Militer di Balik Dongeng Nasional

September 10, 2008 at 6:35 am Tinggalkan komentar

  • Judul Buku : Ketika Sejarah Berseragam
  • Penulis : Khatarine E. Mc Gregor. Terj:Djohana Oka
  • Penerbit : Syarikat, Yogyakarta, 2008
  • Tebal : 459 Halaman

Peresensi: Isti’anah, Mahasiswi Fak. Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dalam panggung sejarah nasional di Indonesia, wajah militer kerap kali mendominasi dan memonopoli setiap ranah kehidupan kenegaraan dan keberbangsaan rakyat Indonesia. Tak terkecuali keterlibatannya dalam hal mengkonstruksi dan memaknai terhadap sejarah masa lalu bangsa sendiri. Kaitannya dengan ini, ada banyak mitos-mitos sejarah yang dibangun oleh militer untuk meligitimasi dirinya sendiri maupun kekuasaan yang didukungnya. Sementara pada saat yang bersamaan, pengingkaran terhadap fakta sejarah tertentu sengaja dilakukan untuk mengubur kebusukan dan kejahatan (militer) demi membangun citra baik mereka dengan menempatkan dirinya sebagai pahlawan, sementara kelompok-kelompok tertentu dituduh sebagai pesakitan sejarah, di mana semua kegagalan dan kesalahan ditimpakan. Maka tidak heran, jika dalam banyak kasus, historiografi yang selama ini ada, kerap kali tidak sesuai dengan fakta sejarah masa lalu yang sebanarnya.

Konsekuwensinya jelas, sejarah sebagai memori sosial justru mencerabutkan masyarakat dari realitas masa lalunya. Sejarah tidak lagi sebagai pengalaman dari masa lalu yang mampu membimbing setiap insan untuk bercermin dalam membangun masa kini dan masa depan bangsa yang lebih baik, melainkan menjadi sebuah ideologi praktis (topeng) dari militer untuk melanggengkan kekuasaan yang didukungnya.

Kondisi di atas inilah yang melatari hadirnya buku ini. Lewat buku ini Katharine E. McGregor mencoba mengungkap kisah-kisah di balik proyek militer dalam membangun sejarah masa lalu bangsa Indonesia sekaligus memberikan pemahaman bagaimana cara militer dalam membangun atau menyusun dan merekonstruksi sejarah masa lalu tersebut sebagai alat untuk memenuhi hasrat berkusaan .

Berdeda dengan buku-buku lainnya yang memusatkan kajiannya pada rezim Orde Baru, buku ini justru mengajak pembacanya melihat sejarah perjalanan militer (rezim militeristik) dalam membangun sejarah itu sendiri (membaca sejarah dari sejarah). Buku buah tangan Katharine E. McGregor bukan saja mendeskripsikan sejarah militer di Indonesia, melainkan jauh lebih dari itu, yakni ingin menunjukkan bahwa militer tidak bisa hanya dilihat dari sejarahnya, tetapi juga kemampuan untuk mendesign sebuah sejarah itu sendiri.

Menurut penulis buku ini, militer sebagai sebuah institusi dan ideologinya telah berhasil membangun citra baik untuk melegitimasi dirinya sendiri maupun kekuasaan yang didukungnya melalui pemaknaan tunggal dan naratif tunggal pada konstruksi masa lalu Indonesia. Kondisi ini dengan mudah bisa ditemukan baik dari kalangan penguasa dan sejarawan yang memiliki kedekatan dengan militer, bahkan juga terjadi pada sejarawan yang mengaku akademisi dan profesional.
Sekedar contoh, bagaimana citra Partai Komunis Indonesia (PKI) yang demikian buruk pada era Orde Baru, bagaimana diskursus dan buku-buku Marxisme diberangus, dan bagaimana represifitas pemerintah melalui militer terhadap kelompok-kelompok yang berseberangan dengannya.

Semuanya itu menunjukkan historiografi Indonesia pada dua hal: historiografi kambing hitam dan historiografi oknum. Dengan sangat ringan, seseorang bisa mencari kambing hitam atas sebuah peristiwa, sebagaimana juga menyebut oknum terhadap militer yang melakukan tindakan-tindakan diluar norma militer.

Baik Orde Lama ataupun Orde Baru telah membuat musuh imaginer sebagai kambing hitam, walaupun dengan nuansa yang berbeda. Jika rezim Orde Lama membangun sejarah sejarah Indonesia sebagai hasil dari perbenturan antara kolonialisme dan imperialisme melawan nasionalisme Indonesia dengan Soekarno sebagai pusat, maka Orde Baru melaihat sejarah Indonesia sebagai perjuangan antara pendukung dan penentang Pancasila dengan menempatkan militer sebagai faktor penentu.

Lalu bagaimana dengan era reformasi? Disamping membutuhkan riset yang mendalam, saya cenderung menilai bahwa peran militer dalam mengkonstruksi historiografi Indonesia masih sangat dominan. Singkatnya, sejarah adalah sejarah politik dari sebuah rezim dominan yang ingin membangun citra sebagai penyelamat bangsa dengan mengorbankan orang lain dan lari dari tanggungjawab atas realitas masa lalu yang diciptakannya sendiri ketika perubahan dibutuhkan. Dalam konteks inilah, buku ini menjadi sangat penting untuk dibaca demi sebuah lahirnya ketidakseragaman konsturksi masa lalu Indonesia. []

Sumber: Bulletin al-Hurriyah Edisi IV/Agustus/2008

Entry filed under: Bulletin al-Hurriyah, Resensi. Tags: .

Partai Islam ; Kepanjangan Tangan Oligarki Kekuatan Lama Ketika Islam “Terjual”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: