanya Tuhan akan senantiasa menjadi “aktor” penting sekaligus yang mendesain semua aktifitas yang dilakukan oleh setiap manusia.

Meski demikian, perlu untuk kita ingat pula, yakni ada juga satu ruang “kebebasan” dan “kemerdekaan” yang diberikan oleh Tuhan. “Kemerdekaan” aktifitas yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, untuk memilih dan menentukan dan ke arah mana ia akan berpijak. Apakah ia berpijakkan sesuai dengan koridor dan norma-norma Tuhan, atau justru sebaliknya, dalam setiap menjalankan dan memberi peran atas “nafas” dan gerak sejarah kemanusiaannya.

Terkait dengan hal tersebut di atas, perlu untuk kita ingat pula. Bahwasanya ada sesuatu yang numinous dalam diri setiap manusia. Yakni, perlu dan adanya kebutuhan yang asasi terhadap adanya Tuhan di dalam ruang batin kehidupan umat manusia. Kebutuhan terhadap akan hal itu (kebutuhan pada Tuhan), lagi-lagi membutuhkan satu “instrumen” dan media yang lain, yakni melalui perspektif agama.

Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa Mencari “Titik” Tuhan, sebagaimana judul tulisan ini dapat kita katakan adalah, sebagai salah satu bentuk perjuangan sekaligus “terselip” juga pengalaman spritualitas yang bersifat subyektifitas dan personal. Dan siapa pun akan pernah dan untuk berhak mengalaminya. Yakni pengalaman spritualitas dalam perjumpaan dirinya dengan Tuhan, yakni melalui agamanya masing-masing.

Pengalaman spritualitas semacam ini, tentu saja sangat dan kaya akan “godaan-godaan” yang bersifat subyektifitas dalam interaksi antara manusia dengan pencipta-Nya itu. Dan juga, bahwasanya pengalaman setiap “insan-personal” itu, tentu tidak sama dalam hal “pengembaraannya” dan “dialog” dengan Tuhan tersebut, katakanlah sangat dan sarat nuansa subyektifitas antara satu individu dengan individu yang lainnya pada konteks dan saat “berdialog” bersama Tuhan tersebut.

Terlepas dari apa dan bagaimana pun dalam pencarian kita terhadap Tuhan. Pertanyaan sejarah yang tidak kurang lebih relevan untuk langkah selanjutnya adalah. Apakah mobilitas dan kinerja kita selama ini dalam mencari Tuhan adakah tercermin dan telah terpantulkan? Utamanya pada lingkaran dan khazanah sosial? Lebih lanjut lagi, apakah berbagai upaya yang telah dilakukan dalam mencari Tuhan tersebut telah memberi arti yang cukup signifikan dalam ruang sosial kehidupan kita? Setidaknya inilah yang terpenting bagi manusia, setelah sekian jauh usia “pengembaraannya” dalam mencari Tuhan. Paling tidak ada kesalehan yang tercipta, entah itu yang bersifat personal maupun secara sosial.

Mudah-mudahan “pengembaraan” spritualitas yang ingin dan telah kita lakukan selama ini mampu untuk memberikan rasa kesalehan, baik itu dalam konteks dan horison vertikal antara kita dengan Tuhan, maupun dalam khazanah horizontal antara kita terhadap sesama hamba Tuhan. Barangkali inilah yang terpenting untuk kita wujudkan kembali dalam khazanah sosial pada saat ini.

**Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak

Entry filed under: Kliping. Tags: .

Menyempurnakan Agama Lagi ? Tuhan Yang Membumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: