Ketika Sekolah Berseragam

Agustus 8, 2008 at 4:26 pm Tinggalkan komentar

Judul Buku : Pendidikan Berwawasan Kebangsaan; Kesadaran Ilmiah Berbasis Multikulturalisme
Penulis : HM. Nasruddin Anshory Ch & GKR Pembayun
Penerbit : LKiS, 2008.
Tebal : 209 halaman
Oleh : Moh. Davied (Mahasiswa Fak. Hukum UII Yogyakarta)
Suatu ketika menjelang malam, sebuah buku kembali mengusik pikiran saya, dan rasa kantuk pun hilang seketika. Buku itu berjudul “Pendidikan Berwawasan Kebangsaan” yang baru saja saya dapatkan dari pernerbitnya. Setelah membaca pengantarnya, saya semakin terprovokasi ingin menyilami isi buku mungil ini. Ternyata benar, penulis tak hanya menyampaikan tentang arti penting sebuah pendidikan dalam memajukan sebuah bangsa, tetapi penulis juga mampu membawa pembacanya dalam lamunan panjang tentang masa depan bangsa dengan mengajak bernostalgia pada sejarah masa lalu. Inilah yang membuat saya tidak bisa berhenti membaca sampai akhir buku ini. Buku ini mencoba menulusuri sejarah pendidikan yang pernah dijalankan oleh bangsa ini sejak sebelum kemerdekaan sampai pada masa sekarang ini. Pada intinya penulis ingin memberikan petunjuk tentang; kesukaran, penderitaan, perubahan, pertumbuhan, dan perjuangan yang dialami oleh bangsa ini. Dimana tiap-tiap pengalaman itu, tersliplah soal pendidikan dan pengajaran yang telah meresap dan mendarah daging sehingga mewujudkan adat dan kebiasan bangsa pada masa lalu itu.

Pendidikan yang dimaksud dalam buku ini adalah upaya mencerdaskan pikiran, menghaluskan budi pekerti, memperluas cakrawala pengetahuan serta memimpin dan membiasakan anak-anak menuju ke arah kesehatan jasmani dan rohani. Sudah tentu masing-masing bangsa telah mempunyai konsepsi tentang batas-batas dan kelanjutan pendidikan yang dianggapnya baik dan berfaedah bagi peserta didik pada hidupnya untuk mencapai masa depan yang cemerlang.

Tak bisa disangsikan lagi, begitu pentingnya peran pendidikan dalam memajukan sebuah bangsa. Bahkan negara yang mencapai tingkat peradaban dan teknologi yang tinggi mesti selalu disangga oleh kualitas pendidikan yang sangat kokoh. Oleh karena itu, jika bangsa ini hendak meraih tingkat peradan yang gemilang, tentu harus disertai dengan sistem pandidikan yang mengacu pada nilai-nilai multikulturalisme. Hal ini karena bangsa kita dihuni oleh beragam suku, ras, agama, dan keyakinan berserta adat-adatnya. Tak hanya memahami, tetapi juga menyadari terhadap keragaman ini merupakan sebuah keharusan bagi seluruh anak bangsa sebagai bingkai laku dalam hidup bersama, sehingga memungkinkan untuk melakukan aktivitas secara berbudaya dan bermartabat. Dengan demikian produktifitas, dan kreatifitas akan terus berlanjut tanpa ada hambatan yang berarti.

Di sinilah letak relevansinya buku ini jika dikaitkan dengan kondisi bangsa kita yang kian hari kian memudar. Pasalnya, arkeologi pendidikan yang disajikan penulis disini bukan saja berisi data-data tentang sistem pendidikan dan jumlah siswa, melainkan juga menyuguhkan betapa institusi pendidikan kita terlahir dari langgam kebudayaan yang sangat parsial. Keunikan-keuinkan yang dimiliki oleh masing-masing institusi pendidikan disuguhkan secara apik dalam perspektif sejarah. Hidangan sejarah pendidikan yang multikultural ini tampaknya sengaja dihadirkan oleh penulis mengingat kondisi pendidikan saat ini yang cenderung . Standarisasi Ujian Nasional (UN) yang hanya mematok kepada beberapa mata pelajaran sebagai standar kelulusan tampaknya kurang memperhatikan aspek muatan lokal.

Penulis menyadari betul adanya kepelbagaian entnis, budaya dan bahasa yang berkembang di setiap daerah. Penghampiran penulis pada fakta sejarah pendidikan masa lalu bukan untuk bernostalgia, tetapi dalam rangka memberi penyadaran betapa keragaman, termasuk dalam bidang pendidikan, perlu dikembangkan dengan baik. Ragam seni yang dimiliki oleh bangsa Indonesia bukan untuk “dijual” kepada negara lain, tetapi perlu di lestarikan. Proses menjaga dan melestarikan kesenian bangsa ini salah satunya bisa ditempuh melalui jalur pendidikan.

Kontekstualisasi keragaman tradisi bangsa dalam dunia pendidikan akan berjalan seiring dengan peningkatan nasionalisme yang semakin hari kian memudar. Dengan demikian paradigma maupun orientasi pendidikan yang ada hendaknya tetap bereferiensi pada fakta historis, antropologis, dan teologis yang ada di negeri ini.

Sungguh buku ini benar-benar membangunkan kesadaran kebangsaan. Maka tidak berlebihan kiranya jika dalam pengantarnya disebutkan bahwa buku ini merupakan bacaan wajib untuk memperkaya dan menjadi bahan refleksi kita dalam konteks kekiniannya khusus menyangkut persoalan pendidikan kita saat ini. Disamping juga, buku ini dapat mengisi kelangkaan buku serupa dalam khazanah kepustakaan kita. Yaitu literatur mengenai sejarah pendidikan dan sistem pengajaran yang pernah dijalankan oleh bangsa pada masa itu.

Sumber: Bulletin al-Hurriyah Edisi III/Juli/2008

Entry filed under: Bulletin al-Hurriyah, Resensi. Tags: .

Menolak Globalisasi Sama Halnya Menolak Realitas Membuka Pintu Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: