Allahu Akbar

September 15, 2008 at 6:43 am Tinggalkan komentar

Setiap muslim yang taat beribadah tak kurang dari 50 kali menyebut kata Allahu Akbar dalam setiap harinya. Kata keagungan Allah tersebut senantiasa diucapkan tanpa diresapi makna terdalamnya. Bahkan, terkadang “makna-makna sekuler”-lah yang muncul. Artinya, penyebutan Allahu Akbar tidak saja dilakukan pada saat shalat tetapi juga diluar shalat.

Ketika segerombolan umat islam bersorban dan berjubah putih hendak melakukan kekerasan atas nama amar ma’ruf nahi munkar, maka kata yang diteriakkan adalah Allahu Akbar. Kata yang mengiratkan akan ke-Maha Besar-an Allah itu harus rela bersama dengan aksi-aksi anarkisme dan kekerasan. Sebuah tindakan yang berseberangan dengan kata itu. Maka, kata Allahu Akbar memiliki potensi untuk melakukan anarkisme dan kekerasan.

Ketika hendak membakar semangat nasionalisme dan perlawanan terhadap kolonialisme kepada arek-arek soroboyo dan bangsa Indonesia umumnya, Bung Tomo dengan berapi-api meneriakkan kata tersebut. Hasilnya, cukup gemilang. Umat Islam dengan penuh semangat dan jiwa jihad yang membara mengusir kolonialisme dari tanah Nusantara ini. Disini, kata Allahu Akbar bermakna positif, yaitu membangkitkan nasionalisme dan semangat perjuangan.

Tak hanya itu, teriakan takbir itu juga sering dilakukan oleh umat islam ketika merasa menang dan berhasil dari suatu pertempuran. Jika dalam Kongres atau forum-forum suksesi kepemimpinan yang digelar oleh umat Islam, kata ini diucapkan. Hal yang sama juga dilakukan ketika umat islam usai berperang melawan hawa nafsu selama bulan Ramadhan, Idul Fitri ataupuan pelaksanaan ibadah haji, Idul Adha.

Kini, ketika menjelang pemilu 2009, kata itu serta kata-kata yang serupa juga sering disuarakan oleh umat Islam. Untuk membakar semangat masyarakat pada saat kampanye berlangsung, sang Juru Kampanye (Jurkam) tak jarang memanggil nama-nama Allah itu. Disini, kata Allahu Akbar serta yang sejenis menjadi sebuah komoditas politik yang seringkali manjur untuk mendulang dan mendongkrak suara pada saat pemilu.

Kegiatan-kegiatan yang demikian profan, seperti kampanye, jihad, melawan kolonialisme, seringkali meminta “suntikan” kata-kata sakral dari agam. Semangat untuk membumikan kata-kata sakral ke dunia sekuler pada satu sisi perlu disambut baik. Sebab, krisis multidimensi terjadi–demikian Sayyed Hossein Nasr–berpangkal dari krisis spiritual.

Akan tetapi, pada saat bersamaan, fenomena diatas memberikan indikasi betapa kata-kata sakral dari agama menjadi rentan untuk disalahgunakan oleh manusia. Dengan kata itu, pertumpahan darah terjadi.

Kata itu diucapkan bukan lagi untuk memberi puian kepada Allah, tetapi lebih kepada tujuan-tujuan profan dan duniawi, bahkan terkadang beroposisi dengan nilai-nilai agama itu sendiri. Bayangkan saja, kata yang diucapkan setiap Shalat dalam mana harus keadaan suci, juga diucapkan untuk melakukan kekerasan dan kampanye politik.

Karena sedemikian rentan dan berisiko-nya kata takbir tersebut diruang-ruang sekuler, maka menghindari kata tersebut–bagi saya–adalah langkah yang cukup baik. Pasalnya, sudah ditegaskan bahwa ayat-ayat Allah tidak boleh dipertukarkan dengan hal-hal remeh dan tak berharga dihadapan Allah.

Apakah langkah ini akan menghilangkan nilai-nilai keislaman pada masyarakat Indonesia? Tentu tidak. Sebab, keberislaman seseorang tidak bisa diukur dari kuantitas penyebutan nama-nama Tuhan ataupun ayat-ayat-Nya, melainkan lebih kepada kualitasnya.

Begitu juga, keberislaman seseorang tidak bisa dihakimi dengan standar-standar formal dan performance. Sebab, bukan sebuah tindakan yang religius jika melakukan kekerasan terhadap sesama. Apakah pakaian jubah, sorban ataupun titel Haji mesti merefleksikan nilai-nilai islam dalam kehidupan sehari-harinya? Bukankah Amrozi cs yang tampil begitu –seakan-akan–islami, tetapi justru tindakannya sedemikian tidak menjunjung nilai-nilai yang dibawa oleh Muhammad.

Singkatnya, kepelbagaian makna Allahu Akbar dalam kehidupan sosial bukan tanpa sebuah resiko. Disamping melakukan manipulasi terhadap agama, resikonya juga adalah mencoreng nama baik suatu agama. Maka, penghindaran kata-kata yang berdasarkan agama seharusnya dihindari. Apalagi, dalam kehidupan masyarakat yang plural, multi-identities, penggunaan kata-kata itu hanya akan memberi jarak dan pembedaan dalam masyarakat.

Maka, menghindari kata-kata berdasarkan agama dan dibarengi langkah dan tindakah religius sama halnya dengan menyebut Allahu Akbar dalam setiap hari. Bukankah hal ini cukup baik dan mendapat support dari agama?

Sumber: Bulletin al-Hurriyah Edisi IV/Agustus/2008

Entry filed under: Bulletin al-Hurriyah, Hamid Razak, Renungan. Tags: .

Ketika Islam “Terjual”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP


%d blogger menyukai ini: