Posts filed under ‘Kliping’

Allahu Akbar

Setiap muslim yang taat beribadah tak kurang dari 50 kali menyebut kata Allahu Akbar dalam setiap harinya. Kata keagungan Allah tersebut senantiasa diucapkan tanpa diresapi makna terdalamnya. Bahkan, terkadang “makna-makna sekuler”-lah yang muncul. Artinya, penyebutan Allahu Akbar tidak saja dilakukan pada saat shalat tetapi juga diluar shalat.

Ketika segerombolan umat islam bersorban dan berjubah putih hendak melakukan kekerasan atas nama amar ma’ruf nahi munkar, maka kata yang diteriakkan adalah Allahu Akbar. Kata yang mengiratkan akan ke-Maha Besar-an Allah itu harus rela bersama dengan aksi-aksi anarkisme dan kekerasan. Sebuah tindakan yang berseberangan dengan kata itu. Maka, kata Allahu Akbar memiliki potensi untuk melakukan anarkisme dan kekerasan. (lebih…)

Iklan

September 15, 2008 at 6:43 am Tinggalkan komentar

Agama di Bawah Bayang-Bayang Negara

  • Judul Buku : Diskriminasi di Sekeliling Kita: Negara, Politik Diskriminasi dan Multikulturalisme
  • Penulis : Abdul Munir Mulkhan, dkk
  • Editor : Suhadi Cholil
  • Penerbit : Interfidei, 2008, 244 + xviii
  • Peresensi: Rizqi Riyadu Taufiq : Peserta Program Magister Kajian Media dan Budaya UGM Yogyakarta

Kebebasan beragama di Indonesia belum sepenuhnya mencapai suatu keberhasilan yang memuaskan baik secara teoritis-normatif apalagi secara praktik-implementatif. Memang secara eksplisit ada jaminan yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 45 pasal 29 tentang kebeasan beragama. Melalui Amandemen II tahun 2000 misalnya dicantumkan bab baru tentang Hak Asasi Manusia yang meliputi pasal 28 A sampai 28 J. Perubahan ini seakan memberikan secercah harapan tentang kebebasan beragama di Indonesia.

Akan tetapi, semangat ideal dalam UUD 45 tersebut tidak didukung oleh aturan praktis semisal undang-undang dan peraturan-peraturan pemerintah lainnya. Bahkan ada sisi paradoks antara semangat ideal tersebut dengan aturan di bawahnya. (lebih…)

Mei 20, 2008 at 6:37 am Tinggalkan komentar

Merajut Hubungan Islam-Barat

Oleh: Abd. Malik

Pertautan dua peradaban besar Islam dan Barat dalam panggung sejarah selalu menarik untuk disimak. Baru-baru ini hubungan dua peradaban ini kembali diuji dengan kejadian kontroversial yang disuguhkan film fitna hasil karya anggota parlemen (Partij voor de Vrijheid) Belanda, Geert Wilders. Kejadian ini bukan kali pertama. Ada banyak kejadian kontroversial yang berujung pada pembelahan dua kekuatan antara Barat dan Islam.

Pertanyaan sementara yang ingin saya kemukakan adalah apakah rentetan kejadian tersebut merupakan representasi konflik peradaban antara Islam dan Barat? Sekaligus membenarkan ramalan futuristik yang dipopulerkan oleh Samuel P. Huntington tentang benturan peradaban (clash of civilization)? (lebih…)

Mei 18, 2008 at 6:34 am Tinggalkan komentar

Membangun Islam Konstruktif

Oleh : A. Hamied Razak**

Tulisan Ahmad Fawaid Sjadzili yang bertajuk “Menggagas Islam Progresif” di harian ini (Media Indonesia, 11/07) menarik untuk dikaji lebih lanjut. Sebelumnya harian ini edisi 27 Juni juga memuat tulisan yang secara subtantif hampir sama, yaitu “Mengkaji Teologi Transformatif” oleh Hatim Gazali. Secara subtantif, baik Fawaid Sjadzili maupun Hatim Gazali sama-sama berupaya untuk menghadirkan sebuah teologi (Islam) dalam format yang baru, yakni bersifat progresif, transformatif dan liberatif.

Kalau Hatim berupaya menghadirkan elan transformatif Islam, maka Fawaid Sjadzali melengkapinya dengan gagasan Islam progresif dengan memperhatikan keadilan sosial (social justice), keadilan gender (gender justice) dan penghargaan terhadap tradisi (engaging tradition). Kedua tulisan ini saling melengkapi dan mengoreksi kekurangan-kekurangan didalamnya serta memiliki semangat yang tidak jauh berbeda.

Karena itulah, gagasan dari kedua tulisan tersebut penting untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai upaya membangun sebuah teologi (Islam) yang populis, merakyat, tranformatif, progresif, kontekstual dan menjadi problem solver atau part of solution atas persoalan umat manusia kontemporer ini. Jika demikian, teologi ini akan bisa menyentuh persoalan sesungguhnya (real problem) yang dihadapi umat manusia dan sesuai dengan cita-cita kemanusiaan (humanity). Sebab, teologi (baca : agama) lahir untuk memanusiakan manusia (to humanize human being), membebaskan manusia dari penindasan dan sebagai -menurut Robert N. Bellah-sarana ilahiyah untuk memahami dunia. (Robert N. Bellah. 2000). Baca selengkapnya….

Maret 25, 2008 at 9:22 am Tinggalkan komentar

Mengkaji Teologi Transformatif

Oleh : Hatim Gazali

Sampai saat ini Islam tampil dengan dua wajah. Pada satu sisi, Islam mengajarkan solidaritas, keadilan, pembebasan. Hadir dengan ramah, santun dan humanis. Pada sisi lain, Islam hadir dengan angkuh, intoleran, dan menjadi legitimasi terhadap penindasan dan eksploitasi baik yang dilakukan oleh negara ataupun oleh para agamawan. Hal ini disebabkan karena nilai-nilai universal seperti keadilan, persamaan tidak pernah dipahami oleh pemeluknya. Seorang muslim ataupun agamawan lebih cenderung membahas dan mengkaji persoalan-persoalan ketuhanan dan masalah furu’iyah (cabang; periferal). Islam menjadi agama Tuhan, dan melupakan aspek universalitas (baca: kemanusiaan) dari Islam. Baca selengkapnya….

Maret 24, 2008 at 9:22 am Tinggalkan komentar

Menyoal Agama Kerakyatan

Oleh : A Muhammad Furqan**

Gagasan yang ditawarkan Hatim Gazali mengenai agama kerakyatan yang dituangkan dua kali dalam tulisan di Media Indonesia dengan judul ”Membangun Agama Kerakyatan” (5/12/2003) dan ”Menyempurnakan Agama Kerakyatan” (26/12/2003) tidak memberikan suatu pemahaman yang baru dalam khazanah intelektual. Para penanggap pun terkesan sungkan untuk memberikan catatan kritis atas gagasan yang ditawarkan Hatim Gazali, sehingga terkesan lebih mengamini ketimbang mengkritisi pemikiran Hatim.

Dari kedua tulisan tersebut, ada beberapa hal yang perlu mendapat catatan kritis. Pertama, Hatim tidak konsisten dengan taksonomi yang dibuatnya mengenai (al-din) dan (al-fikr al-diniyah). Dalam penjelasannya Hatim membedakan antara (al-din) agama yang bersifat universal, absolut, dan (al-fikr al-diniyah) pemikiran keagamaan yang bersifat ijtihadi, dhanny, relatif, nisbi, dan partikular. Namun sayang, dalam menguraikan gagasannya Hatim tidak jelas dalam menggunakan mana al-din dan mana al-fikr al-diniyah. Dalam paragraf 9, Hatim menulis, ”Jika demikian, maka membangun agama kerakyatan menjadi suatu kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar.. Baca selengkapnya….

Maret 23, 2008 at 9:21 am Tinggalkan komentar

Menuju Praksis Agama Kerakyatan

Oleh : Andriansyah **

Menarik, menyimak beberapa artikel di harian ini yang membincang tentang agama kerakyatan. Hatim Gazali memulai diskusi mengenai perlunya membangun agama kerakyatan (15/12/2003). Kemudian di sambut oleh dua artikel lain dari Muhammad Ja’far (12/12/2003) dan Saidiman (19/12/2003), yang masing-masing memberikan dasar epistimologis dan landasan agama kerakyatan. Akhirnya, Hatim Gazali menurunkan kembali sebuah artikel berjudul Menyempurnakan Agama Kerakyatan (26/12/2003), yang diniatkan sebagai artikel pamungkas. Sejatinya, Hatim Gazali telah mengakhiri sebuah diskusi secara amat elegan. Meski demikian, tampaknya masih saja ada hal yang terluputkan oleh Hatim Gazali. Sehingga diskusi tersebut masih harus berlanjut. Beberapa hal yang penulis nilai terluputkan ialah pewacanaan mengenai bagaimanakah gagasan, lebih jauh lagi konseptualisasi mengenai agama kerakyatan ini dapat reliable, aplikatif dan tertransformasi kepada masayarakat. Dikhawatirkan, pewacanaan ini lagi-lagi terjebak pada pemikiran yang kemudian menjadi elitis, eksklusif, dan homogen yang berarti sebuah anarki baru. Karena itu, pewacanaan hal ini mau tak mau harus diproyeksikan menjadi diskursus publik secara massif.

Hal lain, mengenai permasalahan idiom “kerakyatan” yang digunakan, dengan mengandaikan adanya penguasa dan yang dikuasai (rakyat). Sehingga memunculkan pertanyaan, apakah kekuasaan selalu niscaya diametral ?. Apakah kekuasaan itu meniscayakan suatu hal yang institusional ? (lebih…)

Maret 22, 2008 at 9:20 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP