Partai Islam ; Kepanjangan Tangan Oligarki Kekuatan Lama

September 7, 2008 at 6:26 am Tinggalkan komentar

Partai politik Islam di Indonesia merupakan bagian dari dinamika sejarah Indonesia. Bagaimana pasang surut perjalanan mereka dan prospek masa depan mereka dalam menghadapi pemilu 2009 mendatang. Ia hanya menjadi kepanjangan tangan oligarki kekuatan lama. Begitu Dr. Aris Arif Mundayat saat diwawancari oleh Rizki Riyadu Taufiq dari Bulletin Al-Hurriyah, menandaskan. Dr. Aris Arif Mundayat, kini menjadi Direktur Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM.

Melihat fenomena pasang surutnya partai politik Islam di pentas politik nasional sejak pemilu 1999, pemilu 2004, hingga menjelang pemilu 2009 ini, menurut anda seperti apa?

Politik Islam sekarang ini terbelah ke dalam beberapa partai politik, seperti kelompok Islam tradisionalis yang menjelma menjadi PKB, PKNU dan kelompok Islam modernis yang menjelma menjadi PAN, PKS, PBB. Saya kira permbelahan didalamnya juga mungkin akan bisa menjadi lebih banyak lagi terutama pada kelompok Islam modern. Hal itu disebabkan karena partai-partai Islam modern menempati ruang kompetisi yang sama, yakni wilayah-wilayah perkotaan, seperti contoh adalah munculnya PMB yang merupakan representasi dari kelompok muda Muhammadiyah. Partai-partai Islam modernis yang berasal dari basis Wahabi ini harus bertarung di wilayah yang sama yakni wilayah perkotaan. Perebutan konstituen di tingkat akar rumput dari level kampus-kampus, komunitas kaum muda hingga pada level pelajar di sekolah-sekolah menjadi garapan mereka. Masyarakat Islam perkotaan akan menjadi lahan perebutan dari kelompok partai Islam modern ini. Walaupun tentu saja mungkin sampai saat ini hanya PAN dan PKS yang mampu mengambil simpati terbesar dari kalangan masyarakat Islam kota ini.

Fenomena pemilu 1999 tentang munculnya 5 besar pemenang pemilu, di situ hanya satu partai Islam yang muncul yakni PPP, selebihnya mungkin PKB partai nasionalis yang berbasis Islam tradisionalis. Kemudian pada saat pemilu 2004 terjadi kejutan baru di mana muncul fenomena partai Islam dengan kekuatan baru yang mampu menjadi pesaing partai lama yakni, PKS. Menurut anda untuk konteks pemilu 2009 besok akan seperti apa?

Saya kira akan terjadi pembelahan lagi, tahun 1999 kekuatan Orde Baru (status quo) masih dominan dan sangat kuat dimana pelaku-pelaku politik sedikit banyak masih sangat terikat dengan kekuatan lama. Kemudian, tahun 2004 mereka mencoba membelah diri bahkan oligarki-oligarki partai Islam lama berusaha menyebar dibanyak tempat dan banyak partai. Yang kemudian oligarki-oligarki yang berbasis Islam sebagai partai politik tersebut akan menemukan tempat atau ruang baru, sehingga penyaluran kepentingan-kepentingan sospol dan ekonominya nanti akan terakomodir dengan menggunakan wadah baru tersebut. Kita bisa lihat para pendukung parpol-parpol saat ini, kebanyakan mereka adalah pengusaha yang mempunyai kepentingan ekonomi atau politik. Mereka banyak sekali diuntungkan saat memilih partai politik sebagai wadah baru bagi kelompok oligarki tersebut.

Kalau Fenomena PKS, menurut anda seperti apa ?

Fenomena PKS saya lihat merupakan fenomena kaum muda Islam yang kecewa terhadap kekuatan lama. Mereka berusaha membangun imej partai bersih sebagai daya jual mereka. Dan itu menjadi pertaruhan bagi kelompok ini. Selama PKS mampu menjaga Imej partai bersih ini, mereka akan bisa semakin signifikan dalam memperoleh suara.

Bukannya mereka juga menggunakan Islam sebagai citra mereka?

Islam yang mana? Saya kira bukan Islam, kita bisa melihat mayoritas Islam di Indonesia, 75 %nya adalah basis Islam tradisional. PKS bukan representasi Islam mayoritas, tapi jika PKS merepresentasikan Islam dari kalangan kaum muda kota itu mungkin bisa. Mungkin asasnya bisa saja partai Da’wah, tapi pada kenyataannya Islam yang dibawa adalah bukn Islam mayoritas tapi Islam ala anak-anak muda Kota. Mereka sangat sistematis mampu masuk pada sekup-sekup kehidupan kaum muda Islam di kota-kota.

Terkait dengan issu yang dibangun partai-partai Islam, bagaimana pandangan anda terhadap isu yang diusung partai-partai Islam tersebut?

Saya kira nantinya akan sama dengan fenomena PK (Partai Keadilan) pada pemilu 1999. Pada tahun 1999 PK berusaha mengusung isu itu dan hasilnya mereka tidak ada pendukungnya. Karena mayoritas masyarakat Indonesia tidak akan suka kalau Indonesia dirubah menjadi Islam. Islam ok, tapi jangan terlalu Islam. Islam yang bersih ok, tapi Islam yang berusaha melakukan Islamisasi akan ditolak. Jadi nasib partai-partai Islam yang mengusung issu itu akan sama dengan nasib PK tersebut. Issu tersebut sebetulnya sudah basi dan tidak mungkin laku. PKS mungkin saat ini besar, tapi itu bukan karena issu Islamnya. PKS menjadi besar karena mereka menawarkan suatu hal yang baru kepada kaum muda Islam mengenai manual kehidupan. Mereka banyak menggunakan media-media modern yang familiar dengan kalangan muda kota sebagai alat propaganda mereka. Makanya basis utama dari PKS ini adalah kalangan muda, mahasiswa atau akademisi yang tinggal di wilayah kota.

Lalu, bagaimana hubungan partai islam modernis dengan partai islam tradisional pada pentas pemilu 2009 nanti?

Menurut saya tidak akan terjadi gesekan yang kongkrit, karena memang sejak awal wilayah garapannya sudah berbeda. Mungkin ada beberapa partai yang berusaha untuk masuk ke wilayah lainnya tapi saya fikir tidak akan signifikan. Pecahnya kelompok partai Islam tradisionalis yang terepresentasikan oleh PKB atau PKNU saya kira nantinya tetap akan menyatu atau paling tidak akan saling membantu karena dipertemukan pada basis Islam yang sama dan tetap akan menjadi kekuatan politik Islam yang besar dengan catatan mereka harus mampu menawarkan issu alternatif yang riil bagi masyarakat. Sedangkan untuk kelompok-kelompok partai Islam modernis seperti PKS saya fikir butuh 4 sampai 5 kali pemilu lagi untuk bisa meraup suara basis Islam tradisionalis dengan catatan issu yang mereka usung tetap konsisten sebagai partai Islam yang bersih serta kelompok partai Islam tradisionalis masih terpecah belah. Apabila issu yang diusung adalah issu Islam sebagai rezim minded atau issu-issu Islam keras maka partai-partai tersebut akan ditinggalkan oleh konstituennya sendiri.

Dalam konteks sejarah politik Indonesia, isu Islam merupakan jaminan bagi partai-partai politik untuk bisa meraup banyak suara. Pada pemilu 1955 kita tahu dari empat besar pemenang pemilu, dua di antaranya adalah partai berbasis Islam, Masyumi dan NU. Apakah untuk pemilu 2009 besok dominasi partai Islam seperti pada pemilu pertama tersebut bisa terulang kembali?

Saya kira tidak. Pemilih akan bergerak secara pragmatis tidak didorong oleh ideologi atau idealisme partai. Di samping itu partai politik juga akan cenderung berkoalisi dengan melihat siapa yang berkuasa. Karena tradisi koalisi menurut saya selama ini lebih dominan mewarnai politik indonesia dibanding tradisi oposisi. Ini karena partai-partai secara finansial masih bergantung pada negara. Hal inilah yang membuat kecenderungan partai untuk melakukan koalisi dan politik dagang sapi.

Menurut Anda pada Pemilu 2009 nanti, Partai Politik Islam mana yang akan nampak menonjol dan menjadi kekuatan besar?

Kalau Islam dalam arti yang tadi mungkin partai yang menonjol pada pemilu 2009 adalah PAN, PKS dan PKB.

Kira-kira kapan peluang partai politik Islam sebagai kekuatan politik dominan seperti pemilu 1955 muncul kembali?

Saya kira untuk konteks ke depan selagi kelompok Islam masih terdikotomikan dengan dua maenstream tersebut, maka pada putaran nanti kelompok nasionalislah yang akan masih menjadi kekuatan dominan. Krena, dari kedua maenstream tersebut masing-masing masih terbagi lagi menjadi beberapa partai, jadi untuk mengembalikan kekuatan partai Islam seperti pada pemilu 1955 masih sangat jauh.

Apa yang harus dilakukan partai politik Islam untuk bisa kembali menjadi kekuatan dominan seperti pada saat pemilu 1955?

Yah mereka harus bisa menunjukkan kinerjanya yang bagus dan riil untuk masyarakat. Programnya pun harus jelas. Apa dengan mengusung jargon sebagai partai Dakwah partai tersebut bisa memberikan kesejahteraan pada masyarakat? kan itu belum pasti, berarti masih belum jelas! Dan yang harus dijadikan catatan adalah wilayah-wilayah agama biasanya akan menjadi sulit untuk diaplikasikan ke dalam konsep kesejahteraan atau peningkatan ekonomi pada masyarakat. Jadi, issu-issu agama tanpa dibarengi dengan kinerja yang bagus dan riil akan menjadi sia-sia. (R.Riyadu T)

Sumber: Bulletin al-Hurriyah Edisi IV/Agustus/2008

Entry filed under: Bulletin al-Hurriyah, Wawancara. Tags: .

Kampanye Politik & Pemimpin Agama Kita Militer di Balik Dongeng Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: