Premanisme Berjubah dan Islam Damai

Juli 17, 2008 at 6:39 am 1 komentar

Oleh: Muwafiqotul Isma (Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Aksi kekerasan yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) dan Komando Laskar Islam (KLI) terhadap anggota aksi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di lapangan Momumen Nasional tentu menodai prinsip berbangsa dan bernegara(1/06). Di tengah memperingati hari Pancasila, penyerangan FPI itu seakan menggeser negara yang berasaskan Pancasila kepada negara yang berasaskan “Premanisme Berjubah”

Kekerasan itu mestinya tak terjadi. Polisi yang sudah mengetahui tentang rencana bertemunya dua kelompok yang bersebrangan justru melakukan “politik pembiaran”. Akibatnya, sederet nama menjadi korban dan masuk rumah sakit, Tak kurang dari 30 orang babak belur akibat ulah tak beradab tersebut, diantaranya M. Guntur Ramli (host Kongkow Bareng Gus Dur) dan Ahmad Suaedy (Direktur The Wahid Institute), KH. Maman Imanul Haq (Pengasuh Pondok Pesantren al-Mizan), Imdadun Rahmat (PP Lakpesdam NU), dan lain sebagainya.

Penyerangan dan aksi kekerasan ini diyakini oleh Laskar FPI sebagai bentuk peperangan (jihad dalam makna al-qital). Tentu bukanlah berperang melawan kolonialisme, melainkan peperangan terhadap kelompok yang diyakini kafir, murtad. Tak pelak, teriakan Allahu Akbar terus bergemuruh sembari memukuli anggota AKKBB yang dianggap kafir itu. Di samping menindak pelaku dan meminta pertanggungjawaban Habib Rizieq sebagai ketua FPI dan Munarman sebagai Panglima KLI, hal yang tak kalah pentingnya adalah upaya menggeser pemahaman Islam yang penuh dengan kekerasan dan darah kepada Islam yang santun dan cinta damai. Bagaimana sebenarnya konsep jihad dalam Islam serta penggunaan kalimat Allah untuk melakukan tindakan tak beradab?

Allahu Akbar Untuk Damai

Di tangan bung Tomo, teriakan takbir dan semangat agama menjadi modal untuk membangkitkan rasa nasionalisme untuk mengusir penjajah di negeri ini. Tapi, kata Allahu Akbar itu kini seringkali bersanding dengan sejumlah kekerasan dan diskriminasi. Lihat saja aksi-aksi beberapa umat Islam yang melakukan pengrusakan dan kekerasan sembari meneriakkan ucapan takbir.

Tuhan lebih banyak dipahami sebagai sifat al-Jabbar dan al-Qahhar daripada al-Rahman dan Rahim. Artinya, disebagian hati umat Islam, Tuhan adalah dzat yang anti dialog dan perbedaan. Sehingga, bentuk amarah mereka terhadap sejumlah kelompok yang dianggap sesat seperti Ahmadiyah tidak lain merupakan manifestasi dari amarah tuhan. Akan tetapi, berbeda dengan bagi kelompok yang lebih memandang tuhan dengan dzat Rahman dan Rahimnya. Bagi kelompok ini, Tuhan begitu santun, dialogis, pro pluralisme sehingga segala bentuk kekerasan tidak pernah dibenarkan. Melalui pemahaman inilah, bisa dimengerti mengapa kekerasan atas nama agama dan Tuhan tak pernah berakhir di negeri ini.

Disamping faktor-faktor sekuler, sejumlah kekerasan yang tengah menggurita di masyarakat seringkali berpangkal dari perbedaan teologis. Yakni terkait dengan asumsi manusia tentang Tuhan; apakah al-Jabbar yang penuh dengan amarah dan siksaan ataukah al-Rahman yang sarat akan kasih sayang, karunia dan pengampunan. Kejamakan cara pandang teologis tidak serta membawa kemaslahan, akan tetapi seringkali menghadirkan sejumlah tindakah diskriminatif dan dehumanis.

Padahal, secara normatif, Islam telah mengajarkan umatnya untuk bertoleransi, menebar kasih sayang, dan melarang segala tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Ajaran-ajaran Islam yang terkodivikasi secara rapi dalam al-Qur’an dan hadist diharapkan mampu di daratkan ditengah-tengah kehidupan sosial dengan baik. Dan, Muhammad sebagai pembawa “kabar gembira” tidak lain hadir untuk mentransformasikan nilai-nilai ketuhanan.

Karena itulah, agama yang dibawa oleh Muhammad ini sangat menolak adanya kekerasan, ketidakadilan, penindasan, diskriminasi baik yang menimpa umat Islam maupun non-muslim. Sedemikian tinggi apresiasi Muhammad terhadap perbedaan agama dan sedemikian tegasnya Muhammad menolak diskriminasi dan ketidakadilan sehingga ia dengan senang hati menandatangani Piagam Madinah, sebuah aturan praktis yang mengatur hubungan sosial masyarakat Madinah yang plural itu.

Dalam sejarah juga telah tercatat bahwa memberikan kebebasan terhadap pemeluk non muslim, dengan mengatakan antum thulaqa (kalian semua bebas) ketika proses Fath Mekkah. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa Islam juga melancarkan peperangan. Akan tetapi, sejauh penelusuran penulis, peperangan terjadi bukan semata-mata faktor teologis tetapi lebih kepada sikap defensiv dari segala serangan musuh. Perbedaan teologis tidak pernah menjadi persoalan sehingga mengharuskan nabi berperang kecuali jika mengancam stabilitas dan menganggu norma-norma yang telah disusun bersama.

Dari sini bisa dimengerti bahwa perjuangan untuk melakukan perubahan social membutuhkan modal social yang tidak sedikit.

Jihad Perdamaian

Konsep jihad yang seringkali dipahami oleh pemeluknya sebagai tindakan kekerasan justru bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, sudah saatnya kita memaknai kembali makna Jihad yang acap menjadi legitimasi bagi adanya kekerasan.

Apapun alasannya, kekerasan sama sekali tidak bisa dibenarkan dalam agama-agama, termasuk Islam. Semua agama sepakat bahwa kekerasan bukanlah solusi untuk menyelesaikan problem kemanusiaan.

Kekerasan justru akan melahirkan sebuah kekerasan baru yang lebih dahsyat. Inilah yang disebut oleh Com Helder Camara sebagai “kekerasan spiral”. Artinya, ada banyak rentetan dari kekerasan, dan tidak akan menemukan titik akhir, hingga kiamat menjemput kita semua. Jika demikian, manusia sebagai khalifatullah fiy al-ardh sebenarnya memiliki tanggungjawab untuk membangun tatanan dunia yang harmonis, damai dan sejahtera.

Tanpa itu, kekhawatiran dan pertanyaan para Malaikat kepada Tuhan sebagaimana yang tergambar dalam al-Qur’an bahwa kehadiran manusia ke muka bumi akan menambah kekacauan dan pertumpahan darah ini seketika dapat dibenarkan. Sehingga label manusia sebagai khalifatullah fiy al-ardh yang bertugas untuk melestarikan hidup ini perlu dipertanyakan ulang.

Dalam konteks itulah, penyerangan FPI jelas tak mencerminkan umat Islam yang baik dan sekaligus menodai nilai-nilai yang dikandung Pancasila. Menindak tegas pelaku kekerasan dan memberikan pemahaman tentang Islam yang damai dan santun perlu menjadi agenda strategis dimasa-masa mendatang. Biarkan tindakan hukum diserahkan kepada yang berwenang, sementara organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah harus lebih giat untuk mengembangkan Islam rahmat lil ‘alamin.

Entry filed under: Bulletin al-Hurriyah, Opini. Tags: .

Balada Seorang “Mujahid” Lesbian Menolak Teologi, Membela Pengikutnya

1 Komentar Add your own

  • 1. ahmad hasyim  |  November 12, 2008 pukul 3:42 am

    di indonesia ada singa islam yang bersikap seperti singa=FPI,FUI,KLI dan ormas yang kalian sebut islam garis keras

    ada singa islam yang bersikap seperti kambing,takut ambil resiko,hidup cuma cari aman,takut berkonfrontasi dgn pemerintah NKRI(negara kafir republik indonesia).

    ada juga kambing yang bersikap seperti anjing,menjilat kepada kafir barat,sekutu dgn zionis laknatullah seperti si buta yang di puja2 kebanyakan warga NU

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: