Merajut Hubungan Islam-Barat

Mei 18, 2008 at 6:34 am Tinggalkan komentar

Oleh: Abd. Malik

Pertautan dua peradaban besar Islam dan Barat dalam panggung sejarah selalu menarik untuk disimak. Baru-baru ini hubungan dua peradaban ini kembali diuji dengan kejadian kontroversial yang disuguhkan film fitna hasil karya anggota parlemen (Partij voor de Vrijheid) Belanda, Geert Wilders. Kejadian ini bukan kali pertama. Ada banyak kejadian kontroversial yang berujung pada pembelahan dua kekuatan antara Barat dan Islam.

Pertanyaan sementara yang ingin saya kemukakan adalah apakah rentetan kejadian tersebut merupakan representasi konflik peradaban antara Islam dan Barat? Sekaligus membenarkan ramalan futuristik yang dipopulerkan oleh Samuel P. Huntington tentang benturan peradaban (clash of civilization)?

Tidak mudah untuk mengamini pertanyaan tersebut. Akan tetapi, tidak mudah pula kita menepis adanya implikasi besar yang mengarah pada ketegangan antara Islam dan Barat. Dalam hal ini kita harus mengakui bahwa memang ada sebagian kelompok baik dalam Islam maupun Barat yang secara laten masih menyimpan trauma sejarah dan ideologis tentang perang peradaban. Endapan kecurigaan dan dendam itu terus bertahan walaupun dalam riak-riak kecil yang mengkristal menjadi stigma dan image buruk seperti yang dipertontonkan melalui karikatur Nabi Muhammad, film the submission dan fitna.

Pertautan Visi Konflik dan Dialog

Hubungan Islam dan Barat dalam sejarah sebagaimana digambarkan oleh John L. Esposito selalu memuai dua visi antara konflik dan dialog. Dua visi ini selalu mewarnai hubungan dua peradaban ini sepanjang sejarah (John L. Esposito, 2003 ). Islam lahir sebagai sebuah peradaban tidak pernah lepas dari peradaban Barat yang mendahuluinya. Kontak dan komunikasi peradaban telah berjalan dalam frame dua visi di atas.

Islam sebagai peradaban baru muncul sebagai kekuatan yang menyilaukan peradaban yang mendahuluinya. Ekspansi gemilang yang dilakukan Islam di territorial Barat menarik kecurigaan Barat bahwa Islam adalah sebuah ancaman. Di era modern ini, kecurigaan itu terus berlanjut. Hadirnya revolusi Iran dan bangkitnya kekuatan Islam di berbagai daerah, meningkatnya arus muslim imigran di daratan Eropa, kembali menyentakkan Barat akan gambaran Islam masa silam.

Sebelumnya Barat bangga dengan sekularisme yang dianggap meremukkan kekuatan agama dalam bingkai domestifikasi agama. Akan tetapi, agama saat ini kembali populer di ruang publik yang ditandai dengan lahirnya era kebangkitan agama-agama. Harvei Cox melalui The Secular City (1966) meramalkan bahwa kuatnya arus sekularisasi ditandai dengan munculnya peradaban masyarakat urban yang sejajar dengan runtuhnya peran agama tradisional. Kemudian, ramalan ini tidak terbukti sehingga dalam Religion in the Secular City (1985) Harvei Cox meralat prediksinya dengan mengulas kebangkitan agama yang mewarnai ruang publik sekular.

Islam pun kembali menjadi perbincangan menarik sebagai kekuatan revolusioner yang memberontak dari paradigma sekuler. Bibit-bibit konflik telah dimulai dengan meletusnya peran teluk (gulf war). Abad 21 menjadi saksi kejadian yang merubah total hubungan Islam-Barat. Runtuhnya menara kembar melalui kejadian 11 september 2001 menandai pula runtuhnya hubungan Islam-Barat yang telah lama dirajut pasca-perang salib. Kejadian ini seringpula dikatakan sebagai titik awal benturan peradaban antara Islam-Barat di era modern.

Invasi Barat terhadap dunia Timur Tengah dimulai kembali dengan alasan membumihanguskan terorisme. Benturan modern ini tetap dalam semangat yang sama walaupun dalam bentuk yang berbeda. Islam sebagai ancaman dipoles menjadi Islam yang menteror atau teroris. Sebaliknya invasi besar-besaran sebagai reinkarnasi bentuk lama kolonialiasi. Islam menganggap Barat sebagai ancaman begitu pun sebaliknya. masing-masing menganggap dirinya sebagai objek-dalam istilah Akbar S. Ahmed-yang berada dalam kepungan lawan (under siege). Pertanyaannya siapakah yang sebenarnya berada dalam ancaman?Subjek dan objek menjadi kabur dan sulit untuk didefinisikan karena keduanya dihantui kecurigaan.

Ancaman atau dalam Ancaman?

Meskipun ada usaha besar untuk saling memahami tetapi keduanya selalu dihantui trauma sejarah yang tidak mudah untuk dihilangkan tentang pengalaman permusuhan seribu tahun terakhir. Muslim menganggap Barat sebagai negara kolonial yang menjajah dunia muslim baik secara politik dan kutural. Sebaliknya, masyarakat Eropa juga mempunyai ingatan penjajahan yang dilakukan oleh Islam di berbagai daerah di Eropa. (Akbar. S Ahmed, 1999). Ketakutan dan kecurigaan ini selalu didesain untuk diabadikan.

 

References:

 

 

  • Akbar S. Ahmed, (1999) Islam Today; a Short Introduction to the Muslim World, I.B. Tauris New York
  • Akbar S. Ahmed, (2003) Islam under Siege, Polity Press, UK.
  • John L. Esposito and John O. Voll, “Islam and The West; Muslim Voice of Dialogue” dalam Pavlos Hatzopoulos and Favio Petito, ed. (2003) Religion in International Relations The Return From Exile, Palgrave Macmillan, NY.
  • Mark Juergensmeyer, ed (2005) Religion in Global Civil Society, Oxford University Press, NY.
  • Olivier Roy, (2004) Globalized Islam the Search for a New Ummah, Columbia University Press, NY.

Entry filed under: Abd. Malik, Bulletin al-Hurriyah, Opini. Tags: .

Mengambil Pelajaran Film FITNA Agama di Bawah Bayang-Bayang Negara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: