Posts filed under ‘Hatim Gazali’

Menyempurnakan Agama Kerakyatan

Oleh : Hatim Gazali

Tulisan saya di harian Media Indonesia, Membangun Agama Kerakyatan (MI, 5/12/2003) di harian ini menuai tanggapan yang cukup menarik. Muhammad Ja’far melalui papernya, “Dasar Epistimologi Agama Kerakyatan” (Media Indonesia, 12/12/2003) diupayakan untuk melengkapi beberapa kekurangan dalam tulisan saya. Kajian kritis terhadap tipologi dikotomik antara agama (Al-din) dengan pemikiran keagamaan (Al-afkar Al-diniyah) semakin menguatkan dihadirkan untuk memberikan dasar epistimologis agama kerakyatan.

Sementara, Saidiman, “Landasan Teologis Agama Kerakyatan” (Media Indonesia, 19/12/2003) menyinggung hal-hal yang belum sempat dipaparkan lebih jauh baik oleh saya maupun Muhammad Ja’far. Saidiman mengulas lebih jauh tentang sikap yang diteladankan oleh Yesus Kristus (Isa Al-Masih) dan pasukan Sayyidina Umar sebagai dasar teologis dari Agama Kerakyatan. (lebih…)

Iklan

Maret 21, 2008 at 9:19 am Tinggalkan komentar

Membangun Agama Kerakyatan

Oleh : Hatim Gazali

Agama lahir ke muka bumi bukan hanya untuk disakralkan, tetapi juga sebagai media kritik dan sarana transformasi sosial. Pemikir Islam, seperti Mohammad Arkoun, Hasan Hanafi, Abed al-Jabiri dan sebagainya mengandaikan agama sebagai ruang kritik dan tidak pernah bebas nilai (free value).

Agama secara normatif menyuguhkan doktrin yang membebaskan, sebagai sarana transendensi diri dan petunjuk (hudan li al-nass) bagi segenap alam. Namun, tujuan mulia ini jarang hadir ditengah-tengah realitas sosial-kemasyarakatan. Alih-alih menjadi way of life, agama seringkali justru menjadi salah satu hambatan teologis untuk membangun persaudaraan secara universal (ukhuwah basyariyah), membangun peradaban, dan membebaskan kaum yang tertindas. Aksi teror dan kekerasan yang belakangan marak acap bergandengan dengan semangat agama, sehingga terorisme seringkali diidentikkan dengan fundamentalisme agama. Tentu saja, anggapan seperti ini tidak proporsional dan sangat kontra-produktif.

Namun, belakangan ini, agama seringkali digugat, dikritik, dituding dan dihujat. Ungkapan Marx, agama sebagai candu masyarakat adalah salah satu contoh gugatan terhadap agama. Lalu, mungkinkah dan adakah yang salah dalam agama ?. Bagaimana mungkin, Tuhan yang Maha Kuasa, tidak pernah salah menurunkan sebuah agama yang tidak sesuai dan relevan dengan agama ? (lebih…)

Maret 18, 2008 at 9:17 am Tinggalkan komentar

Autentisitas dan Lokalitas Islam

Oleh : Hatim Gazali

Perbincangan tentang lokalitas Islam dan Islam Pribumi di harian Media Indonesia beberapa bulan belakangan ini belum kunjung selesai dan barangkali tak akan menemukan titik akhirnya. Sebab, gagasan Islam Pribumi dalam hubungannya dengan lokalitas Islam adalah sebuah discourse yang multiinterpretasi dan debatable. Karena sifat yang demikian itulah, gagasan ini selalu menarik untuk didiskusikan dan senantiasa menemukan signifikannya dalam realitas apapun.

Pelbagai pemikiran yang muncul tentang Islam pribumi dari pemikir keislaman di Indonesia belum menunjukkan kata sepakat, dan kesemuanya itu saling melengkapi untuk memperkuat gagasan tersebut. Kendatipun demikian, kesemuanya hampir sepakat akan adanya persenyawaan unsur lokalitas Islam dengan autentisitas Islam. Dengan demikian, Islam Pribumi pada dasarnya merupakan upaya kontekstualisasi Islam. Akan tetapi ada beberapa hal penting yang sangat berkaitan yang hendak saya diskusikan pada kali ini. (lebih…)

Maret 16, 2008 at 9:16 am Tinggalkan komentar

Ketika Hidup Tanpa Tuhan

Oleh : Hatim Gazali

Akhir-akhir ini, peran dan fungsi agama semakin dipertanyakan dan diragukan. Begitu pula dengan sumber primer agama, yakni Tuhan. Pertanyaan skeptis dan pernyataan pesimis tentang-Nya dari para intelektual dan ilmuan cukup beragam. Misalnya Karen Amstrong mengakhiri karyanya, Sejarah Tuhan, dengan judul “Apakah Tuhan Mempunyai Masa Depan…?” Secara eksplisit ia hendak mempertanyakan apakah agama masih bisa memainkan peran humanisme-profetiknya di dunia ini. Atau masihkah manusia akan tetap mempercayai Tuhan di masa yang akan datang sekaligus menjadikan inspirator dalam menegakkan keadilan, kebenaran dan mencegah kemungkaran. Tidakkah karena agama telah dapat meneteskan air mata dan darah manusia.

Statemen dan pertanyaan di atas tidak dapat disalahkan sama sekali. Karena dalam hal ini sekurang-kurang ada dua faktor utama. Pertama, pemahaman dan pengetahuan tentang agama yang tidak holistik, komprehensif. Seseorang lebih cenderung memandang agama hanya dari satu aspek saja, tidak dalam aspek lainnya. Misalnya hanya melalui pendekatan fungsional, tidak dalam pendekatan lainnya. Atau agama hanya diyakini sebagai institution, tidak sebagai faith (keyakinan). Memahami dan memaknai agama secara distorsif ini pada gilirannya akan menuding agama telah gagal menjawab tantangan zaman dan tidak bisa memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Bahkan dianggap menjadi sumber segala persoalan kemanusiaan. (lebih…)

Maret 15, 2008 at 9:15 am Tinggalkan komentar

Tuhan Yang Membumi

Oleh : Hatim Gazali
Jangan terlalu percaya pada Tuhanmu. Sebab, sebab jangan-jangan Tuhan yang kamu sembah itu adalah Tuhan cipta-rekaannmu. Tuhan yang ada dalam otak dan hasil imajinasimu. Tuhan hasil kreasi senior, Orang Tua, dan elit agama. Bukan Tuhan sesungguhnya, melainkan Tuhan warisan. Yang membelenggu, menyiksa, dan mengadu domba. Bukan Tuhan Muhammad yang Maha Segala (Sy Gila Syorga;1996, hlm 7).

Begitulah kira-kira kalimat yang pantas untuk mengawali tulisan ini sebagai sebuah tanggapan atas tulisannya Marluwi, Mencari Titik Tuhan pada harian ini (14/11). Dalam tulisannya, Marluwi melontarkan beberapa pertanyaan fundamental yang menggugah penulis untuk urun rembug mendiskusikannya. Apakah moralitas dan kinerja kita selama ini dalam mencari Tuhan adalah tercermin dan telah terpantulkan? Utamanya pada lingkungan dan khazanah sosial? (lebih…)

Maret 14, 2008 at 9:14 am Tinggalkan komentar

Agama Edisi Revisi

Oleh : Hatim Gazali

Seorang tokoh termuka dalam Gereja Protestan, Hendrik Kraemer, mengemukakan bahwa agama sudah memasuki periode krisis. Pandangan semacam ini tidak saja dikemukakan oleh oleh Henderik. Juga Dr. Malachi Martin, Guru Besar Pontifical Biblical Institute, Roma, dalam penelitiannya penelitian selama bertahun-tahun terhadap tiga agama besar (Abrahamic Religion; Yahudi, Kristen, Islam) yang dikemukakan dalam bukunya The Encounter dengan sub judul Religions in Crisis, menyimpulkan bahwa agama telah memasuki daerah yang sangat kering baik sebagai personal concern maupun sebagai communal community. Zaman keberhasilan agama sudah berakhir. 

Ungkapan semacam itu tidak serta merta tanpa alasan yang rasional. Hal ini disebabkan karena agama das solen dengan das sein-nya tidak sejalan. Agama yang sejatinya sebagai way of live (hudan), kohesi sosial (Auguste Comte), to humanize human being (memanusiakan manusia) justru dijadikan untuk alat menindas, legitimasi penguasa untuk menjalankan otoritas dan kekuasannya, menimbulkan konflik sosial. Konflik agama yang terjadi di Situbondo, Aceh, Ambon dan dibeberapa daerah lainnya pada beberapa tahun yang lalu merupakan bukti kuat bahwa agama telah kehilangan daya kritisnya. Karena agama, manusia siap dan mempertaruhkan darah, nyawa dan harta. Fungsi agama sebagai pembebasan, keselamatan telah sirna. Ketika itulah, menurut Robert Ackermann (1991) merupakan lonceng kematian agama. (lebih…)

Maret 10, 2008 at 9:11 am Tinggalkan komentar

Agama Dalam Cetakan Baru

Oleh : Hatim Gazali

Sampai detik ini, agama masih diyakini pemeluknya sebagai sumber ketenangan, keamanan, dan kedamaian. Agama juga dianggap sebagai sumber pemecahan masalah (problem solver) dalam kehidupan penganutnya. Namun, dalam kenyataannya, agama tidak jarang menjadi salah satu faktor pemicu ketegangan dan konflik, baik di antara sesama penganut (internal) agama itu sendiri, maupun dengan penganut (eksternal) agama lain. Dalam hal ini agama malah menjadi sumber permasalahan (problem maker). Agama, sebagai kumpulan wahyu Tuhan, ketika dipahami dan dihadapkan dengan realitas sosial, ternyata melahirkan berbagai konflik diantara manusia.

Jika demikian, maka benar ungkapan R Scopt Appleby dalam The Ambivalence of the Sacred, Religion, Violence, and Reconciliation (2000) yang menyatakan adanya ambiguitas fungsi agama. Pada satu sisi, agama bisa menghasilkan nilai-nilai humanistik, toleran, inklusif, cinta kasih dan perdamaian. Namun pada sisi yang lain agama membuahkan otoritarianisme, kekerasan, konflik dan peperangan. Penyebabnya, antara lain, karena masing-masing pemeluk agama secara eksklusif mengklaim, agamanyalah yang paling benar dan agama orang lain adalah salah. Estra Ecclesian nulla salus (tidak ada keselamatan diluar Gereja). Maka, ketika kebenaran suatu agama di bawa “ke luar”, yang terjadi adalah gesekan dan ketegangan, clash diantara pemeluk agama yang satu dengan lainnya, bukan perjumpaan (en counter). (lebih…)

Maret 7, 2008 at 9:10 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP