Landasan Teologis Agama Kerakyatan

Maret 20, 2008 at 9:18 am Tinggalkan komentar

Oleh : Saidiman**

Indonesia, 12 Desember 2003, telah memberikan sebuah fondasi awal bagi kelahiran konsep ‘agama kerakyatan’. Gagasan agama kerakyatan maupun dasar epistemologisnya sangat menarik untuk diperdebatkan lebih jauh. Bukan hanya karena masalah ini adalah masalah yang sensitif, melainkan juga karena menawarkan satu cara pandang radikal tentang konsep keberagamaan yang berbeda dari mainstream selama ini.

Argumen yang diajukan oleh Muhammad Ja’far tentu tidak bisa dibantah sepenuhnya, sebagaimana juga tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Perdebatan tentang landasan epistemologis lahirnya sebuah agama telah berlangsung, barangkali sejak agama itu lahir. Orang yang mengatakan bahwa agama itu betul diturunkan dari Tuhan dan bersifat absolut transendental adalah satu pendapat. Yang mengatakan agama sebagai hanya hasil proyeksi manusia adalah pendapat yang lain lagi. Keduanya susah untuk dibantah, karena masing-masing tidak bisa memberikan bukti empiris. Tidak ada yang bisa memverifikasi ada atau tidak adanya Tuhan. Ini adalah wilayah perdebatan yang masih abu-abu.Para pemikir sekuler Barat telah lama mendesakralisasi posisi Tuhan. Salah satu dari mereka, Ludwig Feuerbach, mengatakan Tuhan dan agama tidak lebih dari hasil proyeksi manusia. Kaum Marxis berpendapat, konsep tentang agama dan Tuhan muncul sebagai bentuk kekalahan manusia berdialektika dengan alam. Alih-alih menghadapi alam dengan kerja, manusia yang kalah itu malah lari dan mengkhayalkan kekuatan transenden di luar dirinya. Juga Durkheim memublikasikan sebuah penemuan, bahwa agama dan Tuhan pada awalnya lahir sebagai bentuk pemujaan terhadap solidaritas. Tetapi, semua pendapat ini tidak pernah bisa membuktikan secara jelas, bahwa Tuhan itu betul-betul tidak ada. Satu hal yang pasti, hampir seluruh penduduk bumi ini adalah penganut agama dan percaya bahwa Tuhan ada, betapa pun pembuktian tentang Tuhan ada belum dilaksanakan.

Yang lebih bijak dilakukan bukanlah larut dalam perdebatan tak berujung itu, melainkan segera masuk ke wilayah perdebatan yang lebih kontekstual. Yang menjadi persoalan bukan dari mana agama itu berasal, tetapi apa misi yang dibawa oleh agama tersebut. Gagasan tentang agama kerakyatan adalah menarik dan patut untuk dilacak sumber teologisnya. Pencarian sumber teologis mutlak dilakukan, karena nantinya ide ini akan berhadapan dengan realitas penganut agama yang sangat fanatik dengan konsep dan landasan keberagamaan mereka. Persoalan ini tidak cukup dijelaskan dengan argumen rasional. Penjelasan yang menggunakan idiom-idiom dan sejarah agama akan sangat membantu.

Sejarah kelahiran dan ajaran agama memberikan banyak kontribusi bagi konsep agama kerakyatan. Tidak ada satu agama yang tidak membawa misi kerakyatan. Musa, pemimpin kaum Yahudi, datang sebagai pembawa risalah kemanusiaan. Ia bukan hanya menunjukkan penyelamatan satu kaum tertindas bernama Yahudi dan mengarahkannya menuju Tanah Yang Dijanjikan, tetapi juga mengeluarkan sebuah komitmen kemanusiaan yang sangat terkenal. Salah satu dari Sepuluh Perintah Tuhan yang diberikan kepada Musa di Gunung Sinai adalah ”Janganlah engkau membunuh.” Sebuah perintah yang sangat agung di tengah kultur saling memusnahkan masa itu. Kendatipun akhirnya kaum Yahudi awal itu harus melakukan perebutan atas tanah yang mereka klaim sebagai Tanah Yang Dijanjikan, Yerusalem. Mereka akhirnya harus mengusir dan membunuh kaum Het, Girgasi, Amori, Kanaan, Feris, Hewi, dan kaum Yebus. Tetapi, toh di dalam dasar ajaran mereka tertancap sebuah prinsip untuk saling melindungi sesama manusia. Sikap Musa yang memperjuangkan kaum Yahudi adalah satu sikap pemihakan kepada kaum tertindas, Yahudi pada saat itu ditindas oleh kekuasaan Raja Mesir, Ramses II.

***

Agama Kristen dikenal sebagai agama spiritual yang sangat menjunjung tinggi perdamaian dan kemaslahatan umat manusia. Yesus memerintahkan memberikan pipi kiri apabila pipi kanan ditampar. Bahkan, ketika Yesus ditangkap oleh Gubernur Romawi, Pontius Pilate, karena khotbahnya yang merugikan pemerintah secara politik, Yesus tidak memberikan perlawanan dan pembelaan. Keteladanan seperti ini adalah mutiara dalam kehidupan dunia. Pola hidup saling mengasihi antarsesama akan menjadi pintu masuk bagi kesejahteraan dan kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Islam, dalam pengertian bahasanya adalah kedamaian, tentu saja yang dimaksud adalah ada kedamaian umat manusia. Dalam salah satu konsep utamanya, Islam disebut sebagai rahmatan lil aalamin (rahmat bagi seluruh alam). Islam bukan hanya agama kerakyatan, kemanusiaan, tetapi juga agama bagi tumbuh-tumbuhan, bagi bumi, dan bagi seluruh alam. Ajaran Islam sangat mencela perusakan di muka bumi. Tahun 638, ketika pasukan Umar berhasil merebut Kota Yerusalem, dengan unta putih ia memasuki kota suci itu. Diantar oleh Uskup Sophronius, Khalifah Umar berjalan-jalan mengamati bangunan-bangunan suci di sana. Lalu ketika tiba waktu salat dan Khalifah Umar sedang berada di Gereja Makam Suci, sang Uskup mempersilakan Umar salat di tempat mereka berada. Tetapi Umar menolak dan ia melakukannya di tempat lain. Bagi Umar, kalau ia saat itu melakukan salat di Gereja Makam Suci, maka gereja itu akan dimusnahkan kaum muslim untuk membangun sebuah masjid di sana. Dan, kini telah berdiri sebuah masjid di tempat Umar melaksanakan salat saat itu.

Kendati demikian, tentu saja akan banyak kasus bahwa agama kadang-kadang menjadi malapetaka bagi kehidupan manusia. Yakni ketika agama menjadi alat legitimasi bagi penindasan, pemusnahan, dan keserakahan umat manusia. Kaum Yahudi telah membantai penduduk Yerusalem dan mengobarkan perang terhadap umat lain yang dinilai pagan dan kafir, saat ini ia juga meneror Palestina. Pada abad ke-11, Paus Urban II telah mengobarkan semangat Perang Salib yang sangat bersejarah. Ratusan ribu umat kristiani harus bertempur habis-habisan dengan pasukan muslim. Pada abad pertengahan, bertahun-tahun gereja menjadi alat legitimasi kekuasaan yang menindas rakyat. Sejarah Islam juga menorehkan luka bagi kehidupan manusia. Pembunuhan dan pembantaian terjadi sepanjang kekaisaran Islam. Islam juga digunakan para penguasa melegitimasi kedudukannya untuk menyingkirkan penentangnya atas nama agama. Rakyat menjadi nomor dua atas nama Tuhan.

Di atas segalanya, agama tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Agama masih bertakhta di dalam hati sebagian besar umat manusia. Mengembalikan citra agama yang cinta damai dan pro terhadap kesejahteraan umat manusia adalah sebuah usaha yang patut dilanjutkan. Roh kerakyatan yang ada dalam setiap agama harus dimunculkan dan mendominasi kehidupan beragama. Sependapat dengan Ja’far, para pemuka agama harus terlibat langsung dalam sosialisasi gagasan ini. Masjid, gereja, dan tempat-tempat ibadah lain harus menjadi corong bagi kebangkitan kemanusiaan di muka bumi.

**Saidiman, Pemerhati sosial-keagamaan; aktif di Indonesian Institute for Civil Society (INCIS), Jakarta

Entry filed under: Kliping, Teologi. Tags: .

Dasar Epistemologis Agama Kerakyatan Menyempurnakan Agama Kerakyatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: