FITNA Yang Benar

Mei 22, 2008 at 6:40 am Tinggalkan komentar

Oleh: Hatim Gazali

Penodaan dan Kebebasan. Dua prinsip yang berposisi diametral ketika merespon film Fitna, buah tangan anggota parlemen (Partij voor de Vrijheid) Belanda Geert Wilders. Film ini bersebrangan dengan idealitas Islam yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Sebagaimana yang pernah terjadi kepada terbitnya karikatur nabi di Jyllands-Posten Denmark, pelbagai lapisan masyarakat menghujat kreativitas Wilders. Pun pemerintah Indonesia, masyarakat Kristiani Eropa dan Amerika dan Sekjen PBB.

Umat Islam marah. Bahkan mereka melakukan aksi-aksi kekerasan dan destruktif laiknya isi film tersebut. Respon dengan cara kekerasan terhadap film tersebut seakan membuat film baru yang berisi sama; anarkis dan kekerasan dengan teriakan ayat al-Qur’an. Bedanya, respon umat islam tak seporadis dan seanarkis isi film tersebut.

Film berdurasi 17 menit ini memberikan ilustrasi betapa lekatnya Islam dengan kekerasan baik dalam ruang sosiologis ataupun teologis. Kutipan ayat-ayat al-Qur’an pun hadir untuk mengawali sebuah ilustrasi. Pernyataan dan pengakuan lugu dan jujur seorang gadis berumur 13,5 tahun yang bernama Basmallah dalam film tersebut semakin menguatkan dalil untuk memerangi non-muslim adalah perintah Tuhan.

Di akhir film tersebut, setelah menyuguhkan perkembangan kuantitas Muslim di Belanda dan Eropa secara umum, Wilders berseru bahwa Islam sebaiknya hengkang dari daratan Eropa. Lembaran-lembaran Qur’an juga diperintah Wilders untuk dirobek karena mengajarkan kekerasan.

Sesungguhnya, anggapan miring terhadap Islam oleh Barat sudah lama terjadi. Kajian-kajian para orientalis tentang Islam, al-Qur’an dan Budaya Timur sudah cukup bertebaran disejumlah perpustakaan. Untungnya, lahir tokoh seperti Edward Said, A.L.Tibawi, dan sebagainya yang memberikan “tausiyah” tentang Timur dan Islam. Tentu, Said saja tidak cukup untuk membalik anggapan Barat terhadap Timur (baca:Islam) yang telah mengakar. Perlu gotong royong untuk mengubah citra negatif Islam dimata Barat.

Sejumlah aksi kekerasan yang dilakukan umat Islam semakin tak mampu menghadirkan Islam yang ramah dan santun. Aksi terorisme pada 11 September, di Bali, JW.Marriot dan lain-lain semakin menguatkan “keyakinan-negatif” Barat terhadap Islam. Wilders adalah salah satunya. Memang, tak semua kalangan Barat mengumbar kebencian terhadap Islam. Karen Amstrong, Sachiko Murata, Annemarie Shimmel dan tokoh-tokoh lainnya telah memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap kajian

Islam. Tetapi, kajian-kajian simpatik mereka terhadap Islam tidak akan bermakna apa-apa jika umat Islam selalu melancarkan aksi-aksi kekerasan, terorisme dan eksklusifme.

Sebenarnya, Fitna mestinya tak memunculkan kemarahan yang berlebihan dari umat Islam. Karena berjudul Fitna, film tersebut bukanlah elaborasi ideal dan obyektif tentang Islam. Pilihan judul Fitna barangkali sudah disadari oleh Wilders. Kendati ia memang dikenal sebagai sosok yang anti-pati terhadap Islam, tetapi apa yang dibuat tak selamanya salah.

Bukankah sebagian umat islam sudah terbiasa meneriakkan ayat-ayat al-Qur’an untuk melakukan kekerasan dan pengrusakan sarana-sarana umum dan tempat ibadah. Bukankah teriakan “Allahu Akbar” kini tak lagi membangkitkan semangat nasionalisme sebagaimana pada era Bung Tomo, melainkan spirit untuk memberangus kebebasan dan toleransi beragama. Bukankah karya Wilders tersebut menggambarkan kenyataan sebagian umat Islam saat ini.

Saya membayangkan ada sebuah film dokumenter yang menanyangkan aksi-aksi kekerasan umat Islam dengan mengumbar ayat-ayat al-Qur’an, semangat jihad dengan berkalung sorban. Setiap penyerbuan terhadap markas Ahmadiyah, non-Muslim, ceramah-ceramah profokatif tentang jihad (dalam arti al-qital) ala Osama Bin Laden, Ja’far Umar Thalib, dan tokoh-tokoh yang sejenis tampaknya perlu didokumentasikan guna melengkapi karya Wilder.

Ya ayyuhal muslimun, karya Wilders tak mengada-ada. Film Fitna itu menggambarkan aspek sosiologis dan teologis umat Islam yang sebenarnya. Jika anda tak sependapat dengan pernyataan ini, mari kita bersama-sama menghadirkan islam yang santun, ramah, inklusif, pluralis dan berkemanusiaan baik dalam ruang teologis ataupun sosiologis. Aksi kekerasan tak pernah menyelesaikan masalah. Penafsiran secara literal terhadap al-Qur’an sebagaimana yang dilakukan Wilders tak lagi memadai. Disinilah, kontekstualisasi penafsiran terhadap al-Qur’an menjadi penting. Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Moh.Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd dan lainnya telah memulai untuk hal tersebut.[ ]

Entry filed under: Bulletin al-Hurriyah, Renungan. Tags: .

Agama di Bawah Bayang-Bayang Negara Prospek Kebebasan Beragama di Indonesia:Belajar dari Masa Lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: