Posts filed under ‘Editorial’

Ketika Islam “Terjual”

Pada bulan Oktober 2007 Lembaga Survei Indonesia (LSI) melakukan survei mengenai ‘Trend Orientasi Nilai-Nilai Politik Islamis vs Nilai-Nilai Politik sekuler dan Kekuatan Islam Politik’. Hasilnya sangat mengejutkan, 57% umat Islam Indonesia lebih berorientasi pada nilai-nilai politik sekuler. Sedangkan mereka yang berorientasi pada nilai-nilai politik Islamis hanya sekitar 33%. Kemudian 52% umat islam Indonesia cenderung memilih partai-partai nasionalis-sekuler, seperti PDI-P, Golkar, dan Partai Demokrat. Sebanyak 8% memilih partai-partai Islamis, seperti PKS dan PPP serta 7% memilih partai-partai yang berbasis pada organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, seperti PAN dan PKB.

Hasil survey LSI tersebut terlihat sangat paradoks dengan angka statistik dalam sensus penduduk yang menyebut bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. mengapa sekularisasi nilai-nilai politik malah justeru semakin mendapat ruang di Indonesia, dan orientasi masyarakat pada nilai-nilai Islamis di ruang politik mengalami penurunan. Apakah ini menunjukan bahwa kepercayaan mayarakat kita terhadap partai politik yang mengusung islam sebagai asas mereka semakin berkurang. Tidakkah lagi islam laku untuk dijual sebagi sebuah “komoditas” politik. (lebih…)

Iklan

September 12, 2008 at 6:41 am Tinggalkan komentar

Membuka Pintu Agama

Harvei Cox melalui The Secular City (1966) dengan penuh optimis meramalkan bahwa kuatnya arus sekularisasi sebagai bagian dari globalisasi akan ditandai dengan munculnya peradaban masyarakat urban yang sejajar dengan runtuhnya peran agama tradisional. Paradigma sekular akan menjadi dominan sementara pandangan keagamaan akan menjadi irrelevan dan tersudut dalam ruang private.

Akan tetapi, ramalan ini tidak terbukti sehingga dalam Religion in the Secular City (1985) Harvei Cox meralat prediksinya dengan mengulas kebangkitan agama yang mewarnai ruang publik sekular.
Fakta menjadi terbalik, runtuhnya peradaban urban dan munculnya agama tradisional menjadi tanda baru era ini. Fenomena ini sebenarnya tidak menandai runtuhnya sekularisme secara total. Maraknya agama bangkit di ruang publik dengan berbagai simbol relijius yang tidak tabu lagi untuk dikibarkan menyebabkan ruang publik sesak dengan parade simbol agama. Di sinilah arus baru tercipta dari sekularisme menuju pluralisme.

Namun, dalam kondisi seperti itu, agama dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Berbaur dengan yang lain dalam ruang publik atau mengisolasi diri dalam keberagamaan.Kita tahu, keragaman adalah ritme sejarah manusia bahkan seluruh mahluk di dunia ini, karenanya ia tidak bisa dinafikan atau ditentang. Menentang keragaman sama halnya dengan menentang kodrat manusia yang diciptakan secara beragam.

Saatnya kita disodorkan dengan beberapa pilihan sikap. Apakah kita tetap menyatakan bahwa agama kitalah yang paling benar (ekslusif) atau agama lain ada kemungkinan benar tetapi agama kita sebagai titik kulminasi kebenaran (inklusif) atau kita perlu mengatakan bahwa kebenaran tidak bisa dimonopoli oleh satu agama karena semua agama mempunyai kebenaran (pluralis).

Sumber: Bulletin al-Hurriyah Edisi III/Juli/2008

Agustus 9, 2008 at 4:34 pm Tinggalkan komentar

Menolak Teologi, Membela Pengikutnya

Kekerasan demi kekerasan nyaris tak pernah surut di negeri ini.Pasca terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tentang Ahmadiyah, jumlah kekerasan kian bertambah. Sebelumnya, kekerasan juga terjadi ketika fatwa sesat MUI kepada Ahmadiyah muncul.

Front Pembela Islam (FPI) dan sejumlah organisasi lainnya secara gencar terus menyuarakan pembubaran Ahmadiyah. Tak hanya itu, berlandaskan pada SKB 3 menteri tersebut, mereka bahkan melakukan aksi penutupan tempat-tempat ibadah, merusak sejumlah tempat dan fasilitas serta melakukan kekerasan baik fisik maupun psikologis terhadap warga Ahmadiyah.

Berbangsa dan bernegara seakan diberi syarat untuk memeluk suatu agama atau keyakinan tertentu. Islam seakan merasa rusak dan hancur karena perbedaan keyakinan umatnya. (lebih…)

Juli 18, 2008 at 6:29 am Tinggalkan komentar


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP