Ketika Hidup Tanpa Tuhan

Maret 15, 2008 at 9:15 am Tinggalkan komentar

Oleh : Hatim Gazali

Akhir-akhir ini, peran dan fungsi agama semakin dipertanyakan dan diragukan. Begitu pula dengan sumber primer agama, yakni Tuhan. Pertanyaan skeptis dan pernyataan pesimis tentang-Nya dari para intelektual dan ilmuan cukup beragam. Misalnya Karen Amstrong mengakhiri karyanya, Sejarah Tuhan, dengan judul “Apakah Tuhan Mempunyai Masa Depan…?” Secara eksplisit ia hendak mempertanyakan apakah agama masih bisa memainkan peran humanisme-profetiknya di dunia ini. Atau masihkah manusia akan tetap mempercayai Tuhan di masa yang akan datang sekaligus menjadikan inspirator dalam menegakkan keadilan, kebenaran dan mencegah kemungkaran. Tidakkah karena agama telah dapat meneteskan air mata dan darah manusia.

Statemen dan pertanyaan di atas tidak dapat disalahkan sama sekali. Karena dalam hal ini sekurang-kurang ada dua faktor utama. Pertama, pemahaman dan pengetahuan tentang agama yang tidak holistik, komprehensif. Seseorang lebih cenderung memandang agama hanya dari satu aspek saja, tidak dalam aspek lainnya. Misalnya hanya melalui pendekatan fungsional, tidak dalam pendekatan lainnya. Atau agama hanya diyakini sebagai institution, tidak sebagai faith (keyakinan). Memahami dan memaknai agama secara distorsif ini pada gilirannya akan menuding agama telah gagal menjawab tantangan zaman dan tidak bisa memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Bahkan dianggap menjadi sumber segala persoalan kemanusiaan.

Kedua, pengaruh dan implikasi dari rasionalisme sains, teknologi, dan ilmu alam lainnya. Sekularisasi yang cenderung memisahkan ranah agama (ukhrawi) dengan ranah dunia (dunyawi) ini menjadikan keduanya nampak paradoks. Sains adalah wilayah rasional, sementara agama adalah wilayah irasional-imajinatif. Karenanya, ia harus ditolak dan dihindari. Ilmu alam diyakini akan mampu mensejahterakan kehidupan manusia. Dan, agama seakan menjadi ancaman dan sekaligus tantangan yang harus dimusuhi oleh setiap manusia. Jika pada masa lalu manusia bernostalgia dengan agama, memberikan rasa aman secara psikologis. Namun, ketika tekanan dari luar mengancamnya dan jika ternyata modernisasi dan sekularisasi menyingkirkan agama, maka memeluk agama adalah semacam ketidakdewasaan. Pemahaman dikotomik-antagonistik antara wilayah transenden dan imanen ini tidak dapat dibenarkan sama sekali dan semakin mencerabutkan “kaki” agama di alam material ini. A.J Ayer (1910-1991) bertanya apakah ada gunanya percaya kepada Tuhan sementara ilmu alam merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat diandalkan karena dapat diuji secara emperik dan rasional. Antony Flew juga berpendapat bahwa penjelasan alamiah lebih rasional daripada penjelasan agama.

Bahkan Jeal Paul Sartre (1905-1980) menyatakan bahwa jika memang Tuhan benar-benar ada, ia harus di tolak, dienyahkan sebab gagasan tentang Tuhan menafikan kemerdekaan manusia. Baginya, L’esistence de L’homme exclet L’existence de dio (eksistensi manusia meniadakan eksistensi Tuhan). Artinya antara Tuhan dengan manusia adalah kontradiktif dan tidak bisa dipertemukan dalam suatu kondisi tertentu. Jika manusia hendak hidup bebas, merdeka, independen maka meniadakan eksistensi Tuhan adalah sebuah keharusan. Dan begitu pula, jika manusia mempercayai Tuhan berarti ia menghilangkan eksistensi dirinya sebagai manusia.

Orang tidak percaya kepada Tuhan (ateis) semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Misalnya, saat berkunjung ke kantornya Syafi’i Ma’arif, Guy Sarmon mengatakan bahwa orang yang percaya pada Tuhan di Perancis sudah tidak sampai 5%. Mayoritas di negeri tersebut menolak adanya Tuhan. Belum lagi di beberapa negara lainnya. Sungguh mengejutkan dan mengagetkan saya pernyataan semacam itu. Sebab besar kemungkinan seluruh manusia di dunia ini menolak adanya Tuhan. Dan bagaimanakah kehidupan manusia di saat itu?

Padahal percaya kepada Tuhan merupakan hal yang fundamental dalam agama manapun. Tanpa adanya keyakinan akan Tuhan, manusia akan kehilangan sumber pegangan hidupnya. Huston Smith mengatakan bahwa pengingkaran adanya alam ghaib, khususnya Tuhan adalah permulaan meluncurnya manusia ke amoralisme atau immoralishme. Bung Hatta pun mengatakan bahwa hanya kepercayaan kepada Tuhan sajalah yang akan memberikan kedalaman rasa tanggungjawab dan moralitas kepada tindak tanduk manusia di dunia ini.

Pada dasarnya, setiap manusia mempunyai dua kebutuhan primer yang harus dipenuhi dalam hidupnya; kebutuhan material dan kebutuhan spiritual. Kedua kebutuhan inilah yang mempengaruhi kontinyuitas kehidupan manusia. Jika salah satu dari keduanya tidak terpenuhi secara sempurna maka yang akan terjadi adalah deviasi, penyimpangan, anarkis, destruktif.

Kebutuhan material ini bisa berupa harta kekayaan dan segala hal yang berbau material. Misalnya mobil, rumah, uang, dan lain sebagainya. Jika kebutuhan material ini tidak atau belum tercukupi maka pencurian, perampokan, penjarahan dan bentuk tindakan kriminal lainnya yang akan terjadi. Seseorang rela mengorbankan jiwanya hanya demi memperolah sesuap nasi. Ia tidak akan takut mencuri, merampok jika ternyata kebutuhannya masih kurang.

Lebih diperparah lagi oleh hilangnya nilai-nilai spiritual dalam diri manusia. Kebutuhan spiritual ini berbentuk immaterial yang bisa berupa ketentraman jiwa, kepuasan bathin dan kadamaian hati. Nilai-nilai spiritual tersebut dipengaruhi oleh sejauh mana ia meyakini, mempercayai, menghayati dan pengabdiannya kepada Tuhan. Sebab jika seseorang percaya kepada Tuhan serta melaksanakan perintah-perintah-Nya maka ia merasa selalu diawasi Tuhan sehingga takut untuk berbuat hal yang dilarang-Nya. Sebab menurut Max Hokheimer (1895-1973) bahwa tanpa percaya kepada Tuhan, maka tak akan ada makna kebenaran atau moralitas mutlak, hilangnya nilai-nilai etika-akhlak, politik dan moralitas menjadi pragmatik, licik dan tidak bijaksana.

Maka ketika dua kebutuhan primer tersebut terpenuhi secara sempurna, tentu dunia akan damai, sejahtera, dengan berlandaskan pada agama (Tuhan) dan tidak akan terjadi peperangan. Dan jika ini yang menjadi idaman setiap manusia, maka agama, Tuhan akan selalu mengawasi dan membimbing manusia. Tuhan akan tetap menjadi pegangan dan sumber etika dalam berinteraksi antar sesama manusia mulai sejak dulu sampai yang akan datang. There no people however primitive without religion and maging, kata Molinowski. Sebab agama memiliki seratus jiwa. Segala sesuatu bila telah dibunuh, pada kali pertama itupun ia sudah mati untuk selama-lamanya kecuali agama. Sekiranya ia seratus kali dibunuh ia akan muncul kembali dan kembali hidup setelah itu.

Entry filed under: Hatim Gazali, Kliping. Tags: .

Tuhan Yang Membumi Autentisitas dan Lokalitas Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: