Ketika Waktu Memodernisasi Agama

Agustus 4, 2008 at 4:09 pm Tinggalkan komentar

Oleh : Ali Usman [Alumnus program teologi dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta]

Ber(agama) di kehidupan modern sekarang ini sungguh menjadi daya pikat yang tak terbantahkan. Kehadirannya tidak lagi dihujat dan dihindari secara sinis sebagimana yang pernah dilakukan oleh kaum ateis di awal-awal perkembangan ilmu pengetahuan beberapa abad silam. Animo masyarakat yang menyambut posotif agama tersebut menguatkan tesis Peter L. Berger (1991), yang menurut sosiolog humanistik itu sebagai kanopi suci (the secret canopy).

Agama, tulis Berger, ibarat langit suci yang teduh dan melindungi kehidupan. Agama sebagai penyiram panasnaya kehidupan, yang dapat menumbuhsuburkan tanaman. Dengan agama, manusia menjadi memiliki rasa damai, tempat bergantung, bahagia, dan memiliki ketenteraman hidup. Agama juga dapat melindungi manusia dari chaos, dari ketidakberartian hidup, dari situasi hidup tanpa arti.
Dari itu, secara ideal dan teoritis, pendapat Berger di atas tentu dapat dibenarkan, dan tak ada yang menyangkal kebenarannya. Namun dalam praktiknya, ketaatan beragama yang “berlebih” dalam dekade belakangan ini mulai diragukan, dikritik, dan diprotes oleh sebagian kalangan. Hal itu terjadi lantaran beberapa persitiwa seperti konflik antara etnis, bom bunuh diri, dan tindak kekerasan, disinyalir bersumbu pada ketaatan yang sangat “ekstrim” dalam memahami doktrin-doktrin agamanya.

Maka tak salah bila kemodernan dalam wujud modernisasi menjadi kegalauan sekaligus kekaguman manusia modern. Termasuk di dalamnya, kaum agamawan yang saat ini banyak mulai mengoreksi kembali pola dan ajaran keagamaan yang dipraktikkan oleh umatnya. Karena tak jarang, sekali lagi, sejumlah tragedi kemanusiaan telah menjadi teror terhadap keberlangsungan hidup manusia di bumi dengan mengatasnamakan agama. Di sini, kemajuan teknologi seolah tak seirama dengan pemahaman umat beragama itu sendiri.

Lihatlah tragedi 11 September 2001yang oleh Amerika Serikat ditudingkan kepada para “teroris”secara nyata menjadikan pesawat terbang (buah kemodernan) sebagai sarana untuk meluluhlantahkan gedung kebanggaan WTC, yang seketika itu pula mayat-mayat tak berdosa bergelimpangan dan terkapar. Begitupula yang terjadi di Tanah Air, sejumlah teror bom juga kerap terjadi di tempat-tempat strategis seperti tempat ibadah, Kedubes, pasar, hotel dan lain sebaginya.

Disinilah letak tantangan lembaga keagamaan berhadapan dengan perubahan zaman. Kemodernan menjadi kebutuhan manusia sebagai konsekuensi logis dari kehidupan yang makin dinamis. Sedangkan di lain pihak, hasil kemodernan seperti bom, pesawat dan senjata, justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tak bertanggungjawab untuk membinasakan manusia yang lain. Ironisnya lagi, semua itu kadang berlindung di balik dogma agama sebagai kata perintah dalam bertindak.
Lantas, apa yang salah dari agama? Semua orang tentu bersepakat bahwa tidak ada agama manapun yang menyuruh pemeluknya untuk melakukan tindak kekerasan dan teror. Semua agama di dunia dipastikan mempunyai konsep dan ajaran ideal untuk perdamaian manusia di bumi. Dengan begitu, mengacu pada kasus tersebut, jelas yang patut disalahkan bukan agamanya, apalagi Tuhan. Tetapi para pemeluknya-lah yang tidak mampu memahamai ajaran-ajaran agama yang sesungguhnya bersifat manusiawi itu.

Pembaruan agama

Disadari atau tidak, perkembangan zaman begitu pesat dan serba canggih, sementara agama hanyalah “warisan kono” untuk kemudian diterjemahkan mengikuti perkembangan arus zaman tersebut. Posisi ini jelas menimbulkan “kepincangan”, sebab, di satu sisi realitas selalu berubah dan mengalami kemajuan dalam hitungan detik. Sedangkan agama bersifat statis, tak boleh dirubah (dalam artian merombak nilai-nilai ajarannya).

Kaum agamawan yang menyadari bahwa perubahan radikal dalam kehidupan itu tidak terelakkan, dan merupakan buah dari perkembangan sejarah peradaban, memikirkan ulang kiprah agamanya di zaman sekarang sebagai bentuk pertanggungjawaban penghayatan religiusnya. Letak tantangan lembaga keagamaan dengan demikian, berhadapan langsung dengan perubahan zaman. Tetapi tak jarang mereka yang merasa mapan dengan kedudukannya (status quo) cenderung mencurigai perubahan-perubahan itu dan menafikannya bukan sebagai tantangan untuk direnungkan, melainkan sebagai bahaya untuk dihindari atau ditanggulangi.

Sepanjang sejarah, perlakuan terhadap agama memang beragam. Tidak hanya zaman yang mesti disikapi oleh agama, tetapi belakangan ini agama juga dikritik habis oleh para pemeluknya sendiri. Kritik pedas terhadap agama yang menandai tahap akhir dari zaman metafisik dan yang paling mengguncangkan para pemeluk agama, tentu saja datang dari ketiga tokoh yang oleh Paul Ricoeur disebut sebagai “pengajar kecurigaan” (maitre de soupcon).

Sigmund Freud (1858-1939) mensinyalir bahwa agama akan menjadi penyakit saraf yang mengganggu manusia, Friedrich Nietszche (1844-1900) melalui pengamatan subyektifitasnya menyimpulkan bahwa Tuhan telah mati (god is dead), dan Karl Marx (1818-1883) dengan lantang mengatakan, agama sebagai candu masyarakat (opium of the people).

Karena itu, A. Sudiarja (2006) mencanangkan dua perubahan “mendesak” untuk segera dilakukan dalam mengatasi zaman seperti itu. Pertama, pembaruan dimensi teologis, yaitu dengan mereinterpretasi pemahaman doktrin agama yang selama dipahami secara literlek, kaku dan dogmatis.

Artinya, teologi harus berani melakukan penelitian lintas ilmu, memanfaatkan ilmu-ilmu lain yang dewasa ini merupakan kelaziman. Tidak baik teologi memisahkan diri dalam menara gading yang suci, tak tersentuh oleh orang lain. Paling tidak, teologi sejatinya bisa menjawab kecurigaan yang pernah dilontarkan oleh A. N. Whhiteheed, “theologian of todays always works with philosophy of yestreday“.
Kedua, pembaruan yang menyangkut dimensi etis dalam menumbuh-kembangkan solidaritas kemanusian. Model pembaruan ini hendak menegasikan bahwa globalisasi merupakan fakta yang sudah dan sedang berlangsung. Nilai-nilai yang ditawarkan di dalamnya juga memuat hal-hal positif seperti kemajuan ilmu, penghargaan kesetaraan manusia, kesadaran hak-hak asasi, dan sebagainya.

Kiranya lebih tepat melihat kenyataan tersebut dengan anggapan bahwa jawabannya harus dicari bersama. Meminjam istilah Habermas, perjuangan kita sekarang bukanlah satu melawan yang lain (fight against) dalam kemajemukan sistem nilai, melainkan perjuangan bersama untuk (fight for) menemukan sistem yang saling melengkapi. Wallahu ‘alam.[]

Sumber: Bulletin al-Hurriyah Edisi III/Juli/2008

Entry filed under: Bulletin al-Hurriyah, Opini. Tags: .

Agama Merespon Globalisasi Menolak Globalisasi Sama Halnya Menolak Realitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: