Balada Seorang “Mujahid” Lesbian

Juli 16, 2008 at 6:35 am Tinggalkan komentar

Olehj: Amanah Nurish: Mahasiswi Pasca Sarjana CRCS UGM – Yogyakarta

  • Judul Buku : Beriman Tanpa Rasa Takut (The Trouble With Islam Today)
  • Penulis : Irshad Manji
  • Pengantar : Prof. Khaleel Mohammed
  • Penerbit : Nun Publisher dan KPI, 2008, 342 + xi
  • Ini PR besar untuk kita semua, umat Islam. Beberapa waktu yang lalu kita telah dibangunkan dari tidur panjang oleh feminis muslim yang dijuluki sebagai mimpi buruknya Osama bin Laden. Buku The Trouble With Islam Today atau Beriman Tanpa Rasa Takut yang sedikit sexy dan centil karya Irshad Manji, seorang lesbian sejati, kembali menguliti, mengobrak-abrik serta menelanjangi Islam habis-habisan dari berbagai sudut pandang atas nama IJTIHAD.

    Buku ini membongkar karakter Islam-Arab yang mestinya segera mencuci otaknya kembali, jika ingin berkembang. Karena selama ini Islam adalah agama yang sangat tertutup dalam hal ij-ti-had!, Yang sebenarnya itu hanyalah politik orang-orang Arab yang harus segera diakhiri. Ekstrem, keranjingan, dan penuh gairah, fakta-fakta kebobrokan dari Negara-negara Islam-Arab yang disampaikan Irshad Manji dalam tulisannya, baik dari fakta sosial maupun fakta kultural, sehingga menimbulkan ejakulasi dan penetrasi kemarahan yang luar biasa dari kalangan Islam fundamental. Arab, yang notabenenya sebagai kiblat Islam dengan sengaja melakukan gerakan kolonialisasi serta pemerkosaan ideologi di berbagai belahan dunia dengan mengatasnamakan Islam, baik dalam soal budaya, sosial, ekonomi, gender, politik dll.

    Konsep ijtihad yang ditawarkan oleh Irshad adalah membongkar paradigma lama dimana siapapun bisa melakukan ij-ti-had, bahkan setiap umat Islam wajib menggunakan akal dan fikirannya untuk mencari kebenaran hakiki, bukan kebenaran dalam standar Arab. Ijtihad tidak hanya milik para mullah laki-laki dan para pemegang otoritas tetapi juga milik perempuan.

    Islam harus menunjukkan kembali sebagai agama yang berwajah ramah dan toleran serta mempu memayungi dari tiap-tiap perbedaan umat manusia di muka bumi, seperti kaum lesbian dan homosexual sebagai sesama makhluk Tuhan yang juga berhak diakui keberadaannya. Bukan malah dihakimi atau bahkan dihukum rajam lantaran dianggap menodai syari’at Islam.

    Perempuan, juga sengaja diplintir sedemikian rupa oleh budaya Arab kemudian dijadikan tumbal sebagai kurikulum keagamaan bahwa perempuan adalah inferior dan laki-laki superior. Dalam fiqh, perempuan tidak boleh menjadi Imam sholat bagi laki-laki. Asbabun nuzulnya jika perempuan menjadi Imam dari laki-laki, pada saat ia (Imam perempuan) melakukan gerakan ruku’ dan sujud maka bokong perempuan akan mengganggu konsentrasi sholat para jama’ah laki-laki yang berada di belakang Imam perempuan. Oleh karena itu, para ulama’ fiqh dulu sepakat “ketok palu” untuk melarang perempuan mengimami laki-laki. Hah? kenapa harus perempuan yang menanggung kelemahan laki-laki? Masih tentang perempuan, lagi-lagi doktrin Arab menghalangi kemerdekaan serta hak asasi perempuan.

    Di Pakistan, rata-rata dua perempuan mati setiap hari akibat “pembunuhan atas nama kehormatan”, demikian catatan Irshad Manji. Menurut ajaran Islam-Arab perempuan harus menutup tubuhnya dengan Jubah dan cadar agar selamat dari serangan debu dan juga pemerkosaan, selain karena alasan geografis sebagai daerah padang pasir yang sarat debu, juga alasan biologis laki-laki yang sarat nafsu.

    Pendek kata, laki-laki tidak tahan melihat perempuan tanpa cadar karena kecantikan dan keindahan tubuhnya. Nah, lagi-lagi perempuan yang harus menanggung kelemahan serta kesalahan laki-laki. Bagi saya, paradigma semacam itu harusnya dibalik. Karena memang laki-laki itu lemah maka logikanya yang mesti memakai cadar adalah laki-laki, dan yang harus dijaga baik-baik itu justeru tubuh laki-laki sendiri. Singkatnya, andaikata laki-laki bisa menahan tubuh serta dirinya sendiri maka tidak akan ada pemerkosaan terhadap perempuan, perempuan akan bisa menjadi imam sholat dan banyak lagi hak-hak perempuan yang akan terpenuhi seandainya itu terjadi.

    Irshad manji memang sedikit nakal dan liberal bagi kaum fundamental, sehingga karena tulisan serta ceramah-ceramahnya di depan publik, Ia sering mendapat teror dan ancaman kematian dari kelompok mujahidin di berbagai penjuru dunia. Namun Irshad tetap yakin bahwa langkahnya dalam berijtihad akan senantiasa dilindungi oleh Tuhan.

    Kini, saatnya dua menara Islam-Arab memang harus segera dihancurkan, yakni menara kesombongan dan menara kebohongan. Jika dua hal ini bisa dihilangkan maka pintu ijtihad akan terbuka lebar-lebar, dan siapapun layak menjadi mujtahid termasuk kaum lesbian seperti dirinya.

    Entry filed under: Bulletin al-Hurriyah, Resensi. Tags: .

    SKB Ahmadiyah:Menghakimi Sebuah Keyakinan Premanisme Berjubah dan Islam Damai

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


    SELAMAT BERPUASA

    Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

    Kategori

    NGARSIP


    %d blogger menyukai ini: