Partai Islam; Kuda Tunggangan yang di Manfaatkan

September 3, 2008 at 6:23 am Tinggalkan komentar

Tahun 2009 mendatang, bangsa Indonesia akan menggelar pemilihan umum (Pemilu) untuk memilih anggota DPR, presiden dan wakilnya secara langsung. Seiring dengan semakin dekatnya pelaksanaan pemilu 2009, sejumlah partai politik (parpol) sudah mulai berlomba-lomba memperkenalkan diri dan mencari simpati publik, tak terkecuali partai-partai Islam.

Sudah menjadi tradisi, menjelang pemilu rakyat hanya menjadi komoditas politik. Mereka didekati, dijanjikan, dibujuk, dirayu, diberi berbagai parsel dan uang, hanya sekali dalam lima tahun, setelah itu mereka dilupakan. Rakyat hanya mendapat janji perubahan nasib yang lebih baik, namun faktanya justru mereka yang menjadi pejabat publik lewat pemilu nasibnya berubah menjadi lebih baik.

Yang lebih menyedihkan, para anggota dewan yang dulu pernah ‘meminta’ untuk dipilih kemudian dipercaya menjabat, ternyata melakukan tindakan amoral, melakukan korupsi, terlibat kasus suap, mengebiri kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Hingga kini, sudah banyak anggota DPR yang meringkuk di tahanan karena terlibat korupsi! Parahnya, mereka yang terseret tindakan amoral tak sedikit yang berasal dari parpol Islam.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana sebenarnya kiprah parpol-parpol yang selama ini ‘mengusung’ Islam sebagai ciri parpolnya? Benarkah partai Islam sungguh-sungguh memperjuangkan nasib rakyat, ataukah mereka hanya memoles diri hanya untuk kekuasaan?

Pertanyaan di atas mungkin dapat dikaitkan dengan hasil survie Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada Oktober 2007 lalu. Hasil survei LSI mengenai ‘Trend Orientasi Nilai-Nilai Politik Islamis vs Nilai-Nilai Politik sekuler dan Kekuatan Islam Politik’, menunjukkan, sebanyak 57% umat Islam Indonesia lebih berorientasi pada nilai-nilai politik sekuler. Sedangkan mereka yang berorientasi pada nilai-nilai politik Islamis hanya sekitar 33%. Masih menurut LSI, mayoritas masyarakat Indonesia lebih cenderung memilih parpol nasionalis-sekuler daripada parpol Islam. Sebanyak 52% cenderung memilih partai-partai nasionalis-sekuler, seperti PDI-P, Golkar, dan Partai Demokrat. Sebanyak 8% memilih partai-partai Islamis, seperti PKS dan PPP serta 7% memilih partai-partai yang berbasis pada organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, seperti PAN dan PKB.

Berdasarkan hasil survei LSI di atas, tampaknya sekularisasi nilai-nilai politik masih atau semakin mendapat ruang di Indonesia. Orientasi masyarakat pada nilai-nilai Islamis (baca: agama) di ruang politik mengalami penurunan dan kekuatan Islam politik tidak sebesar angka statistik dalam sensus penduduk yang selalu menyebut mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Parpol Islam “Tak Laku”?

Hasil investigasi yang diperoleh al-Hurriyah, selama sembilan kali Indonesia melaksanakan pemilu, jumlah total suara maksimal yang mampu diraih parpol Islam terjadi pada pemilu 1955, yakni sebesar 45,2%. Sedangkan di era reformasi, parpol Islam mengalami penurunan suara sangat signifikan. Merujuk pada data resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU), pada pemilu 1999 parpol-parpol Islam hanya bisa mengumpulkan total suara sebanyak 37,61% suara atau turun 7,59% bila dibanding pemilu 1955. Demikian pula pada pemilu 2004, parpol-parpol Islam hanya mampu meraih total suara sebesar 38,53% suara. Lalu, bagaimana perolehan suara parpol-parpol Islam pada pemilu 2009 mendatang?
Secara konkrit kita belum bisa memastikan angkanya. Namun, bila mengacu pada perkembangan politik di Indonesia dewasa ini, ada kecenderungan di masyarakat yang tak mengganggap penting kehadiran simbol-simbol Islam dalam percaturan politik, tetapi lebih peduli pada substansi atau semangat yang diusung parpol. Masyarakat secara politik, dengan penuh kesadaran, ingin melampaui simbol-simbol agama untuk mengukuhkan identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang plural.
Pergeseran kecenderungan tersebut jelas tidak berdiri sendiri, tetapi banyak dipengaruhi oleh transformasi sosial dan proses sekularisasi politik yang berkembang di Indonesia, sejak Orde Lama, masa Orde Baru hingga era Reformasi. Proses restrukturisasi baik dalam bidang sosial, politik, hukum dan ekonomi yang berjalan, baik langsung maupun tidak, telah melahirkan konstituen-konstituen (baca: masyarakat) yang rasional ketika menjatuhkan pilihan, walaupun tidak menutup kemungkinan banyak pula yang memilih berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan primordial dan emosional semata.

Yang mengejutkan, fenomena golput (golongan putih) pada beberapa pelaksanaan pemilihan kepada daerah (Pilkada) di Indonesia akhir-akhir ini jumlahnya semakin membengkak saja. Hal itu pada gilirannya hanya akan mempersulit ruang gerak parpol-parpol Islam berkompetisi dalam pemilu. Memang, ada beberapa parpol Islam yang ‘memenangi’ kompetisi pada pilkada, seperti PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan PAN (Partai Amanat Nasional), namun semua itu bukan berarti memberikan peluang besar bagi parpol-parpol Islam pada skala nasional. Sebagai Komoditas Politik
Para elite politik yang menggunakan Islam sebagai ‘daya pikat’ untuk meraup suara masyarakat beralasan, parpol yang berasaskan Islam bertujuan untuk membumikan nilai-nilai Ilahi. Namun, bila melihat pada fakta sejarah, yang terjadi justru sebaliknya. Islam hanya dijadikan sebagai sebuah komoditas politik untuk kepentingan kelompok tertentu untuk memenuhi ambisi politik mereka yang tidak selamanya bersandar pada etika dan moralitas. Lihatlah perilaku sebagian anggota Dewan yang terjebak dalam kubangan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Jika demikian, maka sesungguhnya perilaku dan tindakan tidak terpuji mereka yang berasal dari parpol Islam dapat mencederai Islam sebagai sebuah agama. Islam jelas turut ternodai. Bukankah hal itu merupakan perbuatan buruk dan nista?

Melihat fenomena ‘penistaan agama’ lewat baju parpol Islamis berdasarkan fakta empiris di lapangan, sudah saatnya elite parpol-parpol Islamis merevisi kembali kebijakan menempatkan Islam sebagai asas parpolnya. Sebab, politik yang bertumpu pada simbol-simbol keagamaan tidak hanya akan menempatkan agama (baca: Islam) diposisi terburuk namun juga menginjak-injak Islam sebagai agama ilahi. Jadi, parpol Islam harus segera merubah asasnya dengan lebih mengedepankan substansi. Hal itu guna menempatkan Islam lebih berwibawa dan menempati kedudukan terhormat!
Alasan lain yang melandasi hal itu adalah fakta bahwa Indonesia merupakan bangsa yang sangat plural, termasuk dalam hal keagamaan. Menggunakan satu model komunikasi politik hanya akan memperoleh simpati penuh dari kelompok tertentu, tetapi tidak untuk kelompok yang lain. Yang terjadi justru kuatnya kelompok sektarian dan eksklusifisme yang membahayakan keutuhan bangsa Indonesia. Sudah tidak sepantasnya elite politik Islam di Indonesia selalu berteduh di bawah simbol-simbol agama hanya untuk meraih kekuasaan dan kepentingan sesaat.[Abdul Hamid Razak]

Sumber: al-Hurriyah Edisi IV/Agustus/2008

Entry filed under: Bulletin al-Hurriyah, News. Tags: .

(Agama) Beda Zaman Kampanye Politik & Pemimpin Agama Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: