Autentisitas dan Lokalitas Islam

Maret 16, 2008 at 9:16 am Tinggalkan komentar

Oleh : Hatim Gazali

Perbincangan tentang lokalitas Islam dan Islam Pribumi di harian Media Indonesia beberapa bulan belakangan ini belum kunjung selesai dan barangkali tak akan menemukan titik akhirnya. Sebab, gagasan Islam Pribumi dalam hubungannya dengan lokalitas Islam adalah sebuah discourse yang multiinterpretasi dan debatable. Karena sifat yang demikian itulah, gagasan ini selalu menarik untuk didiskusikan dan senantiasa menemukan signifikannya dalam realitas apapun.

Pelbagai pemikiran yang muncul tentang Islam pribumi dari pemikir keislaman di Indonesia belum menunjukkan kata sepakat, dan kesemuanya itu saling melengkapi untuk memperkuat gagasan tersebut. Kendatipun demikian, kesemuanya hampir sepakat akan adanya persenyawaan unsur lokalitas Islam dengan autentisitas Islam. Dengan demikian, Islam Pribumi pada dasarnya merupakan upaya kontekstualisasi Islam. Akan tetapi ada beberapa hal penting yang sangat berkaitan yang hendak saya diskusikan pada kali ini.

Pertama, tentang autentisitas Islam. Diakui atau tidak, Islam adalah agama yang tidak akan lepas dari faktor eksternal agama dan berjalan diatas logika kemanusiaan. Karena itulah, mencari autentisitas Islam menjadi sangat sulit dan bahkan tidak mungkin. Sebab, Al-Qur’an sebagai kitab suci Islam turun untuk menjawab problem kemanusiaan saat itu dan kemungkinan dimasa yang akan datang. Al-Qur’an dengan visi liberatif-emansipatifnya mengusung nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, tak ada ayat satupun dalam Al-Qur’an yang tidak memiliki asbabun nuzul.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang selama ini dipandang oleh sebagian ulama klasik tidak memiliki asbabun nuzul, sebenarnya hadir ke bumi dengan beberapa peristiwa dan berdialog dengan fundamental values saat itu. Tak ada satu ayatpun yang tidak mengenal konteks—dalam bahasa M. Arkoun disebut Sya’n al-nuzul.

Kedua, Islam datang bukan untuk menghapus agama sebelumnya seperti Nasrani, Yahudi, melainkan untuk mengajarkan tauhid (keesaaan) sebagaimana yang telah diajarkan oleh agama sebelum Islam. Abu Zahro dalam Ushul fiqh-nya (1958) mengatakan bahwa sesungguhnya semua agama (agama semit/abrahamic religion) pada dasarnya adalah satu (inna al-syarai’a al-samawiyah wahidatun fiy ashliha). Semua agama sama-sama mengejar –meminjam istilah Joachim Wach—the ultimate reality. Akh Muzakki melalui tulisannya yang tertajuk “Autentisitas, Problem Dasar Islam” (Media Indonesia, 2/5) mengatakan, autentisitas Islam tidak bisa dibatasi sejak masa Muhammad, tetapi sudah ada semasa Adam. Adalah sangat tidak cukup memahami Islam tanpa memahami agama, budaya, sosial sebelum Islam turun. Max Mullër, seorang tokoh perbanidngan agama, pernah mengatakan bahwa He who knows one, knows none, orang yang hanya tahu satu agama, tidak tahu apa-apa tentang agama, termasuk agamanya sendiri.

Dengan demikian, Islam harus bisa memposisikan dan menerjemahkan diri ditengah pluralitas agama. Cyril Glassë menulis Concise Ensyclopedia of Islam mengatakan…..the fact one revelation should name others as authentic is an extraordinary event in the history of religions all (…..kenyataan bahwa sebuah wahyu [Islam] menyebut wahyu-wahyu lain sebagai hal yang absah adalah kejadian luas biasa dalam sejarah agama-agama). Karena itulah, Farid Esack dengan karyanya, Qur’an Liberation and pluralisme; an Islamic Perspective Interreligious Solidarity agains Oppression (1997) mengajak untuk menjalin solidaritas antar agama untuk pembebasan (li al-taharrur). Pluralisme dimaknai sebagai modal awal bagi tumbuhnya gerakan inter-religius yang meneriakkan semangat pembebasan (al-hurriyah) bagi kaum yang tertindas (al-mustadh’afiyn)

Ketiga, Islam yang kita anut sekarang ini bukanlah Islam sebagaimana pada masa Muhammad. Artinya, Islam pada masa Muhammad sudah berbeda jauh dengan Islam sekarang. Konteks sosial, budaya, politik, ekonomi yang dihadapi masa sekarang jauh lebih kompleks daripada Islam pada saat Nabi. Karena itulah, Islam Pribumi harus bisa memahami konteks sosial dimana Islam berada. Upaya untuk kembali ke masa nabi dengan mengesampingkan konteks sosial saat itu berarti mereduksi bahkan mendistorsi Islam secara besar-besaran. Jika demikian, maka Islam tidak akan pernah mampu menjawab tantangan zaman dan kegelisahaan umatnya. Islam akan statis dan diam ditempat. Dan pada gilirannya, Islam hanya akan menjadi kenangan romantis masa lalu dan kini telah ditinggalkan oleh pemeluknya.

***

Autentisitas Islam sebenarnya bukanlah berada pada teks keagamaan (secara literal) yang sudah berdialektika dengan lokalitas tertentu. Sebab, teks agama hadir ditengah lokus kemanusiaan dan meniscayakan adanya campur tangan manusia. Autentisitas Islam adalah kumpulan doktrin universal-kemanusiaan yang berada dalam teks keagamaan. Karena itulah, autentisitas Islam merupakan nilai-nilai universal seperti keadilan, persamaan, toleransi, hak asasi dan lain sebagainya. Dan kesemua nilai-nilai itu inhern dalam diri manusia (hati nurani), sehingga tanpa panduan agama sekalipun, manusia bisa menentukan mana jalan yang terbaik, baik, buruk dan terburuk. Agama (islam) hanya menjadi legitimasi dan afirmasi terhadap hati nurani (al-qalb). Semua manusia menginginkan adanya keadilan, persamaan, maslahat. Karena itulah jika ajaran Islam bertentangan dengan dengan hal diatas (nilai-nilai universal dan hati nurani), harus ditinjau ulang.

Karena itulah, Islam bukanlah daerah anti tafsir. Ia bisa saja dan harus ditafsirkan dalam setiap konteks tertentu. W.C. Smith mengatakan bahwa teology is part of the tradition, is part of this wolrd. Karena ia ciptaan manusia yang bisa salah (fallible), dapat berubah-rubah sesuai dengan semangat zaman. Dalam kaidah Ushul fiqh disebutkan taghayyrul ahkam bil al-tagayyur al-azminati wa al-amkaniyah, hukum berubah tergantung pada konteks tertentu.

Dengan logika ini dapat dipahami bahwa lokalitas adalah salah unsur pembentuk dari ajaran Islam. Untuk mengetahui autentisitas Islam meniscayakan adanya pengetahuan tentang lokalitas. Lokalitas disini tidak hanya terbatas pada konteks saat Islam turun, tetapi jauh sebelum Islam hadir kepermukaan ini dalam mana terdiri dari pelbagai agama, budaya, bahasa dan lain sebagainya.

Hubungan antara keduanya (autentisitas Islam dan lokalitas Islam) tidak harus mengambil posisi berhadap-hadapan dan bersifat dikotomis. Sebab, keduanya ibarat sebuah koin (mata uang) dengan dua permukaan. Autentisitas Islam dan lokalitas Islam hampir tidak dapat dibedakan. Keduanya berhubungan secara dialektis, terkait secara timbal balik. Karena itulah autentisitas Islam sebenarnya ajaran-ajaran universal yang berlaku disepanjang zaman sejak Adam sampai kapanpun dan dimanapun. Wallahu A’lam.

Entry filed under: Hatim Gazali, Kliping. Tags: .

Ketika Hidup Tanpa Tuhan Islam Lokal Versus Islam Kaffah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: