Agama Merespon Globalisasi

Agustus 2, 2008 at 3:54 pm Tinggalkan komentar

Perubahan sosial yang berlangsung amat cepat sebagai dampak dari globalisasi, melahirkan berbagai persoalan, baik social, ekonomi, politik dan agama. Pada satu sisi, era globalisasi memberi peluang lebar bagi semua komunitas untuk ‘berbaur’ dengan komunitas lain. Di sisi lain, globalisasi justru menebar ancaman bagi komunitas yang tidak siap menahan lajunya.

Berbagai komunitas agama baik di Indonesia maupun di negara-negara lain memiliki keprihatinan bersama menyangkut globalisasi. Pada sebuah konferensi internasional tentang agama dan globalisasi, yang diselenggarakan oleh Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Gadjah Mada University & Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS-Yogya), 30 Juni-3 Juli 2008 di Pasca Sarjana UGM, problem globalisasi agaknya perlu mendapat perhatian serius dari semua kalangan, terutama komunitas beragama. Sebab, dampak negatif yang ditimbulkan globalisasi bila ditinjau dari berbagai sisi, baik sosial, budaya, ekonomi, politik maupun media telah melahirkan perilaku negatif pula dalam kehidupan manusia. Demikian pandangan umum yang disampaikan sejumlah panelis yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Dengan mengangkat tema, “Globalization : Challenge and Opportunity for Religions” sejumlah panelis memaparkan pandangan-pandangan mereka tentang globalisasi, dan respon terhadapnya dari berbagai perspektif. Sejumlah tokoh dan pemikir baik dari dalam maupun luar negeri hadir dalam kegiatan tersebut. Ini menunjukkan bahwa problem globalisasi tidak hanya menjadi milik satu komunitas atau negara tertentu, tetapi juga menjadi problem semua kalangan (negara, red).

Salah seorang panelis menuturkan, arus globalisasi yang saat ini berkembang merupakan keniscayaan sejarah yang melanda semua umat manusia. Yang perlu dilakukan saat ini adalah menekankan pentingnya pembangunan solidaritas kosmopolitan bagi umat manusia. “Karena itu, proses globalisasi harus didukung dan diarahkan untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan” jelas panelis tersebut. Ia juga menegaskan, dalam menghadapi globalisasi, semua individu hendaknya melihat dirinya sebagai bagian dari masyarakat internasional sehingga bisa membuka diri untuk bekerja sama dan memperhitungkan kepentingan pihak-pihak lain di dunia. “Tugas utama masyarakat, khususnya bagi komunitas umat beragama yang terpenting saat ini adalah bagaimana menjadikan dan meningkatkan hubungan antar-agama lebih harmonis agar terhindar dari konflik” jelasnya. Senada dengan panelis tersebut, panelis lain melayangkan pendapat agar agama dapat dijadikan benteng pertahanan yang kokoh membendung arus (negatif) globalisasi. Oleh karena itu, ummat beragama harus menunjukkan bukti kepada dunia bahwa agama hingga kini mampu memecahkan persoalan yang dihadapi pemeluknya dan umat manusia seluruhnya. Hal itu bisa dilakukan hanya bilamana agama dapat menyerap nilai-nilai kontekstual yang berkembang.

“Bila tidak, agama akan terus dihadapkan pada posisi krusial dan akan sulit menjadi rujukan bagi pemeluknya dalam menyikapi perubahan kehidupan yang semakin cepat,” jelasnya. Agar agama dapat kontekstual terhadap perkembangan zaman, perlu dikembangkan sikap kritis terhadap segala tafsir agama yang telah kehilangan konteks zaman. Melalui kritik yang proporsional, agama diharapkan dapat berfungsi kembali sebagai jawaban atas persoalan umat manusia, jelasnya.

Pandangan kedua panelis di atas, barangkali cenderung berbeda dengan beberapa panelis lainnya. Bila mereka ‘berkompromi’ dengan keniscayaan globalisasi, pendapat berbeda diungkapkan panelis lain. Muhammad Ismail Yusanto, juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia mengungkapkan globalisasi perlu “dilawan” karena tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Perlawanan terhadap globalisasi, menurut Yusanto, perlu dilakukan misalnya dengan membuang jauh ideologi-ideologi bawaan globalisasi, seperti demokrasi, pluralisme, isu tentang HAM, Dialog Antar Agama, dan pasar bebas (free market). Dan sebagai solusinya, penegakan syariah Islam perlu dilakukan, ungkapnya.

“Solusi syariah untuk globalisasi setidaknya terdapat dalam tiga agenda. Yakni, menegakkan negara khilafah; menerapkan sistem ekonomi Islam dalam negara khilafah; menghapuskan keberadaan PBB berikut seluruh organnya (seperti Bank Dunia dan IMF), seluruh hukum dan undang-undang internasional yang ada (seperti Piagam PBB), dan juga koalisasi negara-negara adidaya seperti WTO dan NATO. Dengan demikian, hanya khilafah-lah solusi permasalahan globalisasi akan terpecahkan'” jelasnya. Lalu bagaimana sebenarnya respon agama terhadap globalisasi?

Dua Bentuk Respon Agama

Dalam konteks agama, misalnya, merujuk pada pandangan sejumlah pemikir keagamaan, pengaruh globalisasi terhadap agama, setidaknya dapat dilihat dari munculnya dua respons agama yang tampaknya berlawanan. Respon pertama, komunitas agama bisa atau mampu merambah dunia global. Artinya, mereka ‘menerima’ globalisasi sebagai bagian dari proses hidup yang sudah digariskan Tuhan. Dan manusia, sebagai khalifah, ditugaskan untuk “mengawal”-nya. Ada pandangan kultural yang menjadi alasan kelompok ini. Bahwa sejatinya semua ummat manusia dengan beragam jenisnya ada dalam kebersamaan. Mereka dapat belajar satu sama lain sehingga dapat menjalin kerja sama sehingga pada akhirnya mengantar umat beragama pada kesatuan kemanusiaan sebagai satu keluarga.

Adapun respon kedua adalah kecenderungan sebaliknya. Yakni kecenderungan komunitas agama tertentu merespons globalisasi dengan menolak, mengasingkan diri sembari menekankan keberbedaan. Fenomena ini, dapat kita lihat dan rasakan dari muncul dan menguatnya fundamentalisme agama, baik di komunitas Islam, Kristen, Hindu, dan agama lainnya serta beragam “fundamentalis” nasionalisme disejumlah tempat. Hal itu menjadi fakta yang tak terbantahkan. Selain itu, lahir pula animo untuk mengglobalkan komunitas agama tertentu, seperti penyebaran idiologi “khilafah” dan juga kristenisasi.

Dari kedua pandangan di atas, tentu saja para pemuka agama harus cermat menghadapi permasalahan tersebut. Bila mereka tidak cermat melihat fenomena ini, bukan tidak mungkin yang terjadi justru benturan antar komunitas agama. Alih-alih agama dapat menjadi benteng yang kokoh guna membendung arus globalisasi, yang terjadi mereka justru terjebak dalam pertikaian.

Apa yang mesti dilakukan?

Agar semua agama benar-benar dapat efektif membendung arus globalisasi, maka komunitas-komunitas ummat beragama semestinya dapat bekerjasama dengan baik. Seorang panelis mengingatkan, agar masyarakat dunia jangan terus terjebak pada dikotomi Barat-Timur. Barat dan Timur harus bekerja sama untuk membangun peradaban, jelasnya.

Hendaknya komunitas antarumat beragama dapat bekerja sama dalam menghadapi tantangan globalisasi yang semakin serius. Komunitas antarumat beragama harus berbagi tantangan yang sama karena globalisasi memunculkan berbagai persoalan yang besar. Dialog antara Islam dan Barat perlu dikembangkan dan isu-isu lokal serta global perlu dibicarakan bersama-sama, ungkap katanya. “Semua itu diharapkan dapat menghindarkan terjadinya perang simbol antarumat beragama. Jika berbagai komunitas sudah terjebak pada fenomena itu, yang terjadi hanya konflik” jelasnya.
Dengan demikian, yang wajib dilakukan saat ini adalah bagaimana komunitas antarumat beragama lebih mendalami semangat etis dan paradigma perubahan yang menjadi tuntutan zaman. Sebagai langkah awal, perlu dilakukan perubahan kultur yang serba-eksklusif menjadi serba-inklusif. Komunitas antarumat beragama harus membuang jauh konsepsi agama yang sempit dan eksklusif yang cenderung membatasi kebajikan sebagai milik “kita” saja, dan “mereka” tak punya.

Bagaimanapun, realitas sosial kini telah mendorong masyarakat untuk menyingkirkan sikap eksklusif dan mengembangkan orientasi universal terhadap agama sehingga dapat lebih mengakomodasi “yang lain” (the other). Hanya dengan itu tantangan globalisasi akan mampu dijawab oleh komunitas ummat beragama. [Abdul Hamid Razak]

Sumber : Bulletin al-Hurriyah Edisi III/Juli 2008

Entry filed under: Bulletin al-Hurriyah, News. Tags: .

Edisi III Terbit, Edisi IV Call for Papers Ketika Waktu Memodernisasi Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: