Posts filed under ‘Abd. Malik’

Merajut Hubungan Islam-Barat

Oleh: Abd. Malik

Pertautan dua peradaban besar Islam dan Barat dalam panggung sejarah selalu menarik untuk disimak. Baru-baru ini hubungan dua peradaban ini kembali diuji dengan kejadian kontroversial yang disuguhkan film fitna hasil karya anggota parlemen (Partij voor de Vrijheid) Belanda, Geert Wilders. Kejadian ini bukan kali pertama. Ada banyak kejadian kontroversial yang berujung pada pembelahan dua kekuatan antara Barat dan Islam.

Pertanyaan sementara yang ingin saya kemukakan adalah apakah rentetan kejadian tersebut merupakan representasi konflik peradaban antara Islam dan Barat? Sekaligus membenarkan ramalan futuristik yang dipopulerkan oleh Samuel P. Huntington tentang benturan peradaban (clash of civilization)? (lebih…)

Iklan

Mei 18, 2008 at 6:34 am Tinggalkan komentar

Adakah Moralitas Dalam Politik?

Oleh :Abd.Malik

Politik seringkali dianggap sebagai hal yang negatif. Adanya pandangan minor terhadap politik ini karena politik seringkali ditafsiri dan digunakan semata-mata dalam konteks sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan dan kepentingan yang mengarah pada hal yang negatif, seperti penindasan, pembohongan, manipulasi dan monopoli. Padahal hakikat politik tidak seperti apa yang telah dipraktekkan saat ini. Politik hakikatnya, adalah sebagai sarana untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang adil makmur dan sejahtera.

Pemilu 2004 yang sebentar lagi digelar merupakan arena kompetisi politik paling bergengsi. Persaingan politik antara berbagai partai akan terjadi. pada kesempatan itu, Kalau masih saja politik ditafsiri dan digunakan sebagai alat untuk saling menguasai maka pemilu 2004 akan merupakan bencana bagi bangsa ini. Bukan sebagai penentuan arah baru bangsa Indonesia. (lebih…)

Maret 4, 2008 at 9:10 am 1 komentar

Imlek, Hijriah, dan Dialog Peradaban

Oleh: Abd. Malik Ustman

Adalah tak terbantahkan bahwa memupuk sikap toleransi, menghargai dan saling rukun di era ini merupakan sikap yang harus dipertegas secara nyata di ranah pergaulan sehari-hari. Tampilan wajah dunia yang memperlihatkan suatu pola pergaulan lintas batas meniscayakan suatu pertemuan berbagai varian budaya, agama, etnik, dan suku dalam satu arena. Dalam kondisi seperti itu hanya kepercayaan, kerukunan, dan saling menghargai yang akan menjadi pagar yang mampu meracik keragaman itu menjadi simfoni kekayaan dunia yang menakjubkan. Secara beriringan dua peringatan besar dari dua identitas agama yang berbeda dirayakan.Pada tanggal 9-10 Februari akan dirayakan Tahun baru Imlek sebagai tahun baru bagi warga keturunan Tionghoa dan tahun baru Hijriah sebagai tahun baru umat Islam. Dua peringatan relijius ini bertemu dalam satu bulan ini.Hari raya Imlek bagi pemeluk agama Konghucu adalah hari raya keagamaan untuk memperingati kelahiran Nabi Konfusius atau sering pula disebut sebagai Kung sang Guru. Tetapi, bagi warga keturunan Tionghoa yang memeluk agama lain, Imlek adalah peringatan hari raya kultural Cina. Dan memang pada mulanya Imlek merupakan hari untuk memperingati pergantian musim bagi petani di China. Tujuannya sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak. Maka “Gong Xi Fa Chai” yang biasa diucapkan berarti “Selamat Tahun Baru. Semoga Anda menjadi kaya”.Sementara itu, Hijrah merupakan perayan tahun baru umat Islam yang bertolak pada kelahiran peradaban Islam di Madinah. Perayaan ini menjadi sangat penting atau bahkan paling penting bagi umat Islam, karena pada momen itu pula peradaban Islam muncul. Oleh karenanya, pada peringatan Tahun Baru Hijriah umat Islam akan diingatkan kembali pada suatu semangat, makna, di mana Islam pernah berdiri sebagai sebuah peradaban yang sempurna. (lebih…)

Februari 28, 2008 at 6:31 pm Tinggalkan komentar

Idul Fitri dan Pesan Perdamaian untuk Bangsa

Oleh: Abd. Malik Ustman

Hari Idul Fitri merupakan hari raya besar umat Islam yang dirayakan pada akhir bulan Ramadan sebagai aktualisasi perasaan kemenangan, kegembiraan, dan kesenangan. Kemenangan didapatkan setelah umat Islam menaklukkan hawa nafsunya selama bulan puasa. Kegembiraan didapatkan bagi mereka yang telah diampuni dosanya. Dan kesenangan didapatkan bagi mereka yang dapat berkumpul dan bersilaturahmi dengan sesama keluarganya.

Dalam perayaan Idul Fitri kali ini, ada suatu hal yang perlu dikaitkan antara konteks sosial bangsa dengan makna Idul Fitri yang selalu berorientasi perdamaian. Beberapa tahun terakhir, beragam kekerasan masih terus mewarnai masyarakat Indonesia baik dalam skala kecil ataupun besar, baik bersifat manifest maupun laten. Kekerasan itu didorong oleh faktor-faktor yang beragam mulai dari persoalan kecemburuan sosial, politik, ekonomi, budaya maupun agama. Pertanyaannya mengapa agama yang selalu mengajarkan perdamaian tetap saja dianggap sebagai bagian dari penuai konflik? (lebih…)

Februari 27, 2008 at 6:30 pm Tinggalkan komentar


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP