Posts filed under ‘Teologi’

Membangun Islam Konstruktif

Oleh : A. Hamied Razak**

Tulisan Ahmad Fawaid Sjadzili yang bertajuk “Menggagas Islam Progresif” di harian ini (Media Indonesia, 11/07) menarik untuk dikaji lebih lanjut. Sebelumnya harian ini edisi 27 Juni juga memuat tulisan yang secara subtantif hampir sama, yaitu “Mengkaji Teologi Transformatif” oleh Hatim Gazali. Secara subtantif, baik Fawaid Sjadzili maupun Hatim Gazali sama-sama berupaya untuk menghadirkan sebuah teologi (Islam) dalam format yang baru, yakni bersifat progresif, transformatif dan liberatif.

Kalau Hatim berupaya menghadirkan elan transformatif Islam, maka Fawaid Sjadzali melengkapinya dengan gagasan Islam progresif dengan memperhatikan keadilan sosial (social justice), keadilan gender (gender justice) dan penghargaan terhadap tradisi (engaging tradition). Kedua tulisan ini saling melengkapi dan mengoreksi kekurangan-kekurangan didalamnya serta memiliki semangat yang tidak jauh berbeda.

Karena itulah, gagasan dari kedua tulisan tersebut penting untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai upaya membangun sebuah teologi (Islam) yang populis, merakyat, tranformatif, progresif, kontekstual dan menjadi problem solver atau part of solution atas persoalan umat manusia kontemporer ini. Jika demikian, teologi ini akan bisa menyentuh persoalan sesungguhnya (real problem) yang dihadapi umat manusia dan sesuai dengan cita-cita kemanusiaan (humanity). Sebab, teologi (baca : agama) lahir untuk memanusiakan manusia (to humanize human being), membebaskan manusia dari penindasan dan sebagai -menurut Robert N. Bellah-sarana ilahiyah untuk memahami dunia. (Robert N. Bellah. 2000). Baca selengkapnya….

Iklan

Maret 25, 2008 at 9:22 am Tinggalkan komentar

Mengkaji Teologi Transformatif

Oleh : Hatim Gazali

Sampai saat ini Islam tampil dengan dua wajah. Pada satu sisi, Islam mengajarkan solidaritas, keadilan, pembebasan. Hadir dengan ramah, santun dan humanis. Pada sisi lain, Islam hadir dengan angkuh, intoleran, dan menjadi legitimasi terhadap penindasan dan eksploitasi baik yang dilakukan oleh negara ataupun oleh para agamawan. Hal ini disebabkan karena nilai-nilai universal seperti keadilan, persamaan tidak pernah dipahami oleh pemeluknya. Seorang muslim ataupun agamawan lebih cenderung membahas dan mengkaji persoalan-persoalan ketuhanan dan masalah furu’iyah (cabang; periferal). Islam menjadi agama Tuhan, dan melupakan aspek universalitas (baca: kemanusiaan) dari Islam. Baca selengkapnya….

Maret 24, 2008 at 9:22 am Tinggalkan komentar

Menyoal Agama Kerakyatan

Oleh : A Muhammad Furqan**

Gagasan yang ditawarkan Hatim Gazali mengenai agama kerakyatan yang dituangkan dua kali dalam tulisan di Media Indonesia dengan judul ”Membangun Agama Kerakyatan” (5/12/2003) dan ”Menyempurnakan Agama Kerakyatan” (26/12/2003) tidak memberikan suatu pemahaman yang baru dalam khazanah intelektual. Para penanggap pun terkesan sungkan untuk memberikan catatan kritis atas gagasan yang ditawarkan Hatim Gazali, sehingga terkesan lebih mengamini ketimbang mengkritisi pemikiran Hatim.

Dari kedua tulisan tersebut, ada beberapa hal yang perlu mendapat catatan kritis. Pertama, Hatim tidak konsisten dengan taksonomi yang dibuatnya mengenai (al-din) dan (al-fikr al-diniyah). Dalam penjelasannya Hatim membedakan antara (al-din) agama yang bersifat universal, absolut, dan (al-fikr al-diniyah) pemikiran keagamaan yang bersifat ijtihadi, dhanny, relatif, nisbi, dan partikular. Namun sayang, dalam menguraikan gagasannya Hatim tidak jelas dalam menggunakan mana al-din dan mana al-fikr al-diniyah. Dalam paragraf 9, Hatim menulis, ”Jika demikian, maka membangun agama kerakyatan menjadi suatu kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar.. Baca selengkapnya….

Maret 23, 2008 at 9:21 am Tinggalkan komentar

Menuju Praksis Agama Kerakyatan

Oleh : Andriansyah **

Menarik, menyimak beberapa artikel di harian ini yang membincang tentang agama kerakyatan. Hatim Gazali memulai diskusi mengenai perlunya membangun agama kerakyatan (15/12/2003). Kemudian di sambut oleh dua artikel lain dari Muhammad Ja’far (12/12/2003) dan Saidiman (19/12/2003), yang masing-masing memberikan dasar epistimologis dan landasan agama kerakyatan. Akhirnya, Hatim Gazali menurunkan kembali sebuah artikel berjudul Menyempurnakan Agama Kerakyatan (26/12/2003), yang diniatkan sebagai artikel pamungkas. Sejatinya, Hatim Gazali telah mengakhiri sebuah diskusi secara amat elegan. Meski demikian, tampaknya masih saja ada hal yang terluputkan oleh Hatim Gazali. Sehingga diskusi tersebut masih harus berlanjut. Beberapa hal yang penulis nilai terluputkan ialah pewacanaan mengenai bagaimanakah gagasan, lebih jauh lagi konseptualisasi mengenai agama kerakyatan ini dapat reliable, aplikatif dan tertransformasi kepada masayarakat. Dikhawatirkan, pewacanaan ini lagi-lagi terjebak pada pemikiran yang kemudian menjadi elitis, eksklusif, dan homogen yang berarti sebuah anarki baru. Karena itu, pewacanaan hal ini mau tak mau harus diproyeksikan menjadi diskursus publik secara massif.

Hal lain, mengenai permasalahan idiom “kerakyatan” yang digunakan, dengan mengandaikan adanya penguasa dan yang dikuasai (rakyat). Sehingga memunculkan pertanyaan, apakah kekuasaan selalu niscaya diametral ?. Apakah kekuasaan itu meniscayakan suatu hal yang institusional ? (lebih…)

Maret 22, 2008 at 9:20 am Tinggalkan komentar

Menyempurnakan Agama Kerakyatan

Oleh : Hatim Gazali

Tulisan saya di harian Media Indonesia, Membangun Agama Kerakyatan (MI, 5/12/2003) di harian ini menuai tanggapan yang cukup menarik. Muhammad Ja’far melalui papernya, “Dasar Epistimologi Agama Kerakyatan” (Media Indonesia, 12/12/2003) diupayakan untuk melengkapi beberapa kekurangan dalam tulisan saya. Kajian kritis terhadap tipologi dikotomik antara agama (Al-din) dengan pemikiran keagamaan (Al-afkar Al-diniyah) semakin menguatkan dihadirkan untuk memberikan dasar epistimologis agama kerakyatan.

Sementara, Saidiman, “Landasan Teologis Agama Kerakyatan” (Media Indonesia, 19/12/2003) menyinggung hal-hal yang belum sempat dipaparkan lebih jauh baik oleh saya maupun Muhammad Ja’far. Saidiman mengulas lebih jauh tentang sikap yang diteladankan oleh Yesus Kristus (Isa Al-Masih) dan pasukan Sayyidina Umar sebagai dasar teologis dari Agama Kerakyatan. (lebih…)

Maret 21, 2008 at 9:19 am Tinggalkan komentar

Landasan Teologis Agama Kerakyatan

Oleh : Saidiman**

Indonesia, 12 Desember 2003, telah memberikan sebuah fondasi awal bagi kelahiran konsep ‘agama kerakyatan’. Gagasan agama kerakyatan maupun dasar epistemologisnya sangat menarik untuk diperdebatkan lebih jauh. Bukan hanya karena masalah ini adalah masalah yang sensitif, melainkan juga karena menawarkan satu cara pandang radikal tentang konsep keberagamaan yang berbeda dari mainstream selama ini.

Argumen yang diajukan oleh Muhammad Ja’far tentu tidak bisa dibantah sepenuhnya, sebagaimana juga tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Perdebatan tentang landasan epistemologis lahirnya sebuah agama telah berlangsung, barangkali sejak agama itu lahir. Orang yang mengatakan bahwa agama itu betul diturunkan dari Tuhan dan bersifat absolut transendental adalah satu pendapat. Yang mengatakan agama sebagai hanya hasil proyeksi manusia adalah pendapat yang lain lagi. Keduanya susah untuk dibantah, karena masing-masing tidak bisa memberikan bukti empiris. Tidak ada yang bisa memverifikasi ada atau tidak adanya Tuhan. Ini adalah wilayah perdebatan yang masih abu-abu.Para pemikir sekuler Barat telah lama mendesakralisasi posisi Tuhan. Salah satu dari mereka, Ludwig Feuerbach, mengatakan Tuhan dan agama tidak lebih dari hasil proyeksi manusia. Kaum Marxis berpendapat, konsep tentang agama dan Tuhan muncul sebagai bentuk kekalahan manusia berdialektika dengan alam. Alih-alih menghadapi alam dengan kerja, manusia yang kalah itu malah lari dan mengkhayalkan kekuatan transenden di luar dirinya. Juga Durkheim memublikasikan sebuah penemuan, bahwa agama dan Tuhan pada awalnya lahir sebagai bentuk pemujaan terhadap solidaritas. Tetapi, semua pendapat ini tidak pernah bisa membuktikan secara jelas, bahwa Tuhan itu betul-betul tidak ada. Satu hal yang pasti, hampir seluruh penduduk bumi ini adalah penganut agama dan percaya bahwa Tuhan ada, betapa pun pembuktian tentang Tuhan ada belum dilaksanakan. (lebih…)

Maret 20, 2008 at 9:18 am Tinggalkan komentar

Dasar Epistemologis Agama Kerakyatan

Oleh : Muhammad Ja’far **

Gagasan Saudara Hatim Gazali perihal kemendesakan dan keharusan untuk ‘Membangun Agama Kerakyatan’ (Media Indonesia, 5/12/2003), sangat menarik. Namun, tampaknya ada beberapa aspek yang luput dari tinjauan Saudara Hatim. Karena itu, tulisan ini, di samping mencoba untuk memberikan catatan kritis, juga ditujukan untuk memberikan dasar epistemologis gagasan tersebut. Menarik untuk ditinjau kembali adalah dikotomi Saudara Hatim tentang agama sebagai sebuah nilai yang absolut-transenden dan pemikiran keagamaan yang cenderung bersifat relatif-imanen.

Pertanyaannya, sejauh mana dikotomi tersebut dapat dipertanggungjawabkan keabsahan dan relevansinya? Selama ini memang berkembang luas dan kuat, pemahaman tentang perbedaan antara agama sebagai sebuah nilai yang absolut, dan gerakan pemikiran keagamaan hasil rintisan rasio manusia yang relatif sifatnya. Yang pertama, biasanya diasumsikan sebagai seonggok konsep utuh yang diturunkan oleh Tuhan ke bumi sebagai pedoman dan konsumsi hidup umat manusia. Adapun yang kedua, pemikiran keagamaan, dibatasi hanya sebagai hasil pemahaman dan ‘pembacaan’ manusia atas konsep yang diamanatkan Tuhan tersebut. (lebih…)

Maret 19, 2008 at 9:18 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP