Membuka Pintu Agama

Harvei Cox melalui The Secular City (1966) dengan penuh optimis meramalkan bahwa kuatnya arus sekularisasi sebagai bagian dari globalisasi akan ditandai dengan munculnya peradaban masyarakat urban yang sejajar dengan runtuhnya peran agama tradisional. Paradigma sekular akan menjadi dominan sementara pandangan keagamaan akan menjadi irrelevan dan tersudut dalam ruang private.

Akan tetapi, ramalan ini tidak terbukti sehingga dalam Religion in the Secular City (1985) Harvei Cox meralat prediksinya dengan mengulas kebangkitan agama yang mewarnai ruang publik sekular.
Fakta menjadi terbalik, runtuhnya peradaban urban dan munculnya agama tradisional menjadi tanda baru era ini. Fenomena ini sebenarnya tidak menandai runtuhnya sekularisme secara total. Maraknya agama bangkit di ruang publik dengan berbagai simbol relijius yang tidak tabu lagi untuk dikibarkan menyebabkan ruang publik sesak dengan parade simbol agama. Di sinilah arus baru tercipta dari sekularisme menuju pluralisme.

Namun, dalam kondisi seperti itu, agama dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Berbaur dengan yang lain dalam ruang publik atau mengisolasi diri dalam keberagamaan.Kita tahu, keragaman adalah ritme sejarah manusia bahkan seluruh mahluk di dunia ini, karenanya ia tidak bisa dinafikan atau ditentang. Menentang keragaman sama halnya dengan menentang kodrat manusia yang diciptakan secara beragam.

Saatnya kita disodorkan dengan beberapa pilihan sikap. Apakah kita tetap menyatakan bahwa agama kitalah yang paling benar (ekslusif) atau agama lain ada kemungkinan benar tetapi agama kita sebagai titik kulminasi kebenaran (inklusif) atau kita perlu mengatakan bahwa kebenaran tidak bisa dimonopoli oleh satu agama karena semua agama mempunyai kebenaran (pluralis).

Sumber: Bulletin al-Hurriyah Edisi III/Juli/2008

Iklan

Agustus 9, 2008 at 4:34 pm Tinggalkan komentar

Ketika Sekolah Berseragam

Judul Buku : Pendidikan Berwawasan Kebangsaan; Kesadaran Ilmiah Berbasis Multikulturalisme
Penulis : HM. Nasruddin Anshory Ch & GKR Pembayun
Penerbit : LKiS, 2008.
Tebal : 209 halaman
Oleh : Moh. Davied (Mahasiswa Fak. Hukum UII Yogyakarta)
Suatu ketika menjelang malam, sebuah buku kembali mengusik pikiran saya, dan rasa kantuk pun hilang seketika. Buku itu berjudul “Pendidikan Berwawasan Kebangsaan” yang baru saja saya dapatkan dari pernerbitnya. Setelah membaca pengantarnya, saya semakin terprovokasi ingin menyilami isi buku mungil ini. Ternyata benar, penulis tak hanya menyampaikan tentang arti penting sebuah pendidikan dalam memajukan sebuah bangsa, tetapi penulis juga mampu membawa pembacanya dalam lamunan panjang tentang masa depan bangsa dengan mengajak bernostalgia pada sejarah masa lalu. Inilah yang membuat saya tidak bisa berhenti membaca sampai akhir buku ini. Buku ini mencoba menulusuri sejarah pendidikan yang pernah dijalankan oleh bangsa ini sejak sebelum kemerdekaan sampai pada masa sekarang ini. Pada intinya penulis ingin memberikan petunjuk tentang; kesukaran, penderitaan, perubahan, pertumbuhan, dan perjuangan yang dialami oleh bangsa ini. Dimana tiap-tiap pengalaman itu, tersliplah soal pendidikan dan pengajaran yang telah meresap dan mendarah daging sehingga mewujudkan adat dan kebiasan bangsa pada masa lalu itu.

Pendidikan yang dimaksud dalam buku ini adalah upaya mencerdaskan pikiran, menghaluskan budi pekerti, memperluas cakrawala pengetahuan serta memimpin dan membiasakan anak-anak menuju ke arah kesehatan jasmani dan rohani. Sudah tentu masing-masing bangsa telah mempunyai konsepsi tentang batas-batas dan kelanjutan pendidikan yang dianggapnya baik dan berfaedah bagi peserta didik pada hidupnya untuk mencapai masa depan yang cemerlang. (lebih…)

Agustus 8, 2008 at 4:26 pm Tinggalkan komentar

Menolak Globalisasi Sama Halnya Menolak Realitas

Masalah globalisasi masih menjadi problem yang perlu disikapi bersama. Tanpa melihat dari mana latar belakang kita, kita harus mampu duduk bersama guna mencari solusi dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh arus besar globalisasi. Agama yang masih dipandang sebagai antiklimaks globalisasi ternyata masih terlalu kaku mengimbangi globalisasi. Terkait dengan permasalahan tersebut, R. Guntur Karyapati dari CRSe mewawancarai Dr. Zainal Abidin Bagir, Direktur Eksekutif CRCS-UGM Yogyakarta

Apa latar belakang dan tujuan yang ingin dicapai CRCS dan ICRS mengangkat tema agama dan globalisasi dalam internasional conference kemaren?
Latar belakangnya, kita mulai dengan dua hal yang berbeda pada awalnya namun itu jadi satu dalam conferensi ataupun workshop. Dua hal tersebut adalah: Pertama, dari segi tema “Agama dan Tantangan globalisasi”, itu sendiri merupakan salah satu isu yang penting saya kira. Sselain itu masalah ini juga merupakan masalah yang sering diperbincangkan oleh semua orang. Tidak peduli agamanya apa, kalau kita berbicara dampak globalisasai semua orang kena. Kedua, bagaimana semua orang dari latar belakang agama yang berbeda bisa duduk bersama membicarakan masalah bersama ini. Tujuannya ada dua, pertama apa yang bisa diberikan umat beragama. Kedua, ruang di mana orang dari latar belakang kelompok yang berbeda-beda itu bisa ketemu.

Satu hal yang paling penting itu bagi semua orang bahwa globalisasi punya dimensi yang sangat banyak sekali. Masalah yang kita bicarakan lebih pada dampak globalisasi pada budaya, dampak media, dampak terhadap pendidikan kaum muda, kemudian mengenai masalah krisis lingkungan yang semakin mengglobal. Masalah yang lain mengenai identitas dan simbol keagamaan. Problem-problem itu kita bahas baik dalam workshop maupun konferensi. Cuma sejak awal kita sepakat untuk tidak mengeluarkan deklarasi atau pernyataan bersama. Yang penting prosesnya, kita duduk bareng karena yang penting adalah bagaimana langkah ini nanti kemudian difollow up. (lebih…)

Agustus 6, 2008 at 4:16 pm Tinggalkan komentar

Ketika Waktu Memodernisasi Agama

Oleh : Ali Usman [Alumnus program teologi dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta]

Ber(agama) di kehidupan modern sekarang ini sungguh menjadi daya pikat yang tak terbantahkan. Kehadirannya tidak lagi dihujat dan dihindari secara sinis sebagimana yang pernah dilakukan oleh kaum ateis di awal-awal perkembangan ilmu pengetahuan beberapa abad silam. Animo masyarakat yang menyambut posotif agama tersebut menguatkan tesis Peter L. Berger (1991), yang menurut sosiolog humanistik itu sebagai kanopi suci (the secret canopy).

Agama, tulis Berger, ibarat langit suci yang teduh dan melindungi kehidupan. Agama sebagai penyiram panasnaya kehidupan, yang dapat menumbuhsuburkan tanaman. Dengan agama, manusia menjadi memiliki rasa damai, tempat bergantung, bahagia, dan memiliki ketenteraman hidup. Agama juga dapat melindungi manusia dari chaos, dari ketidakberartian hidup, dari situasi hidup tanpa arti.
Dari itu, secara ideal dan teoritis, pendapat Berger di atas tentu dapat dibenarkan, dan tak ada yang menyangkal kebenarannya. Namun dalam praktiknya, ketaatan beragama yang “berlebih” dalam dekade belakangan ini mulai diragukan, dikritik, dan diprotes oleh sebagian kalangan. Hal itu terjadi lantaran beberapa persitiwa seperti konflik antara etnis, bom bunuh diri, dan tindak kekerasan, disinyalir bersumbu pada ketaatan yang sangat “ekstrim” dalam memahami doktrin-doktrin agamanya. (lebih…)

Agustus 4, 2008 at 4:09 pm Tinggalkan komentar

Agama Merespon Globalisasi

Perubahan sosial yang berlangsung amat cepat sebagai dampak dari globalisasi, melahirkan berbagai persoalan, baik social, ekonomi, politik dan agama. Pada satu sisi, era globalisasi memberi peluang lebar bagi semua komunitas untuk ‘berbaur’ dengan komunitas lain. Di sisi lain, globalisasi justru menebar ancaman bagi komunitas yang tidak siap menahan lajunya.

Berbagai komunitas agama baik di Indonesia maupun di negara-negara lain memiliki keprihatinan bersama menyangkut globalisasi. Pada sebuah konferensi internasional tentang agama dan globalisasi, yang diselenggarakan oleh Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Gadjah Mada University & Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS-Yogya), 30 Juni-3 Juli 2008 di Pasca Sarjana UGM, problem globalisasi agaknya perlu mendapat perhatian serius dari semua kalangan, terutama komunitas beragama. Sebab, dampak negatif yang ditimbulkan globalisasi bila ditinjau dari berbagai sisi, baik sosial, budaya, ekonomi, politik maupun media telah melahirkan perilaku negatif pula dalam kehidupan manusia. Demikian pandangan umum yang disampaikan sejumlah panelis yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Dengan mengangkat tema, “Globalization : Challenge and Opportunity for Religions” sejumlah panelis memaparkan pandangan-pandangan mereka tentang globalisasi, dan respon terhadapnya dari berbagai perspektif. Sejumlah tokoh dan pemikir baik dari dalam maupun luar negeri hadir dalam kegiatan tersebut. Ini menunjukkan bahwa problem globalisasi tidak hanya menjadi milik satu komunitas atau negara tertentu, tetapi juga menjadi problem semua kalangan (negara, red). (lebih…)

Agustus 2, 2008 at 3:54 pm Tinggalkan komentar

Edisi III Terbit, Edisi IV Call for Papers

Al-Hurriyah Edisi IV Call For Papers

Bulletin Edisi Keempat bertema ”Partai Politik Islam”.

Bulletin al-Hurriyah mengundang segenap pembaca untuk mengirimkan tulisan berupa artikel dan resensi buku ke bulletin al-Hurriyah edisi IV dengan tema “Partai Politik Islam”. Panjang tulisan maksimal 5.500 karakter. Tulisan yang dimuat akan mendapatkan honorarium sewajarnya. Penulis yang berdomisili di Yogyakarta akan lebih diprioritaskan. Kirimkan alamat, Curriculum Vitae. Deadline tulisan untuk edisi ketiga adalah 20 Agustus 2008. Silahkan dikirim ke crsejogja@yahoo.co.id atau gazalihatim@gmail.com

Agustus 1, 2008 at 4:41 pm Tinggalkan komentar

Islam Garis Keras Aktor Kekerasan

Keberadaan Ahmadiyah di tanah air penuh dengan nuansa kekerasan. Vonis sesat terhadap aliran yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad itu datang secara deras dari banyak pihak. Setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa sesat terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) disusul kemudian dengan keluarnya Surat Keputusan tiga menteri (SKB 3 Menteri). Karena sesat, penyerangan dan kekerasan kerapkali terjadi. Sejumlah umat Islam geram melihat teologi Ahmadiyah. Terkait dengan vonis sesat dan maraknya aksi kekerasan terhadap Ahmadiyah, Budi Hartawan dan Guntur Karyapati dari CRSe mewawancarai Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain, Direktur Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang menulis disertasi tentang Gerakan Ahmadiyah di Indonesia pada tahun 1920-1942.

Menurut penelitian bapak, seperti apa Ahmadiyah itu?

Ahmadiyah lahir sebagai gerakan keagamaan sekaligus organisasi keagamaan yang berkecimpung dalam dunia dakwah. Ahmadiyah di India tahun 1889. Ada dua persi yaitu Ahmadiyah Lahore yaitu tahun 1888 yang mendasarkan pendiriannya pada peneriaan wahtu, dan Qodiyan tahun 1889 yang melandaskan berdirinya pada pembaitan. Ahmadiyah lahir untuk mengembalikan ajaran Islam dan bisa dianut oleh banyak orang. Waktu itu, Ahmadiyah memikirkan bagaimana orang Kristen dan Hindu di India mau masuk Islam. Paham Ahmadiyah ini akhirnya tersebar ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia. (lebih…)

Juli 19, 2008 at 6:41 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


SELAMAT BERPUASA

Community for Religion and Social engineering (CRSe) mengucapkan SELAMAT BERPUASA bagi segenap umat Islam. Semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT.

Kategori

NGARSIP