Menolak Globalisasi Sama Halnya Menolak Realitas

Agustus 6, 2008 at 4:16 pm Tinggalkan komentar

Masalah globalisasi masih menjadi problem yang perlu disikapi bersama. Tanpa melihat dari mana latar belakang kita, kita harus mampu duduk bersama guna mencari solusi dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh arus besar globalisasi. Agama yang masih dipandang sebagai antiklimaks globalisasi ternyata masih terlalu kaku mengimbangi globalisasi. Terkait dengan permasalahan tersebut, R. Guntur Karyapati dari CRSe mewawancarai Dr. Zainal Abidin Bagir, Direktur Eksekutif CRCS-UGM Yogyakarta

Apa latar belakang dan tujuan yang ingin dicapai CRCS dan ICRS mengangkat tema agama dan globalisasi dalam internasional conference kemaren?
Latar belakangnya, kita mulai dengan dua hal yang berbeda pada awalnya namun itu jadi satu dalam conferensi ataupun workshop. Dua hal tersebut adalah: Pertama, dari segi tema “Agama dan Tantangan globalisasi”, itu sendiri merupakan salah satu isu yang penting saya kira. Sselain itu masalah ini juga merupakan masalah yang sering diperbincangkan oleh semua orang. Tidak peduli agamanya apa, kalau kita berbicara dampak globalisasai semua orang kena. Kedua, bagaimana semua orang dari latar belakang agama yang berbeda bisa duduk bersama membicarakan masalah bersama ini. Tujuannya ada dua, pertama apa yang bisa diberikan umat beragama. Kedua, ruang di mana orang dari latar belakang kelompok yang berbeda-beda itu bisa ketemu.

Satu hal yang paling penting itu bagi semua orang bahwa globalisasi punya dimensi yang sangat banyak sekali. Masalah yang kita bicarakan lebih pada dampak globalisasi pada budaya, dampak media, dampak terhadap pendidikan kaum muda, kemudian mengenai masalah krisis lingkungan yang semakin mengglobal. Masalah yang lain mengenai identitas dan simbol keagamaan. Problem-problem itu kita bahas baik dalam workshop maupun konferensi. Cuma sejak awal kita sepakat untuk tidak mengeluarkan deklarasi atau pernyataan bersama. Yang penting prosesnya, kita duduk bareng karena yang penting adalah bagaimana langkah ini nanti kemudian difollow up.

Kenapa globalisasi ini menjadi tantangan bagi agama?
Seperti saya bilang, globalisasi memiliki banyak dimensi, ada ekonomi, politik dan budaya. Kalau dari segi ekonomi politik misalnya, orang bisa merefer ke IMF, Word Bank, lembaga-lembaga keuangan dunia yang kekuasaannya itu bukan cuma satu negara, tapi betul-betul global. Terus ada WTO yang menetapkan aturan perdagangan global juga yang punya dampak macam-macam. Dari segi itu mungkin sistem ekonomi politik bisa menimbulkan masalah. Misalkan Indonesia yang terus mengikuti sebuah peraturan yang mungkin tidak menguntungkan tapi diwajibkan dalam pergaulan global. Jangankan Indonesia, Amerika juga sudah terkena dampaknya.

Kaitannya dengan agama, kenapa banyak muncul gerakan anti-globalisasi berbasis agama, sementara mereka memiliki konsep yang dipaksakan untuk jadi keyakinan masyarakat global. Semisal HTI dengan konsep khilafahnya?
Bagi HTI, kalau kita bicara masalah globalisasi itu adalah persoalan sistem, sistem kapitalis. Sistem kapitalis itu jahat jadi harus diganti. Mereka mengusulkan sistem baru yaitu khilafah. Saya kira mereka melihat ini sebagai sistem yang tidak adil, terutama disetir oleh Barat, jadi harus ada sistem yang lain. Meskipun salah satu diskusi yang muncul dalam konferensi itu bahwa globalisasi itu diidentikkan dengan Amerika atau Eropa, tapi bisa jadi tidak semua hal dalam globalisasi di bawah kontrol ataupun kendali mereka. Semua sudah tidak terkendali. Misalnya, teknologi informasi dan komunikasi. Sekarang siapa yang bisa mengontrol internet, sulit. Internet juga digunakan oleh orang-orang yang tidak disukai oleh Amerika. semisal Osama bin Laden dan kelompok-kelompok anti amerika lainnya.

Adakah satu pola keagamaan yang bisa selaras dengan globalisasi?
Kalau saya melihatnya begini. Pertama, globalisasi itu saya kira tidak bisa ditolak. Itu sudah menjadi realitas kita. Menolak globalisasi sama saja dengan menolak realitas, artinya tidak realistis. Mau tidak mau kita sudah masuk dalam arus pusaran itu. Nah, pertanyaannya kemudian, bagaimana kita bersikap? Bahwa kita mau tidak mau masuk dalam arus globalisasi itu bukan berarti kita tidak bisa kritis. Ada hal-hal yang memang harus dikritisi. Saya kira banyak dari kritik HTI terhadap globalisasi itu betul, tapi alternatifnya apakah itu khilafah atau hal lain, itu sudah urusan lain.
Kritikan semacam itu juga banyak dilakukan oleh kelompok-kelompok lain selain HTI, bahkan dari kelompok di luar Islam sekalipun. Misalnya kritik persoalan nilai-nilai keadilan yang itu tidak terdapat dalam sistem ekonomi hari ini. Itu yang menurut saya harus diupayakan. Dan nilai keadilan itu menjadi salah satu nilai penting dalam agama. Itu bisa menjadi titik tolak dalam melakukan kritik.
Tapi juga banyak hal dalam globalisasi yang bisa membantu kita. Misalnya, teknologi informasi yang membuka pandangan kita. Kita bisa lebih banyak tau informasi. Kita lebih banyak tau orang, atau komunitas-komunitas dunia di bandingkan sepuluh tahun yang lalu. Dunia ini betul-betul terbuka. Dan kita tidak bisa lagi menutup diri, hidup dalam “tempurung” mau melindungi diri dari pengaruh luar, itu sulit. Nah, saya kira sikap lain dari kita yang penting untuk menghadapi hal tersebut adalah kita harus lebih terbuka.

Jadi tidak perlu pola keagamaan yang bisa berjalan seiring atau menolak total?
Susah ya, saya tidak berfikir sistem atau apa. Karena kalau bicara sistem itu mungkin ada bahayanya. Karena sistem itu cenderung tidak fleksibel, cenderung kaku, dan kalau kaku itu bisa cenderung opresif danmMenjadi lebih sulit bertoleransi. Saya tidak mengatakan bahwa sistem khilafah itu kalau memang bisa berdiri terus akan menjadi opresif, kita belum tahu sekarang. Tapi kecenderungannya kalau orang punya sistem yang lengkap yang mencakup semuanya, seringkali bersikap opresif dan lebih sulit mentoleransi. Karena batas-batasnya jelas, orang akan lebih sulit mentoleransi yang di luar garisnya. Padahal justeru globalisasi itu menghapus garis-garis itu atau paling tidak mengaburkannya.

Kalau mengandaikan globalisasi sebagai universalitas lintas kultural, apa Islam juga bagian dari proses globalisasi?
Saya kira, sekali lagi, itu bukan soal mau tidak mau. Tapi itu sudah terjadi. Contohnya, imigrasi ke negara-negara Barat. Orang Eropa sampai sekarang ini saya kira masih terkaget-kaget. Mereka tidak menduga, dari imigrasi ini tiba-tiba ada komunitas-komunitas muslim yang cukup besar di Jerman, Belanda, Perancis dan Inggris. Hal ini juga bagian dari salah satu ciri globalisasi. Kenapa hal ini bisa terjadi, karena adanya kemudahan transportasi. Sekali lagi batas-batas itu makin hilang. Jadi tidak ada lagi komunitas yang murni Eropa. Apalagi di Amerika yang punya sejarah Imigrasi yang jauh lebih panjang, agama Islam di Amerika salah satu agama yang perkembangannya sangat signifikan. Dan ini membuat sebagian orang Amerika merasa ngeri. Nah, hal ini menuntut adanya keterbukaan antara keduanya.

Lalu, bagaimana lokalitas itu bisa diselamatkan dari kekuatan Islam maupun gerakan globalisasi yang lain?
Menurut saya pertanyaan ini agak fundamentalis dalam artian keinginan menjaga kemurnian itu. Saya kira sulit. Orang Islam misalnya, kalau ingin bicara mengenai kemurnian Islam, Islam yang murni yang tidak tercampur dengan budaya lokal, itu sulit. Dan sebaliknya, yang anda sebut dengan lokalitas juga pasti akan berubah.

Artinya semuanya tidak bisa menghindari perubahan?
Benar. kalau anda tanya lokalitas itu akan diselamatkan, menurut saya tidak usah diselamatkan. Buat apa di selamatkan? Islamnya juga tidak usah di selamatkan. Kalau anda mau menyelamatkan Islam, anda akan menjadi bergabung dengan Front Pembela Islam, kalau anda mau menyelamatkan lokalitas anda akan bergabung dengan Front Pembela Lokalitas. Itu yang menurut saya sikap-sikap yang bisa berbenturan kalau orang tidak mau berubah.

Berarti kita harus membiarkan saja proses globalisasi?
Bukan membiarkannya. Tapi secara sadar melakukan negosiasi. Dan menurut saya disinilah pentingnya peran pemerintah. Pemerintah harus mampu memediasi atau menyediakan ruang untuk negosiasi. Kalau dulu orang sering bicara multikultural di maknai sebagai merayakan perbedaan dan membiarkan orang-orang saling berbeda. Ini yang dinamakan dengan political indifferent atau politik pembiaran. Padahal perbedaan itu potensi negatifnya sangat besar. Peran pemerintah disini bukan untuk menghapus perbedaan tapi peran pemerintah itu menyediakan space untuk pertemuan-pertemuan itu, untuk menegosiasikan masalah-masalah tersebut. Idealnya, semua pihak harus saling terbuka kemudian menegosiasikan.

Mungkin ada pesan-pesan terakhir untuk para pembaca al-Hurriyah?
Yang terpenting, kita harus bersikap terbuka dan kritis terhadap hal-hal yang kita tidak bisa terima dalam globalisasi atau yang tidak bisa keluar dari pusaran globalisasi. Dunianya semakin kabur, kalau mau pegang identitasnya sendiri untuk merasa aman itu bisa menimbulkan konflik. Orang kalau kaku dan selalu takut itu akan begitu, kembali masuk ke rumahnya dan menutup rapat-rapat, orang Islam bisa begitu termasuk juga orang Eropa dan Amerika, atau juga orang Timur Tengah. Jadi yang perlu dilakukan adalah menyediakan space yang cukup luas, semua orang bisa bertemu supaya tidak kembali kerumahnya masing-masing dan menutup pintu serta jendelanya masing-masing.

Sumber: Bulletin al-Hurriyah Edisi III/Juli/2008

Entry filed under: Bulletin al-Hurriyah, Wawancara. Tags: .

Ketika Waktu Memodernisasi Agama Ketika Sekolah Berseragam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: