Kampanye Politik & Pemimpin Agama Kita

September 5, 2008 at 6:23 am Tinggalkan komentar

Oleh: Masroer Ch.Jb (Dosen Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Sebentar lagi pesta demokrasi terbesar sepanjang kurun lima tahun akan diperhelatkan lagi di negeri ini. Pesta politik yang digelar untuk yanag ketiga kalinya sejak era reformasi digulirkan itu akan melibatkan begitu banyak elemen bangsa. Mulai dari presiden beserta petingi-petinggi negara lainnya sampai ke petani gurem dan kaum pengangguran; semua akan terlibat dengan pesta politik ini.

Dipastikan pesta akbar itu akan dihadiri lebih dari seratus juta penduduk Indonesia. Pesta demokrasi itu tidak lain adalah Pemilihan Umum 2009 yang dirayakan seperti pesta walimahan guna membuktikan bahwa rakyat di negeri ini benar-benar berdaulat atas dirinya. Karena itu tanpa kesertaan dari rakyat yang berdaulat, Pemilu 2009 dalam dua kali putaran ini dipastikan tidak akan bernilai sama sekali, bahkan dapat dikatakan sia-sia dan gagal.

Untuk itu Pemerintah sebagai penyelenggara pesta demokrasi telah mengantisipasi jauh-jauh hari sebelumnya. Dengan publikasi yang gencar, Pemerintah beruasaha keras agar Pemilu dapat berjalan lancar dan diikuti banyak orang. Mulai dari petunjuk mencoblos partai, partai apa saja yang berhak menjadi peserta pemilu sampai peraturan; kapan kampanye partai politik mulai dapat digelar dan kapan harus diakhiri telah dipublikasikan oleh Pemerintah,m terutama oleh KPU di berbagai media massa baik lokal maupun nasional. Kini, tinggal beberapa beberapa buklan saja pemilu 2009 akan berlangsung, malahan fase kampanye sudah terlaqksana sejak bulan agustus ini, tepatnya mulai tanggal 1 Agustus 2008. Sudah pasti momentum kampanye politik yang dikikuti puluhan partai pilitik baik yang berasas agama maupun non agama ini akan menyedot perhatian kita. Dunia bisnis, dan kehidupan lalu lintas, bahkan dunia keagamaan pun agaknya akan tersedot hingar bingar memngikuitoi prosesso dan jalannya kampanye. Jangan-jangan kampanye justru akan menyita seluruh perhatian kita sampi-sampai kita kehilangan kesadaran akan tanggung jawab dan tugas masing-masing sebagvai warga biasa.

Kalau sudah begitu keadaannya, maksudnya membuat kita kehilangan kesadaran, maka kampanye yang digelar hanya akan membuat kita terlena bahkan tidak tahu lagi bahwa momentum kampanye itu ternyata sangat riskan menimbulkan (konflik) kekerasan diantara kita sebagai sesama anak bangsa. Kampanye pada Pemilu 1999 dan 2004 yang lalu saja ternyata tidak banyak yang berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Pemilu yang damai sebagai cita-cita yang hendak ditegakkan oleh rezim reformasi malah menemui jalan buntu ketika kampanye berubah menjadi pertarungan fisik untuk berebut kepentingan politik dan duniawyah.

Konflik yang berubah menjadi kekerasan dalam kampanye di tahun 1999 dan 2004 yang lalu itu ternyata juga menyeruak. Masing-masing pendukung partai yang berhamburan keluar dengan sepeda motor yang meraung-raung, serta teriakan yel-yel yang memekakkan telinga ketika kampanye digelar makin memanaskan situasi. Akibatnya massa demikian besar yang terbakar oleh situasi kampanye dan tidak dapat dikendalikan oleh sang jurkam itu kemudian beraksi; mencaci maki lawan politik, berkelahi sampai berdarah-darah bahkan melakukan pembakaran rumah dan kantor partai segala.
Kini kekuatiran kita muncul kembali, karena kampanye kali ini diperkirakan sarat dengan konflik (kekerasan), lebih-lebih yang berbau SARA. Agaknya hal ini disebabkan antara lain oleh karena elit-elit partai politik peserta kampanye tidak malu-malu menyeret para pemimpin agama (religious leader) kita untuk menjadi jurkam bahkan juga dijadikan caleg dari partainya. Fenomena para pemipin agama menjadi pemain politik ini terasa mencolok dan terlihat menghisasi berita koran akhir-akhir ini. Banyak diantara pemimpin agama kita ini didekati elit partai bahkan hampir semua partai politik berlomba-lomba memperebutkannya demi kemenangan politik. Ada yang disuslkan menjadi capres, cawapres, menteri sampai menjadi jurkam dan juru doa “politik”.

Sungguh tidak bisa dibanyangkan, apa yang terjadi jika para pemimpin agama kita tidak merasa malu-malu lagi bahkan begitu bersemangat dengan arus politik saat ini. Sudah pasti pengetahuan agama yang dimiliki dan otoritas yang dikuasainya sebgai wakil Tuhan, para pemimpin agama kita itu bias jadi terjebak pada situasi yang mempermainkan umat; meninabobokkan umat dengan dengan dalil-dalil agama demi kepentingan politik para pemimpin agama kita.

Walhasil, dunia keagamaan, dan pembinaan umat yang menjadi basis utama pengabdian para pemimpin agama kian terbengkalai, dan bahkan ditinggalkan. Ini artinya umat akan kehilangan pegangan rohani yang selama ini mereka dapatkan secara rutin dari sang pemimpin agama. Sekalipun demikian, oleh sebab keadaan sudah terlanjur basah begitu, maka tidak ada pilihan lain selain mendorong para pemimpin agama yang bermain-main di arena kampanye politik ini agar tidak perlu bersilat lidah, bermain-main menjual dalil dan firman Tuhan demi kepentingan duniawiahnya. Kalau sudah demikian harapan yang didiealkannya, tidak ada alasan lagi jika perhelatan kampanye politik dalam Pemilu 2009 ini harus dilakukan dengan berdarah-darah, tangisan air mata, dan anarkhi! Wallahu A’lam.

Sumber: Al-Hurriyah Edisi IV/Agustus/2008

Entry filed under: Bulletin al-Hurriyah, Opini. Tags: .

Partai Islam; Kuda Tunggangan yang di Manfaatkan Partai Islam ; Kepanjangan Tangan Oligarki Kekuatan Lama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: