Dharaba Zaidun ‘Amran

Juli 13, 2008 at 6:29 am Tinggalkan komentar

Seorang kawan suatu ketika berkelakar bahwa Islam mengajarkan kekerasan terhadap sesama muslim dan membangun toleransi kepada pemeluk agama lain. Saya pun terkejut mendengar pernyataan itu. Kawan itu mengajukan sebuah contoh yang sangat familiar dalam kitab-kitab nahwu–gramatika Arab–Dharaba Zaidun ‘Amran (Zaid memukul Umar). Ia menjelaskan bahwa Zaid dan Umar adalah sama-sama muslim. Contoh sederhana dalam ilmu nahwu ini sedikit banyak menggambarkan bahwa Zaid (seorang muslim) memukul Umar (seorang muslim) adalah hal yang biasa. Kenapa tidak ada contoh “Zaid memukul Johanes atau Bush”, misalnya. Karena yang dipukul sesama muslim, maka terhadap non-muslim tidak boleh melakukan kekerasan. Harus toleran.

Tentu, contoh diatas hanyalah sebuah humor. Akan tetapi jika mencermati fakta masyarakat Islam akhir-akhir ini, contoh diatas bukan sekedar contoh, tetapi riil terjadi di lapangan. Bukankah saling serang, memukul, membunuh sudah jamak terjadi dalam dunia Islam. Kasus paling mutakhir adalah penyerangan Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Komando Islam (KLI) terhadap peserta aksi damai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) pada 1 Juni di Tuju Monas.

Jika sejak kecil sudah belajar ilmu nahwu dan menemui contoh diatas, maka benih-benih untuk melakukan kekerasan juga sudah tertanam sejak belia. Hal ini tentu mengandaikan adanya perubahan contoh. Tampak sepele, tapi secara tidak langsung memberikan pengaruh psikologis.

Kendati sekedar humor, tetapi apa yang terkandung didalamnya sangat signifikan untuk kondisi Indonesia saat ini. Sejauh ini, masyarakat muslim sudah cukup gencar untuk membangun toleransi dan bersikap inklusif terhadap agama-agama lain. Sejumlah forum, seminar, dan penelitian sudah sering dilakukan. Hasilnya, toleransi antar agama semakin membaik–kendati masih dijumpai bentuk-bentuk intoleransi.

Toleransi antara agama ini perlu dipupuk dengan baik sembari mengembangkan toleransi intra agama. Pasalnya, umat islam dianjurkan untuk bertoleran terhadap baik agama lain ataupun sesama muslimnya. Perbedaan pandangan ditubuh Islam pada dasarnya setua umur Islam itu sendiri. Di zaman Rasul, perbedaan teologis nyaris tak pernah ditemukan. Tetapi, pasca wafatnya Rasul, perbedaan pandangan sudah tak terelakkan. Perkembangan dan perubahan zaman yang terus bergulir tak mungkin dijangkau secara sempurna oleh aturan-aturan yang dibuat pada empat abad yang lalu.

Disini, perbedaan adalah sebuah keniscyaan. Dan Nabi pun sudah memberikan contoh yang sangat baik perihal apresiasi dan toleransi terhadap pandangan yang berbeda dengan dirinya. Keyakinan tak pernah dihadapi dan dilawan dengan cara-cara fisik seperti perang. Jika di Jazirah Arab telah tersebar sejumlah keyakinan yang beraneka ragam, ia tak pernah memaksa untuk mengikuti keyakinan Muhammad. Artinya, penyebaran Islam dimasa-masa awal bukan dilancarkan dengan pedang dan kekerasan.

Yang dilakukan nabi adalah bersikap santun, sopan, penolong, ramah dan membela terhadap yang minoritas. Dengan menampilkan sikap-sikap yang terpuji tersebut, agama yang dibawa oleh Muhammad mendapat diterima baik oleh orang-orang Arab saat itu. Tak terbayangkan, jika nabi melakukan dakwah dengan cara-cara kekerasan sebagaimana yang dilakukan oleh FPI saat ini, belum tentu Islam hadir dihadapan kita. Ia akan tenggelam bersama darah pengikut dan musuh-musuhnya.

Nabi pun mengayomi kelompok-kelompok minoritas yang termarginalkan. Tak heran jika yang menjadi pengikut nabi di zaman awal bukanlah kalangan politisi, negarawan dan bangsawan tetapi justru para budak dan orang-orang yang tertindas. Saat ini, kondisinya terbalik. Kalangan elit agamawan, negarawan, politisi dan bangsawan-lah yang seakan-akan memegang otoritas kebenaran tafsir terhadap Islam.

Cara-cara kekerasan bukanlah dakwah Islam, melaikan pengrusakan terhadap Islam itu sendiri. Hadirkan Islam dengan cara santun. Amar ma’ruf bil ma’ruf, nahi munkar bighairil munkar. Bahw a mengajak kebaikan harus dengan cara-cara yang baik dan memberantas kemungkaran tidak boleh dengan cara destruktif.

Yang penting dilakukan saat ini, adalah lomba-lomba untuk menghadirkan Islam sebagai agama yang santun, ramah, inklusif dan membela kepentingan kelompok minoritas. Agenda ini jauh lebih penting daripada mengurusi kepercayaan dan keyakinan per individu.

Bahwa, vonis sesat, mencaci maki, kekerasan baik di internal umat Islam maupun terhadap agama hanyalah menodai Islam itu sendiri. Jangan nodai keagungan Islam oleh egoisme anda; apakah egoisme untuk berkuasa, egoisme untuk menang sendiri, egoisme merasa benar sendiri, ataupun egoisme-egoisme lainnya.

Akhirnya, kita tampaknya perlu contoh lain seperti rahima zaidun ‘amran wa johanes. Inilah tugas seluruh umat Islam.[]

Hatim Gazali

Entry filed under: Bulletin al-Hurriyah, Renungan. Tags: .

Al-Hurriyah Edisi Ke II Terbit SKB Ahmadiyah:Menghakimi Sebuah Keyakinan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: